PASCA TENGAH MALAM

SEBUAH CERITA ORISINAL BY ISWARA B RAHARJA

Kabut pagi masih menggantung rendah di atas atap seng berkarat rumah Ninda ketika ia mengikat rambutnya yang panjang dengan karet usang. Bau sampah basah dan tanah lembap menyengat, akrab seperti napas sendiri. Di dalam gubuk reyot yang dindingnya bolong di beberapa tempat, terdengar suara Lala, adiknya yang masih kelas 4 SD, batuk kecil. “Nin, lapar…” gumamnya lemah dari balik kelambu penuh tambalan.

“Sabar ya, Lal. Ayah baru pulang, mungkin ada rezeki hari ini,” bisik Ninda, mencoba menyemangati meski perutnya sendiri keroncongan. Ayahnya, Pak Kardi, baru saja memasukkan gerobak pemulungnya yang reyot ke pojok sempit halaman. Wajahnya yang keriput terlihat lebih lesu dari biasanya—hanya beberapa kaleng dan kardus basah yang menempel di gerobak. Napasnya berat, penuh kekecewaan yang tak terucap.

Ibu, Bu Surti, sudah sibuk mengumpulkan baju cucian tetangga yang akan ia kerjakan seharian. Matanya sayu. “Nasi tinggal segenggam, Nin. Telur cuma satu. Bagaimana kita bagi…” desahnya, suara parau penuh beban.

Ninda menelan ludah, rasa asam naik ke kerongkongan. “Aku nggak lapar banget, Bu. Buat Ayah dan Lala aja. Aku nanti… mungkin ada sisa jajan di sekolah.” Kata-kata itu terasa seperti kerikil di lidah, tapi lebih pedih melihat Lala mengusap perutnya yang keroncongan. Mereka makan pagi dengan sunyi: segenggam nasi dan sebutir telur dadar tipis dibagi tiga. Rasa lapar tetap menggerogoti, meninggalkan kekosongan yang perih.

Bagian 1 – Kehadiran yang Tak Terduga

Di SMA Cendekia, seragam Ninda yang sudah pudar dan sepatunya yang solnya menipis terasa semakin mencolok di antara teman-temannya yang lebih beruntung. Tapi hari ini, pikirannya tak sepenuhnya pada rasa lapar atau malu. Ia memandang ke bangku di sampingnya, tempat Deva duduk. Anak pindahan dari Bandung itu sudah seminggu menjadi murid di kelasnya, dan sejak hari pertama, ia memilih duduk di sebelah Ninda.

Deva itu berbeda. Seragamnya bersih dan rapi, sepatunya bagus tapi bukan merek mencolok, tasnya sederhana. Ia tidak pernah memamerkan gadget, tidak jajan berlebihan di kantin, tapi juga tidak pernah terlihat kekurangan. Ia pendiam, matanya selalu mengamati sekeliling dengan cermat, dan hanya berbicara seperlunya. Kecuali pada Ninda.

Entah mengapa, Deva selalu memulai percakapan dengannya. Tentang kesulitan rumus fisika, tentang buku puisi yang ia pinjam dari perpustakaan, tentang burung gereja yang bertengger di jendela kelas. Suaranya tenang, nadanya datar tapi matanya tajam dan penuh keingintahuan yang tulus, seolah Ninda adalah subjek yang paling menarik di ruangan itu.

Hari ini, saat bel pulang berbunyi, Deva menatap Ninda langsung.

“Ninda, aku ikut kamu pulang hari ini.” Kalimatnya datar, bukan permintaan, tapi pernyataan.

Ninda kaget, buku-bukunya hampir terjatuh. “Hah? Nggak bisa, Deva! Rumahku… jauh. Dan… berantakan banget. Bau pula.” Wajahnya memerah membayangkan Deva melihat gubuk reyot mereka, apalagi jika bertemu Ayah yang baru pulang dengan bau sampah menempel di bajunya.

“Justru aku penasaran,” kata Deva, tenang tapi bersikukuh. Tidak ada senyum, tapi keteguhan di matanya jelas. “Aku suka ngobrol sama kamu. Pengen tahu di mana kamu tinggal.” Ia sudah berdiri, menunggu dengan sikap yang tidak bisa ditolak.

Perjalanan Menuju Kebenaran

Ninda mencoba menolak lagi, berkali-kali selama perjalanan keluar sekolah dan menyusuri jalanan kumuh. Ia beralasan macam-macam: ibunya sakit, adiknya rewel, jalannya becek, bahkan tetangga galak. Tapi Deva hanya mengangguk pendek dan terus berjalan di sampingnya, langkahnya pasti, arahnya jelas menuju perkampungan kumuh di pinggiran kota tempat Ninda tinggal. Rasa malu dan panik membuncah di dada Ninda, membuat napasnya tersengal. Ia membayangkan cibiran Deva, pandangan jijik, atau bahkan rasa kasihan yang menusuk.

Mereka berjalan melewati gang-gang sempit yang becek, melangkahi selokan mampet berwarna kehitaman, melewati tumpukan sampah yang menjadi sumber nafkah Pak Kardi. Bau anyir dan busuk semakin menyengat, memenuhi rongga hidung. Wajah Ninda panas membara, tangannya berkeringat dingin.

Akhirnya, mereka tiba di depan gubuk kecil berdinding bilik bambu yang sudah lapuk, beratap seng yang bocor di beberapa tempat. Lala sedang duduk di depan, memandang dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu melihat kakaknya pulang bersama seorang cowok yang bajunya bersih dan sepatunya mengkilap.

“Lala, ini… teman kakak, Deva,” kata Ninda, suaranya kecil dan gemetar.

Deva hanya mengangguk pada Lala. “Hai, Lala.” Suaranya tetap datar, tapi tidak dingin. Matanya menyapu sekeliling: gubuk reyot yang miring, cucian yang menjemur di tali tambang yang kendur, gerobak pemulung dengan roda ompong di samping, dan hawa kemiskinan yang terasa begitu nyata dan berat, menggumpal di udara. Tidak ada ekspresi jijik, kaget, atau kasihan yang dramatis. Hanya diam dan pengamatan yang dalam, seperti seorang peneliti yang menemukan fenomena baru.

Penerimaan Tanpa Syarat

“Nin? Siapa tamu?” Suara Bu Surti terdengar dari dalam sebelum ia sendiri muncul, tangannya masih basah dari mencuci. Wajahnya terlihat kaget dan malu yang mendalam melihat Deva yang jelas-jelas bukan dari kalangan mereka. “Oh… silakan masuk, Nak… maaf, rumahnya…” Ia terbata-bata, merapikan kain sarungnya yang sudah lusuh.

“Terima kasih, Bu. Saya Deva, teman sekelas Ninda,” kata Deva dengan sopan, membungkuk sedikit. Ia melangkah masuk tanpa ragu, meski harus menunduk karena pintunya rendah. Di dalam, suasana semakin terasa sesak dan miskin. Ruangan sempit dengan perabotan seadanya yang lapuk, sisa aroma nasi dan telur dadar tipis dari pagi tadi masih tersisa, bercampur dengan bau kapur barus dan kain lembap.

Pak Kardi, yang sedang duduk lesu di kursi kayu reyot sambil memandangi gerobaknya yang kosong, mengangkat pandangan. Ada kelelahan yang mendalam dan rasa putus asa yang nyaris kasat mata di matanya.

“Selamat siang, Pak,” sapa Deva.

Pak Kardi mengangguk kaku. “Siang. Maaf, keadaan begini…” Suaranya parau, penuh beban.

Ninda ingin menghilang. Ia menyiapkan bangku kayu paling ‘bagus’—yang hanya goyang sedikit—untuk Deva, sambil berharap bumi membelah. Tapi Deva duduk dengan wajar, punggungnya tetap lurus. Ia tidak mengeluh, tidak menunjukkan rasa tidak nyaman sedikit pun. Ia malah mulai mengobrol.

Bertanya pada Lala tentang pelajaran kesukaannya, pada Bu Surti tentang teknik menyetrika dengan setrika arang yang sedang ia panaskan, bahkan pada Pak Kardi tentang fluktuasi harga besi tua. Obrolannya tidak menggurui, tidak sok tahu, tapi penuh rasa hormat dan ketertarikan yang tulus. Ia mendengarkan jawaban mereka dengan saksama, matanya tak pernah meninggalkan lawan bicaranya.

Ninda memperhatikan, rasa paniknya perlahan berubah menjadi keheranan yang dalam. Deva tidak memandang rendah. Ia melihat. Ia melihat kerja keras Bu Surti yang tak kenal lelah, ketahanan Lala yang masih bisa tersenyum, kelelahan sekaligus keteguhan di mata Pak Kardi yang terus berjuang, dan semangat Ninda yang tak pernah padam meski di sekolah ia sering menunduk.

Tindakan Tanpa Pamrih

Tanpa diminta, tanpa basa-basi, Deva tiba-tiba berdiri. Matanya tertuju pada ember besar berisi air di dekat Bu Surti, yang baru saja ia isi dari pompa tetangga untuk mencuci. Ember itu berat.

“Bu, boleh saya bantu angkat?” tanyanya, tangannya sudah bergerak memegang gagang ember sebelum Bu Surti sempat menjawab. Bu Surti tertegun, hanya bisa mengangguk bingung. Dengan tenaga yang mengejutkan untuk tubuhnya yang tampak ramping, Deva mengangkat ember itu dan menaruhnya tepat di samping bak cucian Bu Surti. “Di sini, Bu?”

“Iya, Nak… terima kasih,” gumam Bu Surti, masih tak percaya.

Deva tidak berhenti. Ia melihat beberapa potong kayu bakar berserakan di dekat tungku. Dengan gerakan efisien, ia merapikannya, menumpuknya dengan rapi di samping tungku. Kemudian, tanpa ragu, ia mengambil sapu lidi yang bersandar di dinding dan mulai menyapu lantai tanah yang berdebu di bagian depan gubuk, menyapu keluar dedaunan kering dan sedikit sampah yang terbawa angin. Ia melakukannya dengan serius, tanpa ekspresi khusus, seolah ini hal yang wajar dilakukan di rumah teman.

Ninda hanya bisa mematung, mulutnya agak terbuka. Rasa malunya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain: kagum dan kebingungan yang hangat. Ayahnya juga memperhatikan, keriput di dahinya berkerut lebih dalam, tapi ada kilatan kecil keheranan di matanya yang lesu. Lala memperhatikan Deva dengan mata berbinar, seperti melihat superhero.

Setelah menyapu, Deva meletakkan sapu kembali. Ia melihat ke arah Ninda. “Aku ke belakang sebentar, Nin. Ada warung dekat sini?” tanyanya santai.

“Ada… warteg Pak Jali di ujung gang itu,” jawab Ninda, masih bingung.

Deva mengangguk. “Oke. Aku balik cepat.” Ia melangkah keluar dengan langkah pasti, meninggalkan keluarga Ninda yang saling pandang penuh tanya.

Keajaiban Kecil yang Hangat

Sepuluh menit kemudian, Deva kembali. Di tangannya, ia membawa beberapa kantung plastik besar yang mengepul dari warteg. Aroma nasi putih hangat, ayam goreng, tempe orek, dan sayur asem yang sedap langsung memenuhi ruangan kecil itu, menutupi bau kapur barus dan kemiskinan untuk sesaat. Lala langsung mendekat, matanya berbinar. “Wah, ayam!”

Deva meletakkan plastik-plastik itu di atas meja kayu kecil yang sudah bersih dari sapuannya tadi. “Aku lapar sekali tadi habis menyapu. Mumpung lewat warteg, aku beli. Kebetulan aku bawa uang lebih hari ini. Kita makan bersama, ya?” Katanya dengan nada biasa saja, seolah membeli makanan untuk lima orang adalah hal yang lumrah. Tidak ada nada memamerkan atau mengasihani. Hanya tawaran logis: dia lapar, dia beli makanan, dan mengajak yang lain.

Bu Surti dan Pak Kardi saling pandang. Ada rasa enggan menerima, tapi aroma makanan dan keroncongan perut Lala yang terdengar jelas lebih kuat. “Nak, ini… terlalu baik…” ucap Bu Surti, suaranya bergetar halus.

“Tidak apa-apa, Bu. Aku juga ikut makan,” jawab Deva sambil sudah membuka kantung-kantung plastik, mengeluarkan bungkusan nasi dan lauk-pauk yang masih panas. Ayam goreng krispi, tempe orek kecap pedas, sayur asem segar, bahkan ada telur dadar tebal. Jauh berbeda dari sebutir telur tipis yang mereka bagi tiga pagi tadi.

Ninda terdiam, matanya berkaca-kaca. Rasa lapar yang ia tahan seharian tiba-tiba terasa sangat nyata. Tapi yang lebih kuat adalah rasa haru yang mendalam. Deva tidak hanya datang, melihat, dan merasa kasihan. Ia membantu, tanpa pamer. Ia memberi, tanpa membuat mereka merasa dikasihani. Ia hanya… ada. Dengan caranya yang tenang dan penuh tindakan.

BAGIAN 2: Makna dalam Kesederhanaan

Mereka pun duduk bersila di lantai mengelilingi meja rendah. Deva membagi nasi dan lauk dengan adil. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara sendok dan keroncongan perut yang akhirnya terpuaskan. Lala menyuap nasi dan ayam dengan lahap, pipinya mengembang. “Enak, Kak Deva!” serunya sumringah. Bu Surti mencoba menyembunyikan air matanya dengan menyuap nasi. Pak Kardi makan dengan lambat, tapi Ninda melihat ayahnya menyuap lebih banyak dari biasanya, dan ada sedikit kehangatan yang kembali ke matanya yang tadi kosong.

Deva sendiri makan dengan tenang, seperti biasa. Tapi saat matanya bertemu Ninda yang diam-diam mengamatinya, untuk pertama kalinya sejak datang, sudut bibir Deva sedikit terangkat. Bukan senyum lebar, tapi cukup untuk membuat mata Ninda yang cokelat itu melebar. Sebuah isyarat kecil, pengakuan.

Ninda mengambil suapan pertama. Nasi putih hangat dan ayam goreng yang gurih meleleh di lidahnya. Rasanya bukan hanya enak. Rasanya… hangat. Hangat dari perut yang kenyang, tapi lebih dari itu, hangat dari rasa dihargai, ditemani, dan diterima apa adanya oleh seseorang yang melihat bukan hanya gubuk reyotnya, tapi manusianya.

Saat ia menatap Deva yang sedang memilih potongan tempe untuk Lala, Ninda tahu—hari ini, di tengah segala kekurangan, ada satu hal yang melimpah: kemanusiaan yang hangat, disajikan bersama nasi warteg oleh teman sekelasnya yang misterius. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, rasa lapar itu benar-benar hilang, digantikan oleh kepenuhan yang tak terduga.

Setelah suapan terakhir nasi dan sayur asem menghilang dari piring-piring sederhana, suasana hangat masih menggantung di gubuk reyot itu. Deva membersihkan mulutnya dengan tisu sederhana yang ia keluarkan dari saku. “Permisi, Bu, Pak. Saya shalat Zuhur dulu,” ucapnya dengan tenang. Tanpa menunggu respons, ia mencari sudut yang agak lapang di pojok ruangan, jauh dari jemuran baju dalam. Dengan kain sarung sederhana yang ia bawa dalam tas kecil, ia segera membentangkannya di lantai, menghadap kiblat dengan pasti.

Gerakannya khusyuk dan penuh ketenangan, berbeda dari kebanyakan anak sebayanya. Suara lirih bacaan Al-Fatihah dan ayat-ayat pendek mengalir pelan, menambah aura kedamaian di ruang sempit itu. Ninda memperhatikan, terkesan dengan kedisiplinan dan keseriusannya.

DONGENG DAN MAKNA TERSEMBUNYI

Usai shalat, Deva merapikan sarungnya dan kembali bergabung. Matanya langsung tertuju pada Lala yang masih duduk lesehan, jari-jarinya asyik memainkan serpihan kayu di lantai. “Lala, main apa?” tanya Deva, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Lala mengangkat muka, matanya berbinar. “Nggak main apa-apa, Kak. Bosen.”

Deva mengangguk. Ia duduk bersila di lantai di samping Lala. “Gimana kalau aku cerita dongeng? Ada yang belum pernah dengar?”

“Ada!” seru Lala antusias, langsung merebahkan tubuhnya di lantai, kepala bertumpu pada lengan kecilnya, mata bulatnya menatap Deva penuh harap. “Cerita apa, Kak Deva?”

Deva berbaring juga di sampingnya, menyangga kepalanya dengan satu tangan, menghadap Lala. Ninda dan orang tuanya yang sedang membereskan sisa makan diam-diam memperhatikan. Deva mulai bercerita. Bukan dengan suara berlebihan atau ekspresi teatrikal, tapi dengan nada datar yang khas, namun pilihan katanya hidup dan deskripsinya detail.

Ia bercerita tentang seekor burung kecil yang tersesat di hutan raksasa, ketakutan dan kesepian, bertemu dengan serigala tua bijak yang sebenarnya kesepian juga. Deva hafal di luar kepala, alurnya mengalir lancar. Ia menggambarkan kegelapan hutan, desau angin yang menyeramkan, kicauan burung-burung lain yang terdengar jauh, dan rasa hampa di dada burung kecil itu. Lala terpaku, matanya lebar, napasnya sesekali tertahan saat bagian menegangkan. Ia mengangguk-angguk, sesekali bertanya dengan suara berbisik, “Terus gimana, Kak? Burungnya ketemu jalan pulang?”

UNDANGAN YANG TERSELUBUNG

Di tengah cerita, saat Deva menggambarkan burung kecil itu duduk sendirian di ranting, memandang bulan sendu, tiba-tiba Deva berhenti. Ia menatap Lala, matanya dalam dan penuh pertanyaan.

“Lala,” bisiknya, suaranya rendah tapi terdengar jelas dalam hening ruangan. “Kamu… pernah nggak, merasa kayak burung kecil itu? Kesepian? Padahal di sekeliling ada orang, tapi rasanya… sendiri?”

Lala mengerutkan kening kecilnya, memikirkan. “Kadang-kadang,” jawabnya polos. “Kalau Kak Nin lagi belajar, Ayah Ibu sibuk kerja. Aku main sendiri di sini.”

Deva mengangguk perlahan. “Hmm. Dan… pernah nggak kamu pengen banget ada seseorang yang… bener-bener mau dengerin cerita kamu? Apa aja. Cerita sedih, seneng, atau cuma hal receh yang kamu lihat di sekolah?”

Lala mengangguk lebih kencang kali ini. “Pernah! Aku pengen cerita ke Kak Nin soal ulat bulu gede yang aku lihat di sekolah, tapi Kak Nin lagi ngerjain PR susah. Jadi aku simpen sendiri.” Ada sedikit kekecewaan di suaranya.

“Berarti kamu juga punya cerita yang pengen dibagi, ya?” Deva menyimpulkan, suaranya lembut. “Itu wajar, Lal. Semua orang butuh didengar. Butuh tempat untuk cerita.”

PANAH YANG MENANCAP TEPAT

Kalimat itu, meski diucapkan pada Lala, melesat seperti panah tepat ke jantung Ninda. Ia yang sedang duduk di bangku kayu, tiba-tiba berdesir. Seluruh tubuhnya terasa dingin, lalu panas. Hatinya mencelos—berdegup kencang dan sakit sekaligus, seperti ditusuk kebenaran yang ia pendam lama.

Butuh didengar. Butuh tempat untuk cerita.

Kata-kata itu bergema dalam benaknya. Bukankah itu yang ia rasakan setiap hari? Beban kemiskinan, rasa malu di sekolah, kekhawatiran pada keluarga, impian yang ia sembunyikan rapat-rapat… semuanya ia tahan sendiri. Ia tak punya teman dekat untuk berbagi, takut dihakimi, takut merepotkan. Dan Deva… dengan percakapan sederhana bersama adiknya, seolah membuka pintu itu. Seolah berkata, “Aku di sini. Aku mau dengar.”

Pipinya yang tadi pucat karena malu, kini memerah membara. Bukan karena malu lagi, tapi karena tersentuh hingga ke dasar jiwa. Matanya berkaca-kaca, ia cepat menunduk, pura-pura memperhatikan serat kayu di lantai. Tapi getar di bahunya yang halus mungkin terlihat oleh mata Deva yang jeli.

Percakapan Deva dengan Lala itu bukan sekadar dongeng. Itu adalah kode. Sebuah undangan yang halus, penuh pengertian, untuk Ninda.

JALAN PULANG BERSAMA

Deva tidak menoleh ke Ninda. Ia melanjutkan ceritanya, tentang bagaimana burung kecil dan serigala tua akhirnya menjadi teman, saling mendengarkan cerita kesepian masing-masing, dan bersama-sama menemukan jalan pulang. Suaranya tetap datar, tapi bagi Ninda, setiap kata sekarang terasa bermakna ganda.

Ia mendengarkan, sementara hatinya yang berdesir itu perlahan mulai mencair, melelehkan tembok yang ia bangun bertahun-tahun. Mungkin, hanya mungkin, di tengah gubuk reyot dan bau sampah ini, ia akhirnya menemukan seseorang yang tak hanya melihat kemiskinannya, tapi juga mendengar bisikan sunyi di hatinya.

Dan untuk pertama kalinya, rasa kesepian itu tak lagi terasa begitu mengerikan. Ada seseorang yang, dengan caranya yang misterius dan penuh kedalaman, menyediakan telinga.

Bagian 3 – Pamit dengan Hormat

Sungkem yang Mengejutkan

Setelah dongeng usai dan Lala mengantuk di pangkuan Bu Surti, Deva melihat jam tangan sederhananya. “Saya harus pulang, Bu, Pak,” ucapnya, berdiri dengan tenang. Tapi sebelum beranjak ke pintu, ia melakukan sesuatu yang membuat seluruh keluarga Ninda terpana.

Dengan langkah pasti, Deva mendekati Pak Kardi yang masih duduk di kursi kayunya. Tanpa ragu, ia menyungkem—duduk bersimpuh dengan sopan, merapatkan kedua tangan di depan dada, lalu membungkukkan badan dalam-dalam hingga dahinya hampir menyentuh lantai tanah di depan kaki Pak Kardi.

“Terima kasih banyak sudah diizinkan berkunjung, Pak. Mohon pamit,” kata Deva, suaranya jelas dan penuh hormat.

Pak Kardi, yang wajahnya biasanya keruh, terlihat kaget luar biasa. Matanya membelalak sejenak sebelum kemudian melembut. Tangannya yang kasar dan penuh kapalan terangkat, hampir ragu, lalu dengan lembut menepuk pundak Deva yang masih membungkuk. “Iya, Nak. Hati-hati di jalan,” gumamnya, suaranya lebih hangat dari biasanya, terdengar tersendat.

Deva lalu berpindah ke Bu Surti yang sedang memangku Lala. Ia melakukan hal yang sama: menyungkem dengan dalam dan khidmat di hadapan Bu Surti. “Terima kasih banyak, Bu. Makanannya tadi enak,” ujarnya, menyelipkan pujian tulus untuk sedikit nasi dan telur yang Bu Surti sajikan pagi itu.

Bu Surti langsung mengusap-usap mata yang mulai basah. “Duh, Nak… nggak usah sungkem-sungkeman… Terima kasih ya, Nak. Hati-hati pulangnya.” Tangannya yang keriput menyentuh kepala Deva sejenak dengan penuh kasih, seperti menyentuh anak sendiri.

Deva kemudian mengangguk pada Ninda, matanya menyiratkan sesuatu yang dalam. “Sampai jumpa besok, Nin.” Ia pun melangkah keluar, menyusuri gang sempit dengan langkah tenang, menghilang di balik tikungan.

Keheningan dan Kerumunan Pertanyaan

Begitu Deva menghilang dari pandangan, gubuk itu tidak langsung hening. Sebaliknya, suasana justru meledak dalam diam. Seolah energi yang ditahan selama kehadiran Deva baru bisa dilepaskan.

Lala yang tadi mengantuk tiba-tiba melompat dari pangkuan ibunya, matanya bersinar-sinar. “Kak Deva keren banget! Kayak pangeran di dongeng! Aku suka Kak Deva, Kak Nin! Dia baik, ceritanya seru, beliin kita makan, terus sungkem ke Ayah Ibu!” teriaknya polos, melompat-lompat kecil di tempat. “Kak Nin, Kak Deva pacarnya kamu ya?!”

Ninda tersentak, wajahnya langsung merah padam. “Lala! Jangan ngomong sembarangan! Dia cuma teman sekelas!” bantahnya, tapi suaranya terdengar cempreng dan jantungnya berdegup kencang.

Bu Surti, yang masih terlihat tersentuh dan agak bingung, segera menyambar. “Nin… Nak…” panggilnya, suaranya penuh rasa ingin tahu dan harapan yang tertahan. “Dia… Deva itu… Anaknya siapa, ya? Keluarganya dari mana? Kok… berbeda sekali sama teman-temanmu yang lain?”

Pertanyaan Bu Surti menggantung. ‘Berbeda’ itu mengandung banyak arti: sikapnya, sopan santunnya yang luar biasa, caranya membantu tanpa diminta, kemisteriusannya, dan terutama, sungkem tadi. Sebuah penghormatan yang bahkan jarang ia dapatkan dari keluarga sendiri.

Belum sempat Ninda menjawab, suara berat Pak Kardi ikut menyusul, memecah keriangan Lala. Ia masih duduk di kursinya, tapi posturnya lebih tegak, matanya yang tadi lesu kini memandang Ninda dengan sorot baru.

“Ninda,” panggilnya, suaranya serius tapi tidak keras. “Cowok itu… kelakuannya njawani banget. Sopan, tahu tata krama. Jarang anak muda sekarang kayak gitu, apalagi yang kelihatannya… berada.” ‘Berada’ itu adalah istilah halus Pak Kardi untuk menyebut orang yang lebih mampu. “Dia… serius berteman sama kamu? Nggak… nggak ngeremehin?”

Pertanyaan terakhir itu penting. Ada kekhawatiran ayah yang melihat betapa rentannya posisi putrinya.

Dikepung Pertanyaan

Ninda dikepung. Di depannya, Lala masih melompat-lompat penuh tanya tentang ‘pacar’. Di sampingnya, Bu Surti memandangnya dengan mata penuh harap dan keingintahuan tentang asal-usul Deva yang misterius. Dan di belakang, ayahnya menatapnya dengan sorot tajam yang menanyakan kejujuran niat teman barunya itu. Udara di gubuk reyot itu terasa panas dan penuh tekanan.

Dia menarik napas dalam. Bagaimana menjawabnya? Apa yang dia tahu tentang Deva? Hampir tidak ada! Hanya bahwa ia pindahan dari Bandung, pendiam, tajam, dan… berbeda. Sangat berbeda. Dan hari ini, perbedaan itu diwujudkan dalam tindakan nyata yang menghangatkan sekaligus membingungkan.

“Aku… aku juga nggak tahu banyak, Bu, Pak,” ucap Ninda akhirnya, suaranya kecil. “Dia cuma bilang pindahan dari Bandung. Di sekolah, dia pendiam. Tapi… tapi dia emang selalu baik. Nggak pernah ngeremehin. Kayak… kayak dia ngelihat kita, bukan cuma ngeliat rumah kita.”

Kalimat terakhir itu keluar tulus, mencerminkan inti dari apa yang ia rasakan.

Bu Surti mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca lagi. “Orang baik, Nin. Orang berbudi.” Kata ‘berbudi’ itu diucapkan dengan penuh makna, mencakup semua kebaikan dan penghormatan yang Deva tunjukkan.

Pak Kardi menghela napas panjang, seperti melepas beban. “Hmm. Kalau gitu… jaga baik-baik pertemanan itu, Nin.” Nasihatnya sederhana, tapi berat.

Sementara Lala masih berseru, “Aku juga mau jaga pertemanan sama Kak Deva! Besok dia datang lagi ya, Kak? Aku mau dengar dongeng baru!”

Jejak yang Mendalam

Ninda hanya bisa mengangguk, pikiran dan hatinya masih bergejolak. Ia menoleh ke pintu, ke arah gang sempit tempat Deva menghilang. Siapa sebenarnya Deva? Mengapa ia melakukan semua ini? Dan yang membuat dadanya berdesir lagi… apa arti sungkem tadi, dan pertanyaan-pertanyaannya pada Lala tentang kesepian?

Di tengah keriuhan pertanyaan keluarganya, satu hal yang pasti: kehadiran Deva sore itu bukan sekadar kunjungan. Ia telah meninggalkan jejak yang dalam, mengacaukan rutinitas kemiskinan mereka dengan sentuhan kemanusiaan dan misteri yang membuat Ninda tak bisa berhenti memikirkannya.

Pipinya masih terasa hangat.

Bagian 4 – Sisi Lain yang Tersembunyi

Pagi yang Berubah Menjadi Kejutan

Pagi itu, baru lewat jam enam sepuluh, udara masih segar meski kabut pagi sudah mulai menipis. Di kelas yang masih sepi, Ninda dan Deva duduk di bangku mereka. Ninda sedang menjelaskan rumus matematika yang rumit, sementara Deva mendengarkan dengan fokus, sesekali mengangguk atau mengajukan pertanyaan singkat. Suasana tenang, hanya diisi suara mereka berdua dan kicau burung di luar jendela.

Tiba-tiba, keriuhan pecah dari arah lapangan basket. Teriakan, tepuk tangan, bunyi sepatu kets menyentak aspal, dan dentuman bola yang memantul keras memecah keheningan. Itu suara klub basket sekolah yang sedang latihan pagi untuk persiapan kejuaraan antar-SMA.

Deva, yang tadi fokus pada penjelasan Ninda, tiba-tiba mengangkat kepala. Matanya, yang biasanya tenang dan mengamati, berubah fokus dengan cepat. Ia memandang ke arah jendela, ke arah lapangan basket yang sebagian terlihat dari kelas. Ada kilatan berbeda di matanya—semacam naluri yang tiba-tiba menyala.

“Sebentar, Nin,” ucapnya pendek. Tanpa penjelasan lebih, ia bangkit dan melangkah keluar kelas dengan langkah cepat dan pasti, meninggalkan Ninda yang bingung.

Ninda mengikutinya, berhenti di ambang pintu kelas. Ia melihat Deva berdiri di pinggir lapangan, menyandarkan diri pada tiang ring basket kecil. Matanya yang tajam mengamati permainan yang kacau balau selama sepuluh menit penuh. Para pemain berlarian tanpa pola, umpan liar berujung turnover, tembakan asal-asalan. Ekspresi frustrasi jelas di wajah mereka.

Lalu, saat terjadi turnover bodoh lagi, Deva melangkah masuk. “Time out!” teriaknya, suara datarnya memotong keriuhan.

Instruksi yang Mengubah Segalanya

Semua terpana. Deva tak peduli. Ia menatap mereka, suaranya tegas: “Aduh, nggak gitu dong mainnya! Ini kelemahan dasar banget! Kalian main tanpa rencana, cuma lari-lari aja kayak orang linglung! Team A, rundingkan alur strategi! Mau serang pakai apa? Shoot 2? Shoot 3? Post move? Team B, defense apa? Zone? Man to man? Semi? Kalau nggak latih main pakai pola dan playmaker, itu namanya lomba banyak-banyakan turnover! Ayo dicoba dulu!”

Ninda hampir pingsan khawatir Deva dipukul. Tapi ajaibnya, tidak ada yang marah. Kata-kata Deva tajam, akurat, dan benar. Kedua tim langsung berdiskusi serius. Rio, sang kapten, memimpin dengan semangat baru.

Permainan yang Berubah Total

Setelah diskusi singkat, kedua tim kembali ke lapangan. Perubahannya mencolok:

Team A (Serangan): Memasang pola jelas. Ada playmaker (Rio) yang mengatur ritme. Mereka mulai menggunakan kombinasi umpan pendek dan pick-and-roll sederhana untuk membuka ruang tembakan, bukan asal lempar.

Team B (Pertahanan): Menerapkan man-to-man defense ketat. Setiap pemain tahu siapa yang harus dijaga, mengurangi kebingungan dan lubang di pertahanan. Mereka kompak, saling berteriak memberi peringatan.

Intervensi Deva: Deva tetap di pinggir, matanya seperti radar. Saat Rio bingung cari opsi umpan, Deva teriak: “Rio! Cross screen kiri! Aldo cut ke basket!” Rio memberi isyarat, screen tercipta, umpan ke Aldo, lay-up mulus! 2 poin! Saat pemain Team B terpojok, Deva berteriak: “Team B! Ball rotation! Cari yang open di wing!” Bola berpindah cepat, shoot tiga poin! Swish!

Instruksi Tepat: Deva terus memberi komando singkat dan akurat: mengingatkan tugas (“Jono, jangan lupa box out!”), memerintahkan gerakan (“Salsa, backdoor cut sekarang!”), menegur kesalahan (“Jangan double team di low post kalau nggak perlu!”). Setiap kalimat langsung mengoreksi masalah atau menciptakan peluang.

Alur pertandingan berubah drastis. Dari kekacauan, menjadi permainan basket sesungguhnya. Ada strategi, antisipasi, kerja tim. Serangan punya tujuan, pertahanan punya rencana. Kesalahan yang terjadi terlihat seperti bagian belajar, bukan kebodohan. Pertandingan jadi jauh lebih bernas, menegangkan, dan enak dilihat. Para pemain terlihat bersemangat dan puas saat pola berhasil dijalankan.

Setelah 20 menit sengit, peluit panjang berbunyi. Skor ketat: 24-22 untuk kemenangan Team A.

Kebingungan Penuh Harap

Para pemain yang lelah namun bersemangat segera bersalaman, saling menepuk punggung, tersenyum puas. Suasana persaudaraan kembali. Tapi kemudian, semua mata beralih ke Deva yang masih berdiri di pinggir, tangan disilang, wajah kembali tenang dan datar.

Keheningan canggung menyergap. Mereka bersyukur, kagum, tapi bingung. Siapa anak baru ini? Bagaimana ia bisa tahu begitu banyak? Yang jelas, tanpa instruksi tajam dan pengetahuan taktisnya, permainan takkan seseru dan sepadat tadi. Mereka sangat membutuhkannya.

Rio, sang kapten, memberanikan diri mendekat, keringat masih membasahi wajahnya. “Hei… Deva, ya? Tadi… terima kasih, ya. Seru banget latihannya.” Ia garuk-garuk kepala. “Kamu… jago banget ngeliat permainan. Pernah jadi pelatih?”

Deva menggeleng pelan. “Nggak. Cuma suka analisis.”

“O… oke.” Rio bingung, lalu melirik teman-temannya yang juga mendekat penuh harap. “Kamu… besok latihan lagi jam segini. Mau… mau datang lagi? Kasih masukan gitu?” Suaranya hampir memohon. “Kita butuh banget arahan. Pelatih sekolah jarang bisa datang pagi.”

Semua mata menancap pada Deva, menunggu. Ninda di pintu kelas juga menahan napas.

Komitmen yang Tak Terduga

Deva memandang sekeliling wajah-wajah penuh harapan itu. Wajahnya tetap datar, sulit ditebak. Udara tegang sejenak.

Lalu, dengan anggukan kecil yang hampir tak terlihat, Deva menjawab: “Boleh. Besok jam enam.”

Senandung lega dan sukacita kecil meledak dari para pemain. Rio langsung berseri-seri. “Yes! Makasih banget, Dev! Luar biasa!” Ucapan terima kasih dan tepukan kecil mengalir ke arah Deva.

Deva hanya menerima dengan anggukan kecil, tidak banyak bicara. Ia kemudian menoleh, dan matanya langsung menemukan Ninda yang masih terpaku di pintu kelas. Tatapan mereka bertemu. Di mata Deva yang biasanya dingin, Ninda melihat sesuatu yang samar: mungkin kepuasan kecil, atau pengakuan. Lalu, tanpa kata, Deva mulai berjalan kembali ke kelas, melangkah melewati Ninda, meninggalkan para pemain basket yang masih bersorak-sorai kecil di belakangnya.

Misteri yang Semakin Dalam

Ninda menatap punggung Deva yang menjauh, jantungnya berdebar kencang. Ia baru saja menyaksikan sisi lain Deva yang sama sekali tak terduga: seorang ahli taktik basket yang brilian dan pemimpin alami, bersembunyi di balik topeng anak pendiam. Jawaban sederhana “Boleh. Besok jam enam.” itu bukan hanya janji untuk tim basket. Bagi Ninda, itu seperti kunci yang membuka petualangan baru dalam misteri bernama Deva.

Siapakah sebenarnya cowok ini? Dan kejutan apa lagi yang menanti di balik ketenangannya?

Bagian 5 – Cerita di Balik Topeng

Bekal yang Dibagi

Pelajaran demi pelajaran berlalu dalam kesunyian yang berbeda bagi Ninda. Pikirannya masih berkecamuk di lapangan basket, menyaksikan Deva berubah dari anak pendiam menjadi komandan taktis yang memukau. Saat bel istirahat berbunyi, ia masih terperangkap dalam keheranannya.

Deva, seperti biasa, tidak terburu-buru. Ia membuka tasnya yang sederhana dan mengeluarkan sebuah kotak bekal berbahan stainless steel. Saat dibuka, aroma sedap langsung menyeruak: nasi goreng kuning nan gurih dengan telur ceplok mata sapi sempurna di atasnya, plus beberapa iris sosis goreng yang menggoda. Bau bawang putih dan kecap manis mengusir sementara bau kapur tulis.

Yang membuat Ninda tersentak adalah apa yang Deva lakukan selanjutnya. Ia mengeluarkan dua buah sendok plastik bersih dan dua botol air mineral Aqua kecil. Dengan gerakan wajar, ia menyerahkan satu sendok dan satu botol air ke Ninda.

“Ayo, kita makan berdua, Nin,” ujarnya, suara datarnya biasa, seolah membagi bekal adalah hal yang sudah ia rencanakan. Tidak ada basa-basi berlebihan, hanya tawaran langsung.

Ninda terpana, rasa malu dan haru bergejolak. “D-Deva… ini… buat kamu sendiri kan?” bantahnya, mencium aroma lezat yang membuat perutnya yang kosong keroncongan lebih keras.

“Kebanyakan buatku sendiri,” jawab Deva sambil sudah menyendok nasi goreng ke mulutnya. “Ayo, sebelum dingin.”

Kedekatan yang Hangat

Malu tapi juga sangat lapar dan tersentuh, Ninda pun menerimanya. Mereka duduk berhadapan di bangkunya, makan dari kotak bekal yang sama. Rasanya… luar biasa enak. Berbeda dengan rasa nasi dan telur tipis pagi tadi. Sosisnya gurih, telurnya lembut dengan kuning yang masih agak meleleh. Kehangatan makanan dan kedekatan fisik membuat Ninda sedikit lebih berani.

Sambil menyendok nasi, matanya tak sengaja menelusuri postur Deva yang duduk di hadapannya. Baru sekarang ia benar-benar menyadari: Deva itu tinggi. Sangat tinggi untuk ukuran anak SMA. Punggungnya tegap, bahunya lebar. Saat duduk pun, ia masih terlihat menjulang dibanding Ninda. Mungkin 175 atau 177 cm, pikirnya, sementara ia sendiri hanya sekitar 164 cm. Tubuh Deva ramping tapi terlihat kuat, berisi, berbeda dengan kesan ‘tidak diurus’ yang pernah ia tangkap sebelumnya.

“Deva…” Ninda memulai, suaranya kecil, malu-malu, sambil menatap nasinya. “Tadi pagi… di lapangan basket… Kamu… keren banget. Kayak pelatih beneran. Kok bisa?” Ia tak berani menatap langsung.

Masa Lalu yang Terkuak

Deva mengunyah perlahan, menelan. Matanya yang tajam memandang Ninda, lalu melayang ke luar jendela, seolah mengingat sesuatu yang jauh. Ada jeda sejenak sebelum ia berbicara, suaranya datar, tapi lebih rendah dari biasanya, seperti mengisahkan cuaca.

“Aku dulu… dewa basket.” Kalimat itu diucapkan tanpa kesombongan, hanya fakta. “Di Bandung. Juara tingkat kota, pernah masuk seleksi provinsi.”

Ninda terkesiap. Dewa basket?! Penjelasan itu masuk akal melihat pengetahuannya tadi pagi.

Tapi nada Deva berubah. Lebih berat. “Tapi…” Ia menarik napas pendek. “Aku bentrok sama anak-anak begal. Geng motor. Masalah sepele, di jalan.” Matanya sedikit menyipit, mengingat. “Mereka banyak. Lumayan, badan ada beberapa yang retak.” Ia menyentuh tulang rusuk kirinya sejenak, gerakan halus. “Aku sendiri. Mereka… mungkin empat puluh orang.”

Angka itu diucapkan datar, tapi dampaknya seperti pukulan. Empat puluh lawan satu?!

Ninda menahan napas. Sendok di tangannya berhenti. Ia bisa membayangkan kekerasan yang mengerikan.

Luka yang Tak Terlihat

Deva malah mengeluarkan suara pendek, “Hahah…” Tawa tanpa humor, pahit. “Jadi, aku lama juga pensiun dari basket. Badan perlu waktu pulih. Tapi… lebih dari badan. Kepala juga. Aku depresi.” Kata ‘depresi’ itu diucapkan lugas, tanpa drama, tapi terasa sangat dalam. “Badanku jadi nggak keurus. Males. Hilang semangat. Semua yang dulu aku suka… jadi nggak ada rasanya.”

Ia memandang botol Aqua di tangannya, memutarnya perlahan. “Daripada aku… mungkin suatu hari meninggal sia-sia di Bandung, atau jadi masalah buat keluarga, mending aku cari hidup baru aja. Di Jakarta.”

Keheningan menyergap mereka. Suara riuh kantin jauh di luar kelas terasa seperti dari dunia lain. Ninda hanya bisa menatap Deva. Rasa malu dan herannya tadi pagi kini tenggelam dalam gelombang empati dan pemahaman yang dalam. Ia melihat bukan lagi anak pendiam atau ahli taktik basket, tapi seorang pejuang yang luka, yang membawa bekas patah tulang dan depresi, yang memilih lari ke kota besar untuk memulai dari nol. Tubuh tingginya yang tegap itu menyimpan keretakan yang tak terlihat.

Percikan Api yang Kembali

Deva mengangkat sendok lagi, menyendok nasi goreng terakhir yang ada telur ceploknya. “Jadi, tadi pagi… itu pertama kalinya dalam setahun lebih aku pegang ‘urusan’ basket lagi. Aneh juga rasanya.” Ia memasukkan nasi itu ke mulut, mengunyah perlahan, matanya bertemu mata Ninda. Di dalamnya, Ninda melihat kilatan sesuatu yang kompleks: nostalgia, kepahitan, dan mungkin, sedikit percikan api yang mulai menyala kembali.

Ninda tidak tahu harus berkata apa. “Deva…” gumamnya, suaranya serak. Tapi Deva hanya mengangguk kecil, seolah mengerti semua yang tak terucap.

Mereka pun menyelesaikan makan dalam keheningan yang kini terasa berbeda—lebih dalam, lebih penuh pengertian, dan dipenuhi oleh bayang-bayang masa lalu Deva yang gelap dan keingintahuan Ninda yang membara tentang cowok tinggi pendiam yang duduk di sampingnya, membagi nasi goreng dan cerita pahitnya.

Botol Aqua kosong mereka berdiri sejajar di atas meja, saksi bisu dari percakapan yang mengubah segalanya.

Bagian 6 – Bakat Tersembunyi

Keributan yang Memecah Keheningan

Suasana istirahat yang sempat hening setelah percakapan berat Ninda dan Deva tiba-tiba dipecah oleh keributan di belakang kelas. Empat anak—Sania (drum), Maya (bass), Erick (gitar ritem), dan Denny (keyboard)—berdebat panas di sekitar meja mereka. Suara mereka memenuhi ruangan.

“Udah dibilang kita harus latihan lagu-lagu pop aja biar laku di pentas seni! Metal susah dimengerti!” teriak Maya, wajahnya memerah.

“Pop itu ngebosenin! Kita band, bukan penyanyi dangdut!” balas Erick, menepuk meja. “Lagipula, kita gak punya vokalis, jadi instrumental aja!”

“Tapi instrumental tanpa gitar lead bagaikan sayur tanpa garam!” sela Denny, frustrasi. “Dan gue di keyboard nggak bisa nutupin semua suara!”

“Masalah utamanya kita nggak punya gitar lead DAN vokal, Den! Gimana mau latihan serius?” keluh Sania, memukul pelan permukaan meja seperti memukul drum. “Kita cuma bisa ribut mulu!”

Analisis yang Tajam

Deva, yang sedang meminum sisa air Aqua-nya, tidak menoleh. Tapi telinganya menyipit sedikit, matanya yang tajam sedikit terpejam. Mereka ribut sangat keras, tidak mungkin tidak terdengar. Ninda memandang keributan itu, lalu memandang Deva yang tampak tenang namun memperhatikan.

Ributannya terus berlanjut, berputar-putar di masalah yang sama: selera musik yang bentrok dan kekurangan personel krusial. Semakin lama, nada suara mereka semakin tinggi, penuh frustrasi dan saling menyalahkan.

Tiba-tiba, suara datar Deva memotong keriuhan, tenang tapi memotong: “Udahlah.”

Semua kepala, termasuk Ninda dan keempat anak band, menoleh ke Deva. Dia baru saja berbicara. Deva menoleh perlahan, menghadap mereka. Wajahnya biasa, tidak marah, tapi ada otoritas alami di matanya.

“Nggak ada gunanya kalian berantem dengan angin. Band itu harus solid. Titik.” Kalimatnya pendek, tegas, seperti palu godam yang memukul paku.

Investigasi Mendalam

Mereka tertegun. Deva melanjutkan, suaranya tetap datar namun jelas, menunjuk langsung ke Sania:

“Drum loe. Main kayak siapa? Influence loe apa? Lagu favorit apa? Ketukan tempo berapa dan pattern drum apa yang lu paling demen?”

Sania, si drummer garang, kaget. Tapi pertanyaan langsung dan teknis itu membuatnya menjawab reflek, cepat dan penuh semangat: “Travis Barker! Blink-182! Lagu favorit ‘Feeling This’! Tempo sekitar 140 BPM, demen pattern punk rock straight beat campur fill di setiap akhir bar!”

Deva mengangguk sekali, lalu menunjuk Maya si bassist: “Maya. Pertanyaan sama buat loe. Plus, prefer slap or non slap? Fretless or traditional? Bassist idola?”

Maya melotot, lalu menjawab: “Geddy Lee, Rush! Lebih suka non-slap, traditional bass! Idola ya Geddy Lee dan Flea! Lagu favorit ‘YYZ’!”

“Erick,” Deva beralih ke gitaris ritme. “Aliran loe apa? The Edge atau Satriani? Tom Morello atau Stevie Ray? Best song?”

Erick, yang tadi ngotot soal metal, menjawab dengan bingung: “Ehh… lebih ke Tom Morello sih, RATM. Tapi demen juga teknik Satriani. Best song… ‘Killing in the Name’ atau ‘Summer Song’.”

Terakhir, “Denny. Keyboard. Lu prefer piano atau organ? Megah atau minimalis? Orkestra atau catchy beat?”

Denny menjawab: “Lebih suka organ sound kayak Jon Lord (Deep Purple), suka yang megah, campur orkestra!”

Solusi yang Brilian

Deva diam sejenak. Matanya memandang kosong ke depan, seperti komputer yang sedang memproses data. Hanya beberapa detik. Lalu, dengan suara yang sama datar namun penuh keyakinan, ia merumuskan:

“Oke. Kalian semua punya dasar kuat di rock. Sania punk-rock drumming, Maya bass rock-prog, Erick rhythm heavy/alternative, Denny keyboard rock symphonic. Titik temu terkuat: Progressive Rock atau Alternative Rock dengan sentuhan teknis dan energi tinggi. Bisa cover Rush, RATM dengan aransemen keyboard, atau bikin lagu ori yang gabungkan unsur-unsur itu. Fokus pada komposisi instrumental yang kompleks tapi punchy, manfaatkan keunikan masing-masing instrumen. Denny bisa isi ruang melodi yang kosong dari lead guitar sementara.”

Keempat anak band itu hanya bisa melongo. Terkagum-kagum. Rumusannya cepat, tepat, dan terdengar masuk akal. Ia tidak memihak genre, tapi menemukan titik temu berdasarkan kekuatan mereka. Bahkan Sania yang keras mengangguk pelan.

Tapi Maya menggeleng, wajahnya kembali muram. “Masalahnya, Deva… teori bagus! Tapi realitanya kita gak punya lead guitar DAN vocal! Siapa yang mau isi? Kita tetep mentok!”

Kejutan yang Menggelegar

Deva menatap Maya, lalu memandang sekeliling keempat wajah yang kembali putus asa itu. Kemudian, ia berkata dengan nada paling datar sepanjang hari, seperti membicarakan cuaca:

“Gw bisa isi dua spot itu. Lead guitar dan vokal.”

DENTUM!

Efeknya seperti bom. Ruangan kelas yang ramai itu mendadak hening total. Sania menjatuhkan stick drum imajinasinya. Maya terbelalak. Erick berdiri setengah. Denny mulutnya menganga lebar. Bahkan Ninda di samping Deva nyaris menjatuhkan botol Aqua kosongnya. Matanya membelalak tak percaya, menatap profil Deva yang tenang.

Deva? Main gitar lead? Dan nyanyi? Pikiran itu berputar kencang di kepala semua orang. Anak pendiam, misterius, mantan ‘dewa basket’ yang depresi itu… bisa musik juga? Dan berani klaim bisa mengisi dua peran krusial sekaligus?

“L-Loe… serius, Dev?” Erick akhirnya bisa bicara, suaranya serak.

Deva hanya mengangguk sekali, pendek. Matanya yang tajam memandang mereka, menantang sekaligus tenang. “Coba aja dulu latihan bareng. Besok sore. Kalian tentuin lagu yang sesuai analisis tadi.”

Kepergian yang Meninggalkan Tanya

Ia lalu berdiri, mengambil kotak bekal kosong dan botolnya. Sebelum pergi ke wastafel, ia menoleh ke Ninda, yang masih terpaku. “Ayo, Nin. Kita cuci kotaknya.”

Ninda hanya bisa mengangguk kaku, bangkit dengan kaki gemetar, mengikuti Deva yang melangkah tenang meninggalkan keempat anak band yang masih terpana dan bungkam, tenggelam dalam kejutan terbesar hari itu.

Misteri Deva semakin dalam, dan kini ia bukan hanya ahli taktik basket, tapi juga calon frontman band yang mengklaim bisa memecahkan masalah terbesar mereka dengan dua kalimat sederhana.

Bagian 7 – di Atas Panggung

Tantangan yang Tak Terduga

Maya menatap Deva dengan sorot penuh tantangan, lalu berbisik kencang ke yang lain: “Gaes, ini anak baru ngomongnya jago banget. Mumpung di lapangan upacara ada alat musik full set kepasang buat acara besok, lengkap sama ampli! Daripada kita nanti masuk studio latihan habis 200 ribu sia-sia, gimana kalau kita nge-jam aja sekarang?!”

Mata Sania, Erick, dan Denny berbinar setuju. “Iya! Tes moncongnya langsung!” desis Erick.

Maya menoleh ke Ninda. “Nin, loe kan ketua kelas! Mintain izin ke Bu Susana guru seni! Bilang aja kita mau latihan satu lagu buat ngisi jam kosong pelajaran Seni nanti! Ngibul dikit gapapa lah!”

Ninda ragu. Matanya beralih ke Deva. Apakah ini ide bagus? Apa Deva tidak akan kewalahan? Tapi Deva hanya menatapnya balik. Matanya yang tajam tak menunjukkan keraguan, hanya ketenangan dan… tantangan? Seolah berkata, “Percayalah.”

Instruksi Kilat yang Terstruktur

Sebelum Ninda memutuskan, Deva sudah bergerak. Suaranya datar tapi memotong:

“Oke, konsep cepat. Sania,” ia menatap drummer. “Drum intro: double pedal kick ringan 4 ketuk, masuk snare roll medium, terus straight beat punk-rock 130 BPM. Chorus: tambah hi-hat terbuka di ketukan 2 dan 4. Bridge: pakai fill triplet. Outro: pukul crash cymbal tiap ketukan terakhir per bar sampai fade.” Deva menyontohkan ritmenya dengan suara mulut: “Dug dug-dug dug, tss-tss-tss-BOOM! Chk-chk-BOOM-chk!” Sania terbelalak, tapi angguk cepat.

“Maya,” lanjut Deva ke bassist. “Main root note dulu di verse. Chorus masuk pattern walking bass naik turun 4 not. Bridge: slap sederhana, 3 kali. Jaga groove, jangan kecepatan.”

“Erick,” ke gitar ritme. “Power chord di verse, downstroke aja. Chorus: arpeggio cepat pakai palm mute. Bridge: riff distortion tebal, mirip Tom Morello.”

“Denny,” ke keyboardis. “Intro: string synth sustain tinggi. Verse: organ sound tipis. Chorus: layer pad tebal plus brass staccato. Bridge: solo synth pendek, nada minor.”

Mereka semua mengangguk seperti robot, otak mencerna instruksi kilat itu. Deva lalu berbalik, melangkah ke papan tulis. Ia menyambar spidol merah dan mulai menulis dengan cepat, huruf-hurufnya tegas dan rapi. Judulnya: MENGUDARA.

Lirik yang Mengalir

Bait 1

Seragam putih abu telah terlipat rapi
Buku-buku usang kini berdebu sepi
Kenangan tiga tahun terukir di hati
Kini saatnya melangkah, tak lagi menanti

Bait 2

Dunia luas terbentang di depan mata
Mimpi-mimpi besar mulai bersuara
Takut dan ragu bercampur bahagia
Langkah pertama menuju dewasa

Reff

Mengudara, terbang tinggi
Tinggalkan zona yang dulu kami kenal
Mengudara, berani pergi
Wujudkan mimpi yang tak terbendung lagi

Dunia menunggu, masa depan memanggil
Saatnya kita… mengudara!

Bait 3

Orangtua berpesan dengan mata berkaca
“Jangan lupa asal, tetap rendah hati”
Sahabat berjanji walau terpisah jarak
Persahabatan sejati takkan terganti

Bait 4

Universitas, kerja, atau berwirausaha
Setiap pilihan punya cerita
Yang penting berani ambil keputusan
Jangan biarkan hidup hanya jadi bayangan

Reff (x2)

Mengudara, terbang tinggi…
… Saatnya kita… MENGUDARA!

Di bawahnya, Deva tulis: Genre: Pop Rock/Alternative. Tempo: 130 BPM. Tema: Graduation, Moving Forward.

Reaksi yang Luar Biasa

Anak-anak band hanya bisa melongo. Lirik utuh, dalam, dan relatable untuk anak SMA, tercipta dalam 2 menit! Sania berseru, “GILA! Ini lagu bagus banget!” Denny menambahkan, “Aransemennya udah kepikir semua!” Bahkan Maya, yang paling skeptis, mengangguk pelan, kagum.

Ninda, melihat ini, tarik napas dalam. “Aku ke Bu Susana!” Ia berlari keluar.

Lima menit kemudian, Ninda kembali, napas terengah. “Dibolehin! Cuma satu lagu, Bu Susana lagi rapat, bilang jangan berisik!”

Itu saja yang mereka butuhkan. “Ayo! Ke panggung!” teriak Erick. Mereka berhamburan keluar kelas, memboyong Deva seperti komandan. Berita menyebar cepat. Anak-anak lain penasaran, ikut keluar memenuhi pinggir lapangan upacara. Panggung kecil memang sudah siap: drum set, bass amp, gitar amp, keyboard, mic stand, semua terpasang.

Izin dari Kepala Sekolah

Saat mereka naik panggung, Kepala Sekolah (Pak Haryono) yang kebetulan lewat langsung menegur: “Hoi! Ini mau apa? Ribut-ribut!”

Ninda cepat menghadap. “Permisi, Pak! Kami latihan satu lagu buat ngisi jam kosong Seni besok. Sudah izin Bu Susana, Pak. Cuma satu lagu, janji!”

Pak Haryono mengerutkan kening, lihat anak-anak yang sudah siap di alat musik dan Deva yang sedang menyetel tuning gitar listrik. “Baik. Satu lagu. Jangan berisik berlebihan!” Ia pun berdiri di samping, tangan disilang, penasaran.

Suasana tegang. Puluhan pasang mata menonton. Deva, dengan gitar listrik tersampir di badan, mendekati mic. Ia menoleh ke band, angguk singkat. “130 BPM. Intro. Aku hitung. Satu… dua… tiga… EMPAT!”

Ledakan Musik!

Sania: Double pedal kick dan snare roll persis seperti instruksi, lalu straight beat energik!

Denny: String synth sustain mengalun megah, membangun atmosfer.

Deva (Gitar): Jari-jarinya menari di fretboard! Riff power chord tebal dan clean, tekniknya sempurna—bukan sekadar bisa, tapi mahir. Bend, vibrato, palm mute, semuanya presisi.

Lalu Deva (Vokal) membuka Bait 1:

Suaranya keluar—jernih, berkarat sedikit di nada rendah, penuh perasaan, tapi bertenaga. Ia menyanyi dengan mata terpejam setengah, seperti menghayati setiap kata. Ninda terpana. Ini suara yang sama sekali berbeda dari suara datar sehari-hari! Penuh emosi, kuat, dan menggetarkan.

Maya (Bass): Masuk dengan groove solid, mengikuti instruksi walking bass di chorus. Mukanya sumringah, ia merasakan musiknya.

Erick (Gitar Ritme): Downstroke dan arpeggio mengisi ruang dengan rapi.

Klimaks yang Memukau

Saat Reff tiba, Deva mengangkat suara tinggi dengan penuh keyakinan dan dorongan. Ia memainkan solo gitar singkat di sela vokal—lick cepat dan melodis yang membuat Erick melongo. Penonton mulai tepuk tangan mengikuti irama.

Bait 3: Deva menyanyikan pesan orang tua dengan haru yang tulus. Ninda merasa dadanya sesak. Lirik itu menyentuh hatinya yang juga penuh beban.

Bridge: Sania memukul fill triplet, Maya memberi tiga slap bass kencang, Denny solo synth minor pendek yang haunting, dan Deva menggeramkan riff distortion ala Rage Against The Machine sambil menyanyikan lirik tentang mengambil keputusan. Energinya meledak!

Reff Terakhir: Semua alat musik bermain maksimal. Deva menyanyikan dengan suara serak penuh pasion, sambil melakukan power chord akhir yang panjang dan sustain. Ia mengangkat tangan, mata terbuka lebar, menatap langit—sosok yang sama sekali berbeda dari anak pendiam di kelas: Seorang frontman yang karismatik, berbakat, dan penuh api.

Dentuman akhir!

Transformasi yang Sempurna

Hening sejenak… lalu…

TEPUK TANGAN GEMURUH membahana! Dari anak-anak band yang terkagum-kagum, dari puluhan siswa yang berkerumun, bahkan dari Pak Haryono yang tersenyum lebar dan ikut tepuk tangan! “Luar biasa!” teriak seseorang. “Anak baru jenius!” teriak yang lain.

Di panggung, Sania memeluk Deva. “LOE DEWA BENERAN, DEV!” Erick dan Denny saling tos, gembira. Maya mendekat, matanya berkaca-kaca. “Maaf… gw salah sangka. Lu… luar biasa.”

Tapi Ninda hanya bisa berdiri di pinggir panggung, tangan menutup mulut. Matanya berkaca-kaca bukan hanya karena lagu yang indah, tapi karena transformasi Deva. Ia melihat kebangkitannya. Dari depresi dan luka di Bandung, melalui ketenangan misteriusnya, kini ia berdiri di sini, mengudara dengan bakatnya yang menyala-nyala.

Di balik tubuh tinggi yang pernah retak, tersimpan jiwa seniman yang kuat. Dan Ninda tahu, pagi ini bukan cuma ujian untuk band. Ini adalah momen di mana Deva benar-benar mulai terbang, dan hatinya ikut berdesir terbang bersamanya.

Deva menatapnya dari panggung, dan untuk sesaat, senyum kecil yang tulus—bukan datar—menghiasi bibirnya.

Bagian 8 – Viral dan Tetap Membumi

Kehebohan yang Tak Terduga

Suasana kacau di koridor SMA Cendekia. Bukan karena keributan biasa, tapi karena desas-desus yang menyebar lebih cepat dari api. “Gue lihat tadi! Di TikTok! Viral!” “Deva main gitar sambil nyanyi keren banget!” “Itu lagu ‘Mengudara’ bikin merinding!” “Sania di drum gila!” “Maya bass-nya kencang!”

Ternyata, di tengah kerumunan tadi, salah satu siswa diam-diam mengarahkan HP-nya ke panggung dan live streaming di TikTok. Performa dadakan, penuh energi, dan lagu orisinal yang langsung nendang itu menyambar perhatian netizen. Saat bel pulang sekolah berbunyi, video itu sudah meledak: 2 juta views! Hashtag #MengudaraBand dan #DevaFrontman mulai trending.

Komentar berhamburan:

“Anak baru ini DARK HORSE banget! Suara & gitarnya juara!”

“Lagu ‘Mengudara’ bikin mewek 😭 So relatable buat anak kelas 12!”

“Shoutout buat drummer ceweknya! Keren Sania! 💪”

“Bassistnya cool! Groove-nya nendang! Maya mantap!”

“Keyboardis ngisi atmosfernya pas banget! Denny the unsung hero!”

“Gitar ritme Erick solid! Dukung band lokal!”

“Lagu ori bagus, aransemen keren, penampilan natural… JEMPOL! 👏”

Yang mengejutkan, pujian tidak hanya tertuju pada Deva. Komunitas musik TikTok justru mengapresiasi soliditas dan keunikan masing-masing member. Sania, Maya, Erick, Denny—mereka semua dapat sorotan. Wajah mereka berseri-seri, tak percaya diri mereka ‘dilihat’ dan dihargai. Mereka dikerubungi teman-teman yang minta foto dan tanda tangan, sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Reaksi yang Berbeda

Si pengunggah video, Aldi, terlihat panik sekaligus senang. “Gue kagak nyangka bakal segini viralnya, guys! HP gue bunyi terus!” teriaknya sambil tertawa gugup.

Deva? Ia diam. Sama sekali tidak terpengaruh keriuhan. Ia hanya mengamati kerumunan dari kejauhan, wajahnya tetap datar, tak ada kesombongan atau euforia. Saat Ninda mendekat, masih terlihat agak limbung oleh situasi, Deva hanya menatapnya.

“Pulang?” tanyanya singkat, seperti biasa.

Ninda mengangguk, masih memandangi kerumunan di sekitar anggota band yang sedang jadi selebriti dadakan. “Tapi… lihat itu, Dev. Kamu viral. Semua orang cari kamu.”

Deva menyampirkan tas ke pundak. “Nggak penting. Ayo pulang.” Kalimatnya pendek, tegas. Popularitas online sama sekali bukan prioritasnya.

Kembali ke Realitas

Mereka pun berjalan keluar sekolah, menyusuri gang-gang sempit menuju perkampungan kumuh. Kontrasnya menyentak: dari dunia digital yang gemerlap dengan 2 juta views, langsung kembali ke realitas becek, bau sampah, dan gubuk reyot. Tapi Deva melangkah dengan tenang, tak terburu-buru, tak malu. Ia menemani Ninda seperti biasa.

Sesampainya di depan gubuk, aroma nasi aking dan sayur sederhana sudah menyeruak. Lala langsung menyambut dengan cerita heboh. “Kak Nin! Kak Deva! Kata temanku tadi ada video Kak Deva nyanyi keren banget di internet! Katanya banyak banget yang lihat!”

Deva hanya mengangguk pada Lala. “Iseng aja tadi.”

Bu Surti keluar, matanya berbinar penuh pertanyaan. “Nak Deva… tadi ibu dengar dari tetangga… katanya kamu main musik bagus sekali sampai ramai di telepon genggam?”

Deva membungkuk sedikit. “Iya, Bu. Kebetulan saja.”

Kesederhanaan yang Berarti

Mereka masuk. Di meja kecil, hanya ada nasi aking hangat dengan tumis kangkung dan sepotong kecil tempe. Kemiskinan yang nyata. Tapi Deva duduk dengan natural, berterima kasih, dan mulai makan seperti biasa. Tidak ada cerita tentang viralitas, tentang pujian, atau tawaran yang mungkin sudah berdatangan di DM TikTok-nya.

Ninda memperhatikan Deva yang makan dengan tenang. Di tengah gubuk yang sederhana, setelah hari yang begitu luar biasa, Deva memilih kesederhanaan ini. Ia memilih menemani Ninda pulang, makan nasi aking, dan diam. Popularitas 2 juta views tak mengubah caranya memandang Ninda dan keluarganya.

“Deva,” bisik Ninda akhirnya, suara kecil di tengah senyap. “Tadi… kamu luar biasa. Dan… terima kasih, masih mau pulang ke sini.”

Deva menatapnya. Matanya yang tajam itu kini lembut. “Di sini lebih enak. Tenang.” Ia menyendok nasi aking. “Dan nasi aking buatan Bu Surti selalu enak, Nin.”

Kesetiaan yang Menghangatkan

Pipinya memerah lagi. Di luar, dunia maya mungkin masih ribut membicarakan #DevaFrontman dan lagu ‘Mengudara’. Tapi di dalam gubuk reyot ini, hanya ada kehangatan nasi sederhana dan kehadiran seorang anak lelaki misterius yang memilih kesetiaan dan ketenangan di atas segala gemerlap.

Bagi Ninda, itulah yang paling berarti. Deva mungkin mengudara di panggung dan TikTok, tapi ia tetap membumi di sampingnya. Dan itu yang membuat hatinya, sekali lagi, berdesir kencang.

Bagian 9 – Fajar dan Kebangkitan Sang Deva

Pagi yang Lebih Awal

Pukul 05.30 WIB: Fajar & Fundamental

Kabut pagi belum sepenuhnya lenyap ketika Deva sudah berdiri di tengah lapangan basket SMA Cendekia. Bayangannya panjang di aspal yang masih lembap. Para pemain—masih mengantuk, menguap, dan mengusap mata—berkumpul pelan. Rio, sang kapten, terlihat kaget. “Dev? Loe datang jam berapa?”

“Jam lima,” jawab Deva datar, menggiring bola dengan ritme konstan. Thump. Thump. Thump. Suaranya memecah kesunyian pagi. “Waktu latihan terbatas. Kita mulai.”

Tak ada basa-basi. Tanpa pemanasan panjang, Deva langsung masuk ke inti. Ia membagi pemain menjadi dua kelompok kecil.

Pola Dasar Pertama

“Pola dasar pertama: Pick and Roll Keluar untuk Tembak Tiga Angka,” suaranya memotong udara dingin. “Rio, loe jadi ball handler. Aldo, loe set screen.”

Ia mendemonstrasikan:

  • Aldo mendekat, membentuk screen (tembok hidup) di samping bek Rio.
  • Rio menggunakan screen, membuat body fake seolah akan menerobos ke dalam. “Ini kunci! Jangan langsung kabur! Freeze bek sebentar dengan fake!” teriak Deva. Bek yang mengejar Rio terpaku, mengira Rio akan drive.
  • Tapi Rio malah mundur cepat dua langkah ke belakang garis tiga angka, melepas diri dari screen. Aldo segera “roll” menjauh.
  • Rio open! Tembakan tiga angka mulus.

“Lihat? Body fake itu bohongin musuh. Mereka mikir loe mau masuk, eh loe malah keluar buat tembak tiga. Simple, tapi mematikan kalau timingnya benar,” Deva menjelaskan. “Sekarang ganti peran. Ulangi 20x per pasangan. Fokus pada kecepatan mundur dan akurasi tembakan.”

Lapangan segera riuh rendah dengan teriakan “Screen!”, bunyi sepatu menyentak, dan swish bola masuk jaring. Deva berkeliling, mengoreksi postur, kecepatan, dan ketepatan body fake. “Jangan kaku! Feint itu harus natural, kayak beneran mau masuk!”

Pola Kedua yang Lebih Kompleks

Pola Kedua: Pick and Roll Dilepas, Switch & Lay-up.

“Variasi,” lanjut Deva. “Sekarang, screen-nya cuma pancingan. Rio, pakai screen Aldo, tapi jangan terlalu lekat. Sentuh aja, lalu eksplosif drive ke dalam!”

Deva memperagakan: sentuhan singkat pada screen, lalu akselerasi kilat menuju ring, memaksa bek yang menjaga Aldo harus switch menjaga Rio.

“Masalahnya,” Deva menatap Aldo, “setelah set screen, loe jangan diam! Roll kuat ke ring! Kalau bek Aldo switch ke Rio, loe jadi open dekat ring! Rio, kalau ada dua bek ngejar loe, loe lihat Aldo! Oper ke dia buat lay-up gampang!”

Pola ini lebih kompleks. Butuh chemistry dan komunikasi. “Rio, teriak ‘SWITCH!’ kalau loe lihat bek Aldo pindah ke loe! Aldo, siap-siap terima operan atau rebound!” Deva tak henti mengingatkan. Mereka berulang kali gagal, salah komunikasi, operan meleset. Tapi Deva sabar, terus mengulang prinsip: Body fake awal, kecepatan drive, komunikasi vokal, finishing cerdas.

Membangun Sensitivitas & Pola Tambahan

Setelah pick and roll dikuasai dasar-dasarnya, Deva meningkatkan level:

Membaca Pola: “Sekarang, defense-nya boleh bereaksi bebas. Pemain serang, kalian harus baca: Apakah defense hedge? Switch? Blitz? Sesuaikan gerakan! Kalau di-blitz, cari passing lane ke pemain open!”

Cutting: “Gerakan tanpa bola penting! Salsa, latihan backdoor cut kalau bek loe overplay. Jono, curl cut ke sudut tiga angka kalau ada ruang. Timing! Jangan asal lari!”

Double Team Lawan Dominan: “Bayangkan lawan punya pemain ISO jago kayak… sebut saja LeBron sekolah lain,” ujar Deva, sedikit sarkastik. “Kalau dia bawa bola di post atau wing, jangan ragu double team TAPI jangan sembarangan! Yang terdekat langsung jegal, yang satu lagi siap potong passing lane-nya! Jangan biarin dia ngoper gampang!”

Keahlian yang Mencengangkan

Pengetahuan Deva mencengangkan. Ia tak hanya tahu istilah, tapi alasan di baliknya. Ia bisa menjelaskan mengapa zone defense rentan di sudut tertentu, mengapa man-to-man butuh komunikasi ekstra, atau bagaimana memanfaatkan kelemahan spesifik lawan. Seolah ia menghafal buku teks strategi basket dan menerapkannya dengan cair.

Pukul 06.45 WIB: Kesimpulan & Kembalinya Sang “Dewa”

Latihan berakhir. Para pemain terkapar lelah tapi wajah mereka bersinar. Ada pemahaman baru di mata mereka. Rio mendekat, napas terengah, tapi senyum lebar. “Dev… gila. Loe bener-bener… beda level. Kayak pelatih profesional.”

Deva menyeka keringat di dahinya. “Masih dasar banget. Tapi progress bagus buat hari pertama serius.” Ia memandang sekeliling. “Besok jam lima lagi. Siapkan kaki dan otak. Kita latihan transisi defense ke offense.”

Momen Kebangkitan

Ia mengambil botol air, minum pelan. Ninda, yang sudah tiba lebih awal dan diam-diam memperhatikannya dari bangku cadangan, merasakan sesuatu yang berbeda. Di sinar matahari pagi yang mulai hangat, melihat Deva dengan bola di pinggang, meneriakkan instruksi, matanya fokus dan penuh gairah… ini adalah sisi lain yang bahkan lebih dalam dari musisi kemarin.

Ini adalah sang “Dewa Basket” yang perlahan bangkit dari patahan tulang dan depresinya. Bukan sekadar bermain, tapi memahami, mengajari, dan memimpin.

Deva menangkap pandangannya. Ia mengangguk kecil. Tak ada kata-kata besar, tak ada kesombongan. Tapi di balik keringat dan napas beratnya, Ninda melihat percikan api yang mulai membara lagi. Api yang mungkin sempat padam di jalanan Bandung, kini menyala kembali di lapangan basket SMA Cendekia, diterangi fajar dan ditemani desir bola yang ritmis.

Dan bagi Ninda, menyaksikan kebangkitan ini, perlahan namun pasti, adalah keajaiban pagi yang paling berharga.

Bagian 10 – Negosiator yang Tak Terduga

Kejutan di Kantor Kepala Sekolah

Pukul 13.30 WIB

Suasana kelas 1C yang sedang lesu menunggu bel pulang tiba-tiba pecah. Bu Susana muncul di pintu, wajahnya campur aduk antara kaget dan bersemangat. “Anak-anak… yang main band kemarin? Sania, Maya, Erick, Denny… dan Deva? Cepat ke ruang kepala sekolah! Ada tamu penting dari studio rekaman mau ketemu kalian!”

Sontak, kelas meledak! “Hah?! Studio rekaman?!” “Beneran?!” “Wah, kita bakal rekaman?!” Sania nyaris menjatuhkan bukunya. Maya dan Erick saling pandang tak percaya. Denny wajahnya pucat. Deva, yang sedang mencatat sesuatu di buku, hanya mengangkat alis, lalu menutup bukunya dengan tenang.

Dengan langkah gontai—setengah excited, setengah takut seperti menuju pengadilan—mereka berlima berjalan menyusuri koridor menuju kantor kepala sekolah. Ninda, yang jantungnya berdegup kencang untuk mereka, hanya bisa memandang dari belakang. Di depan kantor, terparkir sebuah mobil hitam mewah yang asing. Udara tegang.

Tawaran yang Menggiurkan

Di dalam, selain Pak Haryono yang duduk di belakang mejanya, ada dua wanita muda berpakaian profesional dan satu pria berkacamata tebal. Mereka duduk di sofa, tersenyum ramah tapi mata mereka tajam, mengamati anak-anak band yang masuk dengan gugup.

“Silakan duduk,” sapa Pak Haryono. “Ini perwakilan dari ‘Harmoni Studio’, salah satu studio rekaman independen ternama. Mereka tertarik dengan… penampilan kalian kemarin.”

Wanita yang lebih tua, berambut pendek rapi, memperkenalkan diri. “Saya Dian, manajer A&R. Ini rekan saya, Citra dan Pak Anton, produser. Kami melihat video ‘Mengudara’ kalian yang viral. Sangat fresh, energi bagus, lagu orisinalnya powerful. Kami ingin menawarkan kalian kontrak rekaman.”

Dian mengeluarkan selembar kertas, meletakkannya di meja. “Kami tawarkan kontrak untuk rekaman 10 lagu. Nilai kontrak… 200 juta rupiah. Termasuk biaya produksi, studio, mixing-mastering, dan distribusi digital.”

“DUA RATUS JUTA?!” Sania nyaris tercekik. Erick menggenggam tangan Denny yang gemetar. Maya mencoba tetap cool, tapi matanya berbinar. Jumlah itu terdengar seperti mimpi bagi anak-anak SMA biasa. Mereka saling pandang, hampir ingin langsung bilang “Iya!”. Pak Haryono terlihat terkesan.

Penolakan yang Mengejutkan

Tapi sebelum ada yang sempat bereaksi, suara datar memotong keheningan yang penuh harap itu.

“Tolak.”

Semua kepala menoleh tajam ke Deva. Ia duduk tegak di ujung sofa, wajah tenang, matanya menatap langsung Dian.

“Maaf?” Dian tersenyap, tak percaya.

“Saya bilang, tolak. Tawaran itu tidak menarik,” ulang Deva, suaranya jernih dan tegas, tanpa nada tinggi. Ruangan mendadak beku. Sania memandang Deva seperti melihat orang gila. Maya menggigit bibir. Pak Haryono mengerutkan kening.

Dian mencoba tetap profesional. “Oh? Bisa dijelaskan kenapa, Mas Deva? Ini standar untuk band baru…”

Analisis yang Brilian

Deva menyela, “Karena kami bukan band ‘baru’ biasa. Lagu ‘Mengudara’ yang demo dadakan itu sudah dapat 2 juta views organik dalam sehari. Potensinya jelas. 200 juta untuk 10 lagu? Itu harga demo, bukan harga artis dengan potensi viral.” Argumennya logis, dingin, seperti analis bisnis.

Dian dan Citra saling pandang. Anton si produser menyipitkan mata, penasaran. “Lalu, menurut Mas Deva, harga yang ‘adil’ berapa?” tanya Dian, nada diplomatis.

Deva tidak ragu. “Empat ratus juta. Untuk 8 lagu.”

“Apa?!” Kali ini bukan hanya Sania, tapi hampir semua orang di ruangan itu ternganga. Naik 100% untuk lagu yang lebih sedikit! Itu negosiasi yang berani dan tidak lazim!

“Mas Deva, itu sangat tidak standar…” protes Dian.

“Standar itu buat yang tidak punya leverage,” sergah Deva, masih tenang tapi memotong. “Kami punya leverage: viralitas, lagu orisinal kuat, dan saya yakin, 8 lagu berikutnya akan lebih bagus. Empat ratus juta untuk hak distribusi dan reproduksi selama 3 tahun. Hak cipta lagu tetap 100% di tangan kami. Biaya produksi dan marketing tambahan ditanggung studio.”

Syaratnya jelas, spesifik, menunjukkan ia paham betul industri.

Kartu Nama yang Mencengangkan

Dian dan Citra berbisik cepat. Anton mengangguk pelan, seperti mengakui kejelian Deva.

Deva tak menunggu lama. Ia merogoh dompet kulit sederhana di saku celananya. Bukan dompet siswa. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah kartu nama putih bersih, elegan. Tertulis sederhana:

DEVA
Composer | Music Producer
Email: deva.official@sirwara.com
Phone: 08xxxxxxxxxx

Ia menyodorkan kartu itu ke Dian. “Kirim draft kontrak sesuai penawaran saya ke email itu, Mba. Kita nego detailnya via email. Kalau setuju prinsip, kita meeting lagi.”

Aura Profesional yang Memukau

Semua orang di ruangan itu speechless. Mulut Sania terbuka lebar. Maya memandang kartu nama itu seperti melihat hantu. Erick dan Denny saling cubit. Pak Haryono mengusap dahinya. Ninda, yang mengintip dari balik pintu yang terbuka, menahan napas.

Aura Deva memenuhi ruangan. Bukan arogan, tapi keyakinan dan karisma yang tak terbantahkan. Ia berbicara bukan sebagai siswa SMA, tapi sebagai profesional yang tahu nilainya. Wanita dari studio itu pun terdiam, terpana oleh keberanian dan kelugasan anak muda di depan mereka.

Dian akhirnya menerima kartu nama itu, tangannya sedikit gemetar. “Baik… baik, Mas Deva. Akan kami kirim draftnya.”

Deva mengangguk, lalu berdiri. “Terima kasih atas waktunya, Pak Haryono, Mba Dian, Mba Citra, Pak Anton. Kami permisi dulu.” Ia membungkuk sopan, lalu berbalik keluar ruangan, diikuti keempat anggota band yang masih terpana dan limbung, seperti baru disambar petir.

Filosofi yang Mengubah Segalanya

Di koridor, baru Sania berani bersuara, suaranya bergetar. “Deva… loe… loe gila? Empat ratus juta?! Dan kartu nama itu?!”

Deva berhenti, menatap mereka. Matanya tajam. “Kalau kalian mau jadi serius di musik, jual diri kalian mahal. Jangan murah. Kalian berbakat. Tahu nilai diri itu penting.” Ia memandang Ninda yang mendekat, wajahnya penuh tanya besar. “Ayo pulang, Nin.”

Ia pun berjalan, meninggalkan keempat teman band yang masih kebingungan dan satu Ninda yang semakin yakin: Deva bukan hanya misterius. Ia adalah badai yang mengubah segala sesuatu yang disentuhnya, dengan cara yang tak pernah terduga.

Dan entah mengapa, Ninda merasa, badai itu baru saja membawa angin segar bagi mimpi teman-temannya. Angin yang bernilai empat ratus juta.

Bagian 11 – Tiga Bulan Transformasi

Tiga Bulan Transformasi: Piala, Album, & Kehangatan

Tiga bulan berlalu seperti badai yang membawa perubahan dahsyat bagi SMA Cendekia dan gubuk reyot keluarga Ninda.

Di Lapangan Basket: Kejayaan yang Terukir

Kapolri Cup menjadi saksi kebangkitan tim basket sekolah. Di bawah “tangan dingin” Deva sebagai pelatih, tim yang dulu tersingkir di match kedua, kini melaju hingga Final! Mereka bertahan dengan 6 kemenangan beruntun sebelum akhirnya kalah di pertandingan puncak dengan perjuangan sengit. Juara 2 dari 100 tim peserta adalah prestasi gila yang membanggakan!

Hadiahnya nyata: Piala bergengsi, uang pembinaan 30 juta, dan beasiswa pendidikan untuk beberapa pemain kunci. Saat menerima piala, Rio dan kawan-kawan mengangkat Deva tinggi-tinggi, teriakan terima kasih penuh emosi menggema: “Ini berkat loe, Coach Deva! Gila, kita juara dua!!” Air mata kebahagiaan dan rasa hormat mengalir. Deva, seperti biasa, hanya tersenyum kecil, anggukan penghargaan untuk kerja keras tim.

Di Dunia Musik: Dari Kontrak ke Karya Nyata

Kontrak negosiasi Deva yang sempat bikin heboh tercapai! Draft kontrak 400 juta untuk 8 lagu sudah ditandatangani setelah negosiasi ketat via email (yang membuat kagum pihak studio akan kematangan Deva).

Setiap akhir pekan, gudang kosong yang disulap menjadi studio latihan ramai oleh suara: Sania menghajar drum, Maya memetik bass dalam, Erick merajut riff, Denny menghadirkan atmosfer dengan keyboard, dan Deva—sebagai frontman, gitaris lead, sekaligus penulis lagu utama—memimpin dengan vokal bertenaga dan melodi gitar yang memukau.

7 lagu telah selesai direkam dengan kualitas studio. Lirik-lirik baru bernas tentang perjuangan, persahabatan, mimpi, dan realita remaja, mengalir dari pena Deva, diolah bersama menjadi musik yang semakin solid dan kaya. Album perdana mereka tinggal menunggu satu lagu pamungkas sebelum diluncurkan ke publik. Antusiasme sudah memuncak, didorong oleh kesuksesan “Mengudara”.

Di Gubuk Reyot: Berkah Berwujud Kulkas dan Kehadiran

Bulan pertama: Sebuah televisi layar datar 32 inch muncul di ruang tamu sempit. Bu Surti hampir menangis. “Untuk Lala belajar dan hiburan, Bu,” ujar Deva sederhana.

Bulan kedua: Kulkas satu pintu berdiri tegak di dapur. “Biar sayur dan lauk awet, Bu. Nggak perlu masak setiap hari,” katanya saat Pak Kardi hanya bisa menggenggam tangannya erat, tak kuasa berkata.

Bulan ketiga: Mesin cuci otomatis menggantikan ember dan tangan Bu Surti yang lecet. “Sekarang Ibu bisa istirahat lebih banyak,” bisik Deva, membuat air mata Bu Surti akhirnya jatuh.

Tapi yang paling berharga bukan benda. Kehadiran Deva yang konsisten. Ia membantu Pak Kardi memilah rongsokan berkualitas, menemani Lala mengerjakan PR sambil bercerita, membantu Bu Surti menjemur cucian, atau sekadar duduk di depan TV bersama keluarga, menikmati kebersamaan sederhana. Ia menjadi “seolah anak angkat” yang menghangatkan rumah itu dengan lebih dari sekedar materi. Senyum di wajah keluarga Ninda semakin sering muncul.

Konklusi: Kehidupan Baru yang Mengudara

Tiga bulan yang penuh keajaiban. Dari lapangan basket yang melahirkan juara, studio yang melahirkan karya, hingga gubuk reyot yang kini dipenuhi tawa dan harapan. Deva, sang misterius, telah menjadi katalisator perubahan. Ia bukan hanya membawa prestasi dan benda, tapi juga keberanian, harga diri, dan cahaya bagi semua yang disentuh hidupnya.

Saat ia duduk di lantai gubuk Ninda, menikmati teh hangat Bu Surti setelah latihan band yang melelahkan, Ninda tahu: badai yang dulu menghancurkan Deva di Bandung, kini telah berubah menjadi angin kencang yang mengangkat semua perahu di sekitarnya. Dan perahu kecil keluarga Ninda pun ikut merasakan indahnya berlayar.

Album terakhir hampir selesai, piala basket berdiri anggun di ruang kepala sekolah, dan mesin cuci baru saja selesai mengeringkan baju. Kehidupan baru sedang mengudara.

Bagian 12 – Tracklist dan Rahasia Terakhir

Markas Band yang Penuh Energi

Suasana gudang belakang rumah Denny berubah jadi markas band yang berantakan sekaligus penuh energi. Kabel-kabel berserakan, poster band-band favorit menempel di dinding kayu yang lapuk, dan alat musik berdiri gagah di tengah ruangan yang berbau apek bercampur minyak goreng dari dapur. Sania, Maya, Erick, Denny, Deva, dan Ninda duduk lesehan membentuk lingkaran di atas karpet tipis, draft daftar lagu album perdana mereka terbentang di lantai.

Tracklist Final yang Bermakna

“Oke gaes, ini tracklist final menurut gw!” seru Sania, jarinya menunjuk kertas. “1. MENGUDARA! Udah pasti, anthem pembuka wajib! Langsung gebuk!” Ia memukul pedal hi-hat imajinasi. Tss-tss!

“2. JEJAK PENA,” lanjut Maya, tersenyum bangga. “Lagu gue tentang dikocok sama guru fisika sampai nangis, tapi tetap rindu sekolah. Relatable banget!”

“3. GERBANG BARU,” Erick menepuk pundak Sania. “Lagu loe yang ngebucin sama kampus impian. Semoga kita semua keterima ya, San!”

“4. FINANCIAL FREEDOM!” Erick berseru, mata berbinar. “Ini lagu gue, doa sekaligus mantera biar kita semua kaya raya! Biar bisa beli gear bagus!” Semua tertawa.

“5. KELAS YANG KOSONG,” Denny bersuara pelan. “Lagu sedih-sedih manis gue… kangen bangku yang dulu sering kita corat-coret.” Ninda tersenyum simpatik.

“6. TERDEWASAKAN,” Deva mengambil alih, suaranya lebih berat. “Lagu tentang… hal-hal yang memaksa kita dewasa sebelum waktunya.” Suasana sedikit meredup. Ninda memandangnya, tahu lagu ini mungkin menyimpan cerita pribadi Deva yang kelam.

“7. KAU YANG KUCINTA,” lanjut Deva, nada lebih lembut. “Bisa buat Tuhan, bisa buat… seseorang yang spesial.” Matanya sekilas menyapu Ninda, membuat gadis itu menunduk cepat, pipi memanas. Maya menyenggol.

“Terakhir, 8. HINGGA KU TIADA,” Deva menutup. Suaranya datar, tapi ada kedalaman yang membuat ruangan hening. “Tentang… misteri yang harus dijaga. Penutup yang kuat.” Tak ada yang bertanya lebih jauh. Mereka menghormati ruang gelap Deva.

Impian yang Mengudara

“Seminggu lagi kita kirim ke studio!” seru Erick, memecah kesunyian. “Bayangin… album kita beredar di Spotify, Apple Music… kita bisa tour!”

“Bisa beliin Ibu mesin cuci baru!” timpal Sania, setengah becanda setengah serius, membuat Ninda tersipu malu karena tahu Sania mengingat mesin cuci Deva di rumahnya.

“Bisa kuliah tanpa ngutang!” tambah Denny penuh harap.

“Bisa bikin studio rekaman sendiri!” impian Maya.

Mereka larut dalam khayalan, mata berbinar memandang masa depan yang tiba-tiba terasa sangat mungkin. Deva hanya duduk tenang, punggung bersandar pada speaker, matanya mengamati satu per satu wajah temannya yang bersemangat.

Maskot yang Menginspirasi

Ninda duduk di sampingnya, diam. Seperti biasa, ia “ngintil” Deva, dan Deva selalu mengizinkan. Bahkan lebih dari itu—Ninda sudah jadi semacam maskot tak resmi band. Kehadirannya yang tenang, senyumnya yang hangat, dan cerita hidupnya yang keras tapi penuh semangat, diam-diam menginspirasi mereka. Deva sering memintanya menyimak lagu baru, bertanya pendapatnya yang jujur. “Nin, feel-nya gimana?” adalah kalimat yang sering terdengar di gudang ini.

Kepercayaan yang Mendalam

“Nin,” Deva tiba-tiba menyapa, suara rendah hanya untuknya di tengah keriuhan khayalan teman-teman. “Lagu terakhir… ‘HINGGA KU TIADA’… loe udah dengar versi lengkapnya besok. Butuh pendapat loe.”

Ninda mengangguk, jantung berdegup kencang. Ada beban dan rahasia besar dalam lagu itu, dan Deva mempercayakannya untuk mendengar yang pertama. “Aku pasti dengerin,” bisiknya.

Deva mengangguk pendek. Tangannya yang besar dan berotot, biasanya memegang gitar atau memberi instruksi basket, kini dengan santai menyentuh jemari Ninda yang kering dan sedikit kasar di lantai. Sentuhan itu sekilas, hangat, dan penuh arti. Sebuah pengakuan diam-diam di tengah keramaian.

Momen yang Menghangatkan

Sania melihatnya, menyengir. “Dasar Deva, ngobrol mesra sama maskot kita di tengah meeting penting!” ejeknya, membuat Ninda tersipu malu dan menarik tangannya, sementara Deva hanya melirik Sania dengan tatapan datar yang bikin Sania ketawa makin keras.

Suasana kembali riuh dengan tawa dan impian. Tapi di tengah kegembiraan itu, Ninda mencuri pandang ke profil Deva. Lagu terakhir… ‘HINGGA KU TIADA’. Judulnya saja sudah terasa berat, seperti pintu yang terkunci rapat di masa lalu Deva.

Saat semua orang memandang ke depan, Ninda justru merasakan bayangan panjang di belakang temannya yang misterius itu. Besok, saat ia mendengar lagu itu, mungkin ia akan mengintip sedikit lebih dalam ke dalam badai yang pernah menghancurkan sekaligus membentuk Deva.

Dan entah mengapa, tangannya yang tadi disentuh Deva, masih terasa hangat.

Bagian 13 – Badai Kesuksesan dan Filosofi Kehidupan

Beberapa Minggu Kemudian: Badai Pasca Tengah Malam

Album perdana “Pasca Tengah Malam” meledak di dunia digital. “MENGUDARA” kembali menjadi anthem, memuncaki chart musik streaming lokal. Lagu-lagu lain menyusul: “KAU YANG KUCINTA” yang emosional menjadi favorit para remaja, “FINANCIAL FREEDOM” jadi lagu motivasi kocak, dan “TERDEWASAKAN” serta “HINGGA KU TIADA” yang gelap dan dalam memancing analisis panjang di media sosial. Views di YouTube meroket, komentar membanjiri setiap lagu. Mereka bukan sekadar viral satu lagu, tapi jadi band baru paling diperbincangkan dengan album solid.

Tawaran manggung berdatangan bak hujan: acara musik TV nasional, festival kampus besar, bahkan kafe-kafe ternama. Nilai kontrak 400 juta yang dulu dianggap nekat oleh banyak pihak, kini terlihat seperti investasi genius yang murah bagi label. Manajemen label Harmoni Studio bersuka cita, wajah Dian si A&R selalu berseri setiap kali menelepon Deva.

Filosofi di Balik Nama Band

Nama “Pasca Tengah Malam” pun jadi bahan perbincangan. Saat diwawancara singkat usai penampilan perdana di TV, sang frontman ditanya tentang filosofi nama unik itu.

Deva, di bawah sorot lampu kamera, mikrofon di tangan, wajahnya tenang tapi matanya berbinar dengan intensitas khasnya. Suaranya jernih terdengar:

“Manusia sering ngira hidup itu 24 jam sehari,” mulainya, membuat suasana hening. “Tapi sejatinya? Nggak juga. Kita hidup cuma mungkin… 12 jam.”

Ia berhenti sejenak, memastikan semua mendengar. “Tidur itu 8 jam. Lalu ada detik-detik paling rawan, genting, dan berat… itu adalah jam-jam menjelang dan melewati tengah malam. Saat gelap paling pekat, saat lelah paling dalam, saat semua masalah kayak mau menelan kita hidup-hidup.”

Sorot kamera menangkap ekspresi seriusnya. “Pertanyaannya: bisa nggak kita bertahan sampai melewati tengah malam itu? Kalau kita bisa… kalau kita berhasil nahan napas, bertahan di kegelapan, nggak nyerah… maka fajar harapan pasti datang. Matahari terbit. Dan kita bisa bernapas lagi, lebih lega, lebih kuat, siap cerita baru.”

Ia tersenyum kecil, bukan senyum bahagia, tapi senyum penuh pengertian. “Jadi, pesan gw: sesulit apapun hidup loe, seberat apapun beban loe, bertahanlah. Tahan sampai tengah malam ini lewat. Besok pagi, matahari akan terbit lagi, bawa harapan baru, cerita baru, kesempatan baru buat loe.”

Dampak yang Meluas

Wawancara itu pun viral. Kutipan-kutipannya tersebar, menjadi caption inspiratif, meme motivasi. Filosofi sederhana tapi dalam itu menyentuh banyak orang yang sedang berjuang.

Di gubuk Ninda, malam itu, keluarga kecil itu menonton wawancara Deva di TV ‘hadiah’ bulan pertama. Lala memeluk guling, Bu Surti menyeka sudut mata, Pak Kardi mengangguk pelan.

“Jadi itu artinya, Nak Deva?” tanya Bu Surti lembut setelah tayangan usai. “Bertahan sampai tengah malam?”

Deva, yang sedang duduk di lantai membantu Lala merapikan buku, mengangkat muka. “Iya, Bu. Seperti Ibu bertahan setiap hari, cuci baju dari pagi, masak dengan sisa bahan, tetap tersenyum. Ibu sudah melewati banyak tengah malam.”

Bu Surti tersenyum getir, air mata akhirnya jatuh. “Dan kau, Nak… kau juga sudah melewati tengah malammu yang gelap, ya?” tanyanya, berani menyentuh masa lalu yang tak pernah dibeberkan Deva.

Fajar yang Mulai Terlihat

Deva menatap Bu Surti, lalu pandangannya beralih ke Ninda yang diam memperhatikan. “Masih dalam perjalanan, Bu. Tapi… di sini, rasanya fajar sudah mulai terlihat.”

Suasana hangat dan haru menyelimuti gubuk reyot itu. Filosofi “Pasca Tengah Malam” bukan cuma nama band keren. Itu adalah mantra hidup Deva, semangat band mereka, dan mungkin, doa untuk keluarga Ninda dan semua orang yang mendengar musik mereka.

Di luar, Jakarta mungkin masih bising dan keras, tapi di dalam gubuk itu, ada kehangatan dan harapan baru, seperti fajar setelah malam yang panjang. Dan Pasca Tengah Malam terus mengudara, membawa pesan bertahan dan berharap, satu lagu, satu panggung, satu telinga pendengar pada suatu waktu.

Angin baru benar-benar berhembus, membuka pintu-pintu baru, sekaligus membawa bayangan masa lalu yang masih gelap.

Bagian 14 – Empat Ratus Juta Rupiah

Kedatangan yang Mengguncang

Dinginnya AC di gudang studio Denny tiba-tiba terasa menusuk. Sisa-sisa bungkus nasi padang masih berserakan, suasana santai usai makan siang. Lalu, ketukan di pintu besi. Mbak Dian dan Citra dari Harmoni Studio masuk, tersenyum lebar, menyeret dua koper besar berwarna hitam yang terlihat berat.

“Maaf ganggu, Mas, Mbak,” sapa Dian, matanya berbinar. “Kami dari label. Pasti udah tahu lah ya ini apa…” Ia meletakkan kedua koper itu di tengah lingkaran mereka yang tiba-tiba hening. Suara roda koper menyentuh lantai beton seperti guntur kecil. “Ini hasil kerja keras kalian. Selama ini.”

Citra menambahkan, “Nanti kapan-kapan kopernya kami ambil lagi ya. Sekarang… selamat menikmati!” Mereka memberi hormat singkat, lalu berbalik keluar, meninggalkan gudang dalam kesunyian yang begitu pekat, begitu berat.

Pembukaan yang Memukau

Mata semua orang tertancap pada dua koper hitam itu. Seolah mengandung bom.

Deva yang pertama bergerak. Dengan tenang luar biasa, ia membungkuk, membuka kunci pertama koper. Klik. Resletingnya dibuka dengan suara mencabik kesunyian. Lalu… HAMPARAN UANG. RATUSAN LEMBAR UANG KERTAS MERAH, BERGAMBAR SOEKARNO-HATTA. Uang seratus ribuan. Rapi, berderet, memenuhi seluruh ruang koper.

Ia membuka koper kedua. Klik. SAMA. Hamparan merah yang lain.

Dua koper. Masing-masing berisi 200 JUTA RUPIAH. Total 400 JUTA.

“Ssssshhhiiiiiiiiiiitttttt……” Desis panjang keluar dari mulut Erick, pecah seperti gelembung udara yang terpendam terlalu dalam. Suaranya serak, penuh ketidakpercayaan.

Ledakan Emosi

Lalu, reaksi meledak:

Sania: “AAAAAAAAAAAAH!!! GILAAAAA!!! INI BENERAN?! INI BENERAN?!!” Ia melompat-lompat seperti anak kecil, berteriak histeris, tangannya meraih segepok uang dari koper lalu menaburkannya ke udara seperti konfeti. Uang-uang merah beterbangan. “KITA KAYA! KITA BENERAN KAYA, GAES!!!” Air matanya meleleh deras, campur tawa dan teriakan. Ia memeluk Maya erat-erat, mengguncang-guncangnya.

Maya: Awalnya terdiam membatu, wajah pucat. Lalu, saat uang beterbangan dan Sania memeluknya, air mata mulai menetes. Bukan histeris, tapi air mata kelegaan, pelepasan, dan kebahagiaan yang dalam. Ia memeluk Sania balik, suaranya bergetar. “Kita… kita berhasil, San… Beneran…” Matanya menatap tumpukan uang itu, seperti tak percaya mimpi jadi kenyataan.

Erick: Masih terduduk, mulut menganga. Tangannya meraih beberapa ikat uang, merasakan teksturnya, mencium bau khas uang baru. “Empat… empat ratus juta…” gumamnya, lalu tiba-tiba tertawa lepas, gila. “GUE BISA BELI GITAR GIBSON! ATAU… ATAU MESIN EFEK BARU! ATAU… ATAU APA AJA!” Ia berdiri, berputar-putar, memandangi uang itu dari segala arah, masih tak percaya.

Denny: Paling diam. Ia hanya berlutut di depan koper, tangannya perlahan menyentuh tumpukan uang. Jarinya gemetar. Lalu, diam-diam, air mata jatuh deras di atas lembaran uang merah itu. “Terima kasih…” bisiknya sangat pelan, berulang-ulang, seperti doa. “Terima kasih…” Uang itu berarti beban kuliah orang tuanya berkurang drastis. Impiannya bisa terwujud.

Ketenangan di Tengah Badai

Deva: Tetap yang paling tenang. Ia berdiri di samping koper terbuka, matanya menyapu tumpukan uang, lalu memandangi rekan-rekannya yang sedang mengalami luapan emosi. Tidak ada ekspresi euforia di wajahnya, hanya kepuasan yang dalam dan tenang. Sebuah amplop putih kecil diselipkan di antara uang di koper pertama. Deva mengambilnya, membuka, membacanya cepat. Sebuah senyum tipis muncul. “Bonus dari label. Karena penjualan lewat ekspektasi,” ujarnya datar, menyelipkan amplop itu kembali. Ia lalu mulai merapikan uang yang beterbangan karena lompatan Sania.

Ninda: Terdiam sempurna. Seperti patung. Matanya membelalak, tak berkedip, menatap hamparan merah di dua koper terbuka itu. Uang sebanyak itu. Lebih banyak dari yang pernah ia bayangkan. Lebih banyak dari yang pernah disentuh Ayahnya dalam setahun, bahkan mungkin beberapa tahun. Napasnya tersendat. Dunia berputar. Astaga… astaga… astaga… gumamnya dalam hati, berulang-ulang. Ini bukan lagi mimpi atau viralitas semata. Ini nyata. Sangat nyata. Deva dan teman-temannya sekarang memegang kekayaan yang bagi keluarganya adalah sesuatu yang mustahil. Perasaan campur aduk: kagum, senang buat mereka, tapi juga sedikit pusing dan… terasing. Ini dunia yang berbeda.

Pembagian yang Bijaksana

Suasana mulai mereda dari histeria menjadi gumaman takjub dan tawa lega yang masih tersendat. Mereka mulai duduk lagi di lantai, mengelilingi dua koper terbuka itu, seperti mengelilingi api unggun yang terbuat dari uang.

“Gimana… gimana kita bagi ini?” tanya Maya, suaranya masih bergetar, matanya merah.

Semua mata tertuju ke Deva. Sang pemimpin, sang negosiator.

Deva mengambil secarik kertas dan pulpen. “Kontrak jelas. Hak cipta lagu aku yang pegang sebagian besar, jadi bagianku lebih besar. Tapi…” ia menatap mereka satu per satu, “kalian semua bagian vital. Kita bagi proporsional. Hitungan kasar…” ia mulai menulis angka-angka.

Sania menyela, “Deva… loe… loe pasti dapat paling besar, gue setuju! Tapi… gue mau bayar SPP adik-adik gue dulu, sama kuliah gue…”

Erick langsung nyeletuk, “Gue mau beli pedal board baru! Yang lengkap!”

Denny masih bisik-bisik, “Buku teori musik… kursus komposisi…”

Maya menambahkan, “Nyicil buat bass fretless…”

Kebijaksanaan dan Kebaikan Hati

Deva mengangguk, terus menulis. “Semua bisa. Tapi ingat,” ia menatap mereka, suaranya tegas. “Ini baru awal. Uang ini alat. Buat investasi di diri kita, di band, di masa depan. Jangan habis gegabah.” Ia menunjuk uang itu. “Ini hasil bertahan melewati ‘tengah malam’ kita masing-masing. Sekarang, kita sedang menikmati ‘fajar’-nya. Tapi hari masih panjang.”

Ia kemudian menoleh ke Ninda, yang masih diam dan agak pucat. “Nin,” panggilnya lembut. “Kamu juga bantu dari awal. Nonton latihan, kasih masukan. Ada bagian kecil buat kamu. Buat… bantu Ibu, atau Lala.”

Ninda tersentak. “D-Deva? Nggak! Aku nggak ngapa-ngapain! Ini uang kalian!”

“Udah, nggak usah protes,” ujar Deva singkat, tapi tegas. “Ini hak kamu.”

Sania langsung setuju, “Iya, Nin! Loe maskot kita! Wajib dapat jatah!”

Fajar yang Berwarna Merah

Ninda hanya bisa mengangguk kaku, rasa haru dan kaget berbaur. Dua koper uang. Tawa. Air mata. Impian yang tiba-tiba terjangkau. Dan Deva, di tengah semuanya, tetap menjadi pusat ketenangan dan arah.

Pasca Tengah Malam bukan lagi sekadar nama band. Mereka sedang hidup di dalam fajar yang sangat terang itu. Dan fajar itu warnanya… merah. Merah uang seratus ribuan.

Bagian 15 – Ledakan Kebahagiaan dan Bingkisan Merah

Kalkulasi dan Keadilan

Suasana di gudang Denny berubah dari keheningan syok menjadi kalkulasi cepat, lalu meledak menjadi pesta sukacita murni.

Deva, dengan ketenangannya yang khas, segera mengambil alih. “Kontrak jelas. Hak cipta lagu mayoritas aku, jadi bagianku 40%.” Ia menulis di kertas: 160 Juta – Deva. “Sisanya 60%, dibagi rata buat kalian berempat.” Ia menulis lagi: Maya, Sania, Erick, Denny: Masing-masing 60 Juta.

Erick nyaris tersedak. “Enam puluh?! Deva, loe yakin? Bagian loe juga gede bener!”

“Udah adil,” kata Deva pendek. “Kalian yang bikin musiknya hidup. Aku cuma nulis lagu dan ngomong.” Ia mengambil tumpukan uang, mulai menghitung dengan cepat dan akurat.

Kebaikan Hati yang Tak Terduga

Tapi kemudian, ia menyisihkan 15 juta dari tumpukannya sendiri. “Ini buat Ninda,” ujarnya, menaruh geplokan uang itu di depan Ninda yang masih seperti patung.

“Deva! Nggak usah! Aku nggak ngapa-ngapain!” protes Ninda, wajahnya merah padam. 15 juta? Itu jumlah gila!

“Loe udah bantu dari awal,” ujar Deva, tak terbantahkan. “Nonton latihan, kasih masukan jujur, jadi ‘spirit’ kita. Ini hak loe.”

Sania langsung nyambung, “Iya dong, Nin! Loe maskot resmi Pasca Tengah Malam! Wajib dapat jatah!” Maya dan Denny mengangguk setuju. Erick, dengan semangatnya, langsung menyambar beberapa ikat uang dari bagiannya. “Nih, gue tambahin 1 juta buat jajan! Biar bisa beli baju baru buat nonton kita manggung!”

Sania, Maya, dan Denny pun langsung meniru, masing-masing menyodorkan 1 juta tambahan untuk Ninda.

Total di tangan Ninda sekarang: 15 juta (dari Deva) + 4 juta (1 juta x 4 member) = 19 JUTA RUPIAH.

Kejutan yang Mengubah Hidup

Sembilan belas juta. Uang yang lebih banyak dari yang pernah dipegang keluarganya dalam satu waktu. Buat Ninda, anak dari gubuk reyot yang terbiasa menghitung receh untuk telur dan beras, jumlah itu terasa… surreal. Ia memegang geplokan uang itu, tangannya gemetar hebat, matanya berkaca-kaca. “Aku… aku nggak tahu harus bilang apa…” bisiknya serak.

“Bilang terima kasih dan traktir kita nanti!” sahut Sania sambil tertawa, sudah sibuk memasukkan uang 59 juta sisanya (60jt – 1jt buat Ninda) ke dalam tas ranselnya yang sudah penuh. Maya, Erick, dan Denny melakukan hal serupa, wajah mereka bersinar, tidak sabar.

Kepergian yang Penuh Semangat

“Ayo, gue buru-buru pulang!” teriak Erick, melompat-lompat. “Pengen lihat muka Bokap Nyokap pas lihat duit segini! Pasti kaget setengah mati!”

“Gue juga! Bye semua! Latihan besok!” Sania sudah menyambar tas dan berlari keluar gudang, seperti dikejar hantu kebahagiaan.

Maya dan Denny mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Deva, matanya masih basah, lalu menyusul pergi dengan langkah cepat, memeluk erat tas mereka yang kini sangat berharga.

Tinggal Deva dan Ninda di gudang yang tiba-tiba sangat sepi, hanya diselimuti bau kertas uang baru dan sisa nasi padang. Dua koper besar yang tadi penuh, kini kosong.

Deva menutup kedua koper. Ia melihat Ninda yang masih terduduk, memandangi tumpukan uang di pangkuannya seperti benda asing. “Ayo aku antar loe pulang,” ujarnya, suaranya lembut. “Bawa uang segitu sendirian nggak aman.”

Ninda mengangguk pelan, masih belum bisa berkata-kata. Ia berdiri, agak limbung, memeluk erat tas kain sederhananya yang kini berisi 19 juta rupiah. Berat. Sangat berat. Tapi bukan cuma fisik.

Kebahagiaan di Rumah-Rumah Lain

Rumah Denny (Cukup Mampu): Denny berlari masuk, wajah merah. “BOKAP! NYOKAP! LIHAT NIH!” Ia mengeluarkan ikatan-ikatan uang seratus ribuan dari tasnya, menumpuknya di meja makan. Orang tuanya yang sedang minum teh langsung tersedak. “D-Duit apaan ini, Den?! DARIMANA?!” teriak sang Ayah. “Dari band, Pak! Album kita laku! Ini bagian gue, 60 juta!” Orang tuanya hanya bisa melongo, lalu memeluk Denny sambil tertawa dan menangis. Mimpi yang tak terbayangkan.

Rumah Erick (Keluarga Menengah): Adegan serupa. Erick memamerkan uangnya dengan bangga. Ibunya nyaris pingsan, ayahnya memeriksa uang itu seperti memastikan bukan tipuan. “Beneran nih, Ric? Luar biasa!” Mereka langsung merencanakan membeli peralatan musik baru untuk Erick.

Rumah Maya & Sania: Reaksi senang dan haru serupa. Keluarga Maya yang lebih sederhana langsung berpikir untuk biaya kuliah dan kebutuhan. Sania sudah janji bayar SPP adik-adiknya.

Momen yang Mengubah Segalanya

Dan di Gubuk Reyot Ninda…

Deva mengantar Ninda sampai depan pintu. “Hati-hati,” pesannya singkat, lalu pergi, memberi ruang pada keluarga Ninda.

Ninda masuk, jantung berdegup kencang. Pak Kardi sedang memperbaiki gerobak, Bu Surti mencuci piring, Lala menggambar di lantai.

“Nin? Pulang sore begini?” tanya Bu Surti.

Ninda tidak menjawab. Ia berjalan ke meja kayu yang reyot, meletakkan tasnya. Dengan tangan masih gemetar, ia mengeluarkan tumpukan uang yang dibungkus kertas koran, lalu membukanya.

Hamparan merah menyala terpampang di atas meja kayu yang lapuk.

Keajaiban di Gubuk Reyot

“DUIT?! BANYAK BANGET?! NINDA, DARIMANA INI?!” teriak Pak Kardi, berdiri kaget, tangannya yang kotor minyak mesin terangkat.

Bu Surti menjatuhkan piring yang dicuci. Kreek! Piring pecah, tapi ia tak peduli. Matanya terbelalak. “Ya Ampun… Ninda… ini… ini berapa?!”

Lala mendekat, matanya bulat. “Kakak, itu uang beneran? Banyak sekali!”

Ninda menarik napas dalam. Air matanya akhirnya tumpah. “Ini… ini dari band-nya Deva, Bu, Pak. Album mereka laku. Mereka bagi-bagi ke aku… karena aku sering nemenin mereka latihan. Ini… 19 juta.”

“Sembilan belas… juta?” Bu Surti mengulang pelan, seperti tak percaya kata-katanya sendiri. Ia mendekat, menyentuh uang itu, merasakan teksturnya. Lalu, air mata mengalir deras di wajahnya yang keriput. “Tuhan… terima kasih… terima kasih…” Ia memeluk Ninda erat-erat, tubuhnya bergetar. “Ini rezeki, Nin… rezeki dari kerja ikhlasmu…”

Pak Kardi masih terduduk di lantai, memandangi tumpukan uang, lalu menatap ke arah di mana Deva sudah pergi. Matanya berkaca-kaca. “Anak itu… anak itu bidadari penyelamat kita…” gumamnya parau.

Fajar yang Sungguh Terang

Di gubuk reyot itu, di atas meja kayu yang lapuk, tumpukan uang merah 19 juta rupiah bersinar seperti matahari tengah malam. Bukan sekadar uang. Tapi simbol harapan, kelegaan, dan bukti bahwa fajar setelah kegelapan memang bisa datang, seringkali dalam bentuk yang paling tak terduga.

Dan bagi Ninda, ini adalah awal dari sebuah babak baru, di mana napas keluarga mereka terasa lebih lega, dan langkah menuju masa depan terasa lebih ringan.

Pasca Tengah Malam telah menghadirkan fajar yang sungguh terang.

Bagian 16 – Glamor, Tekanan, dan Bayangan Masa Lalu

Tiga Bulan Kemudian: Dunia yang Berubah Total

Dunia Pasca Tengah Malam telah berubah 180 derajat. Kontrasnya menyolok, terutama bagi Ninda yang terbiasa hidup di antara bau sampah dan atap seng bocor.

Kemewahan yang Tiba-tiba

“Alphard-nya udah nunggu di depan, Mas, Mbak!” Panggilan itu sudah biasa. Mobil mewah warna hitam milik label selalu siap mengantar-jemput mereka. AC sejuk, kursi kulit empuk, air mineral dingin dalam gelas kristal—lenyap sudah hari-hari naik angkot panas-panasan atau nebeng motor Erick. Bahkan Ninda, si “maskot”, selalu disertakan. Awalnya ia kikuk, merasa tak pantas, tapi Deva selalu menyediakan kursi di sampingnya dengan anggukan singkat. “Duduk.”

Fashion Revolution: Kaos distro usang dan celana jins pudar sudah jadi masa lalu. Stylist label mendandani mereka untuk setiap penampilan dan wawancara. Sania tampak garang tapi chic dengan jaket kulit dan crop top. Maya lebih edgy dengan celana cargo oversized dan tanktop. Erick mulai biasa dengan kemeja flanel bermerek dan sneakers limited edition. Denny masih kalem tapi dengan kemeja linen mahal dan chino rapi. Deva sendiri selalu tampil minimalis namun elegan: kemeja hitam polos, celana hitam, sepatu boots kulit, menonjolkan aura misteriusnya. Ninda? Ia mendapat baju-baju sederhana tapi berkualitas—kemeja katun lembut, rok midi, sneakers bersih—yang membuatnya merasa seperti orang lain saat bercermin. Tapi di balik itu, rasa tidak nyaman kerap muncul. Ini bukan dunianya.

Bonus-bonus Manis: Uang 60-80 juta di awal bukan akhir. Setiap bulan, amplop bonus dari label masuk ke rekening mereka, besaran bervariasi: 10 juta, 15 juta, bahkan pernah 20 juta! Uang dari royalti streaming, penjualan merchandise, dan fee manggung. Uang yang dulu mustahil, kini seperti hujan yang turun teratur. Mereka bisa beli apapun, bayar apapun. Tapi godaan untuk foya-foya selalu diingatkan Deva: “Ini modal buat masa depan, bukan buat habis gegabah.”

Popularitas dan Tekanan

Popularitas Melambung

“Pasca Tengah Malam” bukan lagi band lokal. Mereka artis pop-rock paling fenomenal di Indonesia. Lagu-lagu mereka mendominasi radio, mall, bahkan warung kopi. Tur mini di beberapa kota besar di Jawa dan Sumatra selalu sold out. Bahkan popularitas mereka merambah Malaysia dan Singapura! Wajah mereka menghiasi majalah, billboard, dan layar kaca.

Sekolah-Manggung-Studio-Sekolah-Manggung-Studio: Ritme hidup mereka monoton namun melelahkan. Seperti pekerja kantoran yang terjebak rutinitas, tapi dengan tekanan yang jauh lebih besar. Bangun pagi, sekolah (kadang sambil ngantuk berat), langsung dijemput Alphard ke studio rekaman untuk mixing lagu baru atau latihan aransemen, lalu terbang atau berkendara ke kota lain untuk manggung malam harinya. Pulang larut, tidur sebentar, ulang lagi. Liburan? Hampir tak ada.

Tekanan Tak Terlihat

Di balik senyuman di panggung dan wawancara, beban mulai terasa:

  • Sania yang dulu bebas berteriak dan tertawa lepas, kini harus menjaga image, khawatir salah tingkah di depan kamera.
  • Maya mulai sering sakit kepala karena kurang tidur dan jadwal padat.
  • Erick yang dulu santai, kini sering cemas kalau performa gitarnya kurang sempurna di depan ribuan penonton.
  • Denny semakin pendiam, menanggung beban ekspektasi keluarga yang kini sangat tinggi.

Mereka harus selalu “all out”, selalu energik, selalu memberikan yang terbaik. Kesalahan kecil bisa jadi bahan hujatan di media sosial. Kepolosan dan “easy going” mereka perlahan terkikis, digantikan profesionalisme yang kadang terasa kaku dan kelelahan yang tersembunyi.

Ninda di Tengah Pusaran

Ninda merasakan semua perubahan ini dengan intens. Ia menikmati kenyamanan Alphard, senang melihat teman-temannya bersinar, dan bersyukur bisa membantu keluarganya dengan uang yang ia kumpulkan (19 juta pertama ditambah bonus-bonus kecil dari Deva dan lainnya). Tapi ia juga melihat bayangan di mata mereka. Kelelahan. Keraguan. Ia mendengar keluh kesah Sania di belakang panggung, melihat Maya minum obat sakit kepala, merasakan ketegangan Denny sebelum naik panggung.

Dan ada Deva.

Perubahan dalam Deva

Deva tampaknya paling tahan tekanan. Ia tetap tenang, memimpin latihan dengan tegas, menjawab wawancara dengan cerdas, dan tampil memukau di panggung. Tapi Ninda, yang selalu dekat, melihat hal-hal kecil:

  • Ia lebih sering menyendiri, memandang jauh ke luar jendela Alphard.
  • Lagu-lagu barunya, terutama “HINGGA KU TIADA”, semakin gelap dan personal. Saat ia menyanyikannya di studio, ada getar emosi yang dalam, menyakitkan, yang membuat Ninda merinding.
  • Ia lebih sering mengecek ponselnya dengan ekspresi mendalam, seperti menunggu atau takut sesuatu.
  • Dan tatapannya pada Ninda… kadang penuh sesuatu yang dalam, sesuatu yang ingin diungkapkan tapi tak bisa.

Percakapan di Alphard

Suatu malam, usai manggung besar di Jakarta, dalam perjalanan pulang dengan Alphard yang sepi (yang lain sudah tidur pulas), Deva tiba-tiba berbicara pada Ninda yang duduk di sampingnya. Suaranya rendah, hampir berbisik, di tengah deru mesin dan musik instrumental lembut.

“Nin… semua ini… glamor, uang, tepuk tangan… kadang terasa seperti mimpi buruk yang indah,” ujarnya, matanya menatap gelapnya jalan tol. “Aku mulai lupa rasanya naik angkot, lupa bau tanah basah di rumahmu, lupa rasa lapar yang sesungguhnya.”

Ninda menatapnya, terkejut. “Tapi… ini yang kamu mau kan, Dev? Sukses?”

Deva memalingkan muka, menatapnya. Di matanya, Ninda melihat kelelahan yang sangat dalam, dan… ketakutan. “Aku hanya ingin musikku didengar. Tapi ada harga yang harus dibayar. Dan ada masa lalu… yang mungkin nggak akan mau tinggal diam melihat aku ‘mengudara’ begini.”

Bayangan yang Mendekat

Kalimat terakhir itu menggantung, berat dan penuh ancaman tersirat. Sebelum Ninda sempat bertanya lebih jauh, Deva menutup mata, berpura-pura tidur. Tapi Ninda tahu. Fajar setelah tengah malam itu indah, tapi di balik cahayanya, bayangan masa lalu Deva mulai merangkak mendekat. Dan tekanan untuk tetap menjadi “bintang” hanyalah salah satu pertarungan yang dihadapinya.

Perjalanan Pasca Tengah Malam masih panjang, dan jalan di depan tidak lagi semulus jalan tol yang dilalui Alphard mereka.

Bagian 17 – Liburan Bali dan Bibit Asmara

Pukul 22.17, Gudang Studio Rumah Denny: Kejenuhan dan Sebuah Ide Gila

Udara di gudang terasa pengap meski AC menyala. Latihan baru saja usai, tapi energi yang tersisa bukan semangat, melainkan kelelahan yang pekat. Sania menjatuhkan diri ke sofa bekas, mengusap keringat di dahinya. “Gue lemes banget, gaes. Kayak robot: sekolah, latihan, manggung, tidur, repeat. Kita kayak mesin penghasil lagu.”

Maya memijit pelipisnya, wajah pucat. “Kepala gue cenut-cenut tiap hari. Mimpi buruk isi chart musik sama jadwal.”

Erick menggeleng, matanya sayu. “Gue sampai lupa kapan terakhir main game online santai. Semua serba harus perfect.”

Denny menatap keyboard-nya, bukan dengan semangat, tapi beban. “Seperti… kita kehilangan sesuatu. Kayak jiwa musiknya masih ada, tapi sukacitanya… menguap.”

Deva duduk di lantai, punggung bersandar pada amplifier. Ia diam, tapi matanya yang mengamati satu per satu temannya bicara lebih keras dari kata-kata. Kejenuhan. Tekanan. Mereka kehilangan “nyawa muda” mereka.

Ninda yang sedang menyusun botol air mineral, merasakan getar keputusasaan itu. “Libur sekolah bentar lagi, kan?” ujarnya tiba-tiba, suaranya kecil tapi memecah kesunyian.

Semua mata menoleh padanya.

“Loh iya! Libur 3 minggu!” seru Sania, tiba-tiba bersemangat. “GUE ADA IDE GILA!” Ia melompat berdiri. “LIBURAN KE BALI! BERSAMA-SAMA! Cari jati diri, cari sukacita lagi! Kayak dulu pas awal-awal ngeband!”

Diam sejenak. Lalu…

“YES! BANGET!” Erick berseru, bangkit. “Pantai, ombak, nongkrong santai tanpa jadwal!”

“Bali… bisa cari inspirasi lagu baru,” gumam Maya, matanya mulai berbinar.

“Udah lama gue pengen ke Tanah Lot…” Denny tersenyum kecil.

Deva mengangkat alis, lalu angguk pelan. “Oke. Bali.” Satu kata, tapi penuh arti. Persetujuan.

GIRANG! Suasana berubah drastis. Kelelahan lenyap diganti rencana heboh. Mereka langsung buka laptop, cari tiket, villa, aktivitas. Ini akan jadi liburan pertama mereka bersama, bukan sebagai “bintang”, tapi sebagai teman. Sesuatu yang mereka butuhkan untuk bernapas.

Benih Asmara yang Mulai Tumbuh

Di tengah keriuhan diskusi, mata-mata mulai saling memandang berbeda:

Deva & Ninda: Saat Ninda bingung memilih villa, Deva dengan lembut menggeser laptopnya. “Villa di Uluwatu aja. View bagus, lebih privat.” Matanya menatap Ninda. “Loe suka pemandangan luas kan?” Ninda hanya bisa mengangguk, pipi memerah. Deva tahu. Ia selalu perhatikan hal kecil tentangnya.

Erick & Sania: Saat Erick usul surfing, Sania protes takut. “Gue jagain loe di pantai, San! Jagoan kan gue!” Erick sok jagoan, tepuk dada. Sania cekikikan, dorong bahunya. “Sombong! Tapi… boleh deh.” Ada senyum manis yang tak biasa dari Sania.

Denny & Maya: Saat diskusi aktivitas budaya, Denny bilang pengen ke galeri seni. Maya langsung setuju. “Gue juga! Kita bisa cari motif batik atau ukiran buat inspirasi bass line!” Mata Denny berbinar. “Kita juga bisa ke pura, dengerin musik tradisional…” Mereka tersenyum, ada kesamaan jiwa seni yang dalam.

Belum ada yang mengaku. Belum ada yang berani menyentuh. Tapi udara di gudang itu terasa lebih hangat, lebih manis. Liburan ke Bali bukan cuma mencari jati diri musik, tapi mungkin juga jati diri hati.

Bali, 5 Hari Kemudian: Jiwa Muda yang Kembali Bersemi

Villa Uluwatu mereka memukau. Kolam renang infinity menghadap laut biru tak berujung. Tapi yang lebih indah adalah tawa dan keceriaan yang kembali hidup.

Pagi: Mereka sarapan buah segar di teras. Sania tertawa ngakak karena Erick kepedesan sambal. Maya dan Denny berdiskusi serius tentang patung kayu di sudut villa. Deva dan Ninda duduk agak jauh, menikmati senyap dan angin laut. Deva menyodorkan semangka ke Ninda. “Loe suka yang manis,” bisiknya. Ninda tersenyum, senang ia ingat.

Siang: Pantai Padang Padang. Erick benar-benar jadi “jagoan” Sania. Ia sabar mengajari Sania papan selancar, memegangi tangannya saat ombak datang, membuat Sania menjerit sekaligus tertawa bahagia. Maya dan Denny jalan-jalan di tepi pantai, mengumpulkan kerang, membicarakan musik tradisional Bali. Deva dan Ninda? Mereka memilih naik perahu kaca melihat terumbu karang. Saat Ninda takut, Deva memegang tangannya erat. “Tenang, gue di sini.” Di dalam perahu yang sempit, bahu mereka bersentuhan. Ninda bisa mendengar napasnya.

Sore: Menjelajahi Pasar Sukawati. Sania dan Erick ribut lucu soal kaos konyol. Maya dan Denny serius memilih kain. Deva membelikan Ninda gelang kulit sederhana. “Buat loe,” ujarnya, memasangkannya ke pergelangan Ninda yang ramping. Sentuhannya membuat kulit Ninda merinding. “Terima kasih,” bisiknya, mata tak berani menatap.

Malam: Barbekyu di villa. Mereka masak bersama, berantakan tapi lucu. Setelah kenyang, mereka duduk di tepi kolam, kaki berendam air. Bintang-bintang bertaburan. Sania bersandar pada Erick yang diam saja, membiarkan. Maya dan Denny berbagi earphone mendengarkan rekaman musik gamelan. Deva dan Ninda duduk paling ujung. Deva menunjuk bintang. “Lihat itu. Terang banget ya, kayak harapan.” Ninda memandang bintang, lalu memandang Deva. “Iya… terang,” gumamnya, tapi matanya tak lepas dari profil Deva yang diterangi cahaya bulan. Deva menoleh, menangkap pandangannya. Mereka diam, tersenyum kecil. Sesuatu yang tak terucap mengambang di udara hangat Bali.

Di Pura Uluwatu, Menjelang Keberangkatan

Mereka menonton Kecak di atas tebing, matahari terbenam memerah di cakrawala. Suara “cak-cak-cak” dan api yang menari menciptakan atmosfer magis.

Sania memegang tangan Erick erat saat adegan dramatis. Maya dan Denny saling bersandar, terpesona. Deva dan Ninda berdiri di belakang. Angin bertiup kencang. Deva membuka mulut, suaranya hampir tenggelam dalam gemuruh kecak:

“Nin… liburan ini… mengingatkan gue sama hal penting.”

Ninda menoleh, jantung berdegup kencang. “Apa, Dev?”

“Kita emang harus terbang tinggi, kayak ‘Mengudara’. Tapi jangan sampai jadi kacang yang lupa sama kulitnya.” Ia tersenyum, tapi matanya serius. “Kulitnya itu… ya kayak gubuk loe, kayak bau tanah basah, kayak rasa lapar yang bikin kita berjuang… sama kayak masa lalu kelam gue. Itu yang bikin kita manusia. Bikin musik kita berarti.”

Ninda mengangguk pelan, tersentuh. “Kamu nggak akan lupa, kan, Dev?”

Deva memandangnya lama. “Nggak. Apalagi sekarang.” Tangannya, besar dan hangat, tiba-tiba menggenggam tangan Ninda di antara mereka, tersembunyi dari yang lain. “Karena ada hal baru yang gue nggak mau lupa.”

Ninda terkesiap. Tangannya bergetar dalam genggaman Deva. Panas. Kuat. Jujur. “D-Deva…”

“Shhh…” Deva meletakkan jari di bibirnya, tersenyum misterius. “Nanti. Setelah pulang. Masih ada misteri yang harus gue buka.”

Bayangan di Balik Keindahan

Tapi bukan misteri hati yang dimaksud. Ninda melihat bayangan sekilas di mata Deva. Sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu dari masa lalu yang mungkin akan mengancam fajar indah mereka.

Pertunjukan Kecak usai. Mereka berjalan kembali ke mobil, tangan Deva dan Ninda masih sempat bersentuhan, diam-diam. Sania memandangi Erick dengan senyum manis. Denny dan Maya berbisik tentang lukisan yang dibeli.

Bibit asmara telah tumbuh subur di bawah matahari Bali. Jiwa muda mereka kembali bersemi. Tapi di balik keindahan sunset Uluwatu, bayangan panjang masa lalu Deva mulai membentang, menunggu waktunya.

Liburan mungkin akan berakhir, tetapi petualangan hati—dan mungkin pertarungan menghadapi hantu masa lalu—baru saja dimulai. Dan semua akan terbuka setelah mereka kembali.

Bagian 18 – Kejutan di Atlas Beach Club

Pukul 16.30, Atlas Beach Club, Bali: Liburan yang (Tak Sempat) Tenang

Rencana mereka sederhana: bersantai di sofa empuk Atlas Beach Club, menikmati sunset Bali sambil menyeruput mocktail dingin. Suasana chill musik house, deburan ombak, dan angin laut seharusnya jadi obat penenang jiwa. Mereka duduk melingkar, Deva dan Ninda di satu sofa, Sania-Erick dan Maya-Denny di sofa berhadapan, menikmati keheningan yang nyaman. Ninda tersenyum, lega melihat teman-temannya rileks, wajah tanpa beban untuk pertama kali dalam berbulan-bulan.

Boom. Ketenangan pecah.

Seorang mbak-mbak dengan kacamata stylish dan baju pantai warna ceri mendekat, matanya menyipit. “Eh… itu Maya, bukan sih? Bassist Pasca Tengah Malam?” tanyanya ragu.

Maya tersenyum sopan, mengangguk. “Iya, Mbak.”

Mbak-mbak itu langsung teriak histeris, “AAAAH! IYA NIH! ITU SANIA! ITU ERICK! ITU DENNY! DAN ITU… DEVAAAA! DEVAAAAA!!!” Teriakannya seperti sirene.

Habis lah.

Invasi Fans yang Tak Terduga

Dari segala penjuru, seperti semut manis menyerbu gula, gerombolan fans—kebanyakan remaja dan anak muda—langsung mengepung. Sofa mereka dikerumuni. HP diacungkan. Teriakan meminta foto dan tanda tangan memecah suasana chill beach club.

“Deva, boleh foto pleaseee!”

“Sania, aku fans berat drum loe!”

“Erick, tanda tangan di tangan gue dong!”

“Maya, Denny, we love you!”

“LAGU ‘TERDEWASAKAN’ BIKIN GUE NANGIS, DEV!”

Yang aman cuma Ninda. Ia terdorong ke pinggir kerumunan, nyaris tersenggol. Tak ada yang mengenalinya, tak ada yang meminta fotonya. Rasanya… aneh. Sedikit tersisih, tapi juga bersyukur tak jadi pusat keributan. Ia mengamati dari kejauhan: Deva yang tetap tenang tapi mulai terlihat lelah memenuhi permintaan foto, Sania yang masih tersenyum tapi matanya mulai panik, Erick yang mencoba melindungi Sania, Maya dan Denny yang kewalahan menjawab pertanyaan fans.

Lalu, makin kacau.

Permintaan Mendadak

Seseorang, mungkin manajer atau MC beach club, melihat kerumunan dan dapat ide. Dengan pengeras suara, ia teriak: “LADIES AND GENTLEMEN! KITA KEBETULAN DIDATANGI BAND TERPANAS SAAT INI, PASCA TENGAH MALAM! GIMANA KALAU KITA MINTA MEREKA NYANYI BEBERAPA LAGU BUAT KITA?!!”

Sorakan gemuruh menyambut. “YEEESSS! MENGUDARA! MENGUDARA! KAU YANG KUCINTA!”

Anak-anak band saling pandang. Panik. Ini liburan! Mereka nggak bawa alat! Tapi kerumunan sudah tak terbendung. Panitia Atlas mendekat, wajah memohon. “Please, Mas, Mbak… 10 menit saja! Buat pengunjung kita! Gratis kok!” Suaranya setengah memaksa, setengah merayu.

Deva melihat teman-temannya. Sania mengangguk, matanya bilang “Ya udah lah, biar cepat beres!”. Erick menghela napas, setuju. Maya dan Denny mengangguk pasrah.

“Oke. Dua lagu. ‘Mengudara’ dan ‘Kau Yang Kucinta’,” kata Deva ke panitia, suaranya datar tapi tegas. “Tapi kami nggak bawa alat. Sediakan sound system dan instrument dasar. Cepat.”

Panitia langsung beraksi. Dalam 5 menit, panggung kecil di tepi pantai disiapkan dengan mikrofon, speaker, keyboard portable, dan drum elektronik sederhana. Bukan alat mereka, tapi cukup untuk dadakan.

Pertunjukan Darurat Dimulai!

Deva menggenggam mikrofon. “Bali! Kita Pasca Tengah Malam! Ini khusus buat kalian, dua lagu saja! MENGUDARA!”

  • Sania menghajar drum elektronik dengan energi gila, mengkompensasi alat yang asing.
  • Maya menyesuaikan groove bass-nya dengan speaker yang kurang nendang.
  • Erick memainkan power chord di keyboard yang disetel jadi gitar.
  • Denny berimprovisasi dengan indah di keyboard utama.

Deva menyanyi dengan penuh gairah, vokalnya menggelegar di tepi pantai. Ia melompat, mengajak penonton bernyanyi. Ribuan tangan mengacung, menyanyikan lirik yang mereka hafal. Sunset jingga jadi latar spektakuler.

Lagu kedua, “Kau Yang Kucinta”, lebih kalem tapi tak kalah memukau. Deva menyanyikannya dengan penuh perasaan, matanya sesekali menyapu ke arah Ninda yang berdiri di pinggir kerumunan, tersenyum bangga. Saat lagu berakhir, tepuk tangan dan sorakan menggema. 10 menit yang kacau, tapi magis.

Bonus Tak Terduga

Saat mereka turun panggung, masih berkeringat, seorang bapak gendut berkemeja floral (Bang Hotman, mungkin owner) menghampiri, tersenyum lebar. “Luar biasa, Mas, Mbak! Ini terima kasih dari Atlas buat kejutan spesial kalian!” Ia menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal.

Deva menerimanya dengan anggukan. “Sama-sama.”

Di perjalanan kembali ke villa, penasaran, Sania membuka amplop itu. “ASTAGA!” teriaknya. Isinya: tumpukan uang ratusan ribu. Total 20 JUTA RUPIAH!

“DUA PULUH JUTA?! BUAT 10 MENIT?!” Erick terbelalak.

“Bali emang edan!” Maya menggeleng tak percaya.

“Cuma kerja 10 menit bawain 2 lagu, hey!” Denny tertawa lepas, lega sekaligus senang.

Deva menyunggingkan senyum kecil. “Liburan sambil ‘kerja’ juga nggak papa kalau bayarannya segini.”

Makan Malam dan Tawa yang Menguatkan Ikatan

Malam itu, mereka makan malam mewah di restoran hotel mereka sendiri, mentraktir diri sendiri dengan uang “keringat” 10 menit tadi. Suasana riang dan lega.

Sania & Erick: Terus bercanda tentang ekspresi panik masing-masing saat dikerubuti. Erick sok pahlawan: “Tadi gue udah siap jadi bodyguard loe, San!” Sania cekikikan: “Bodyguard apanya, mukanya aja udah kayak orang mau kabur!” Tapi kaki mereka bersentuhan di bawah meja.

Maya & Denny: Membahas improvisasi mereka di panggung tadi. “Loe pinter banget adjust sound keyboardnya, Den,” puji Maya. “Loe juga, bass-nya tetap nendang meski speakernya jelek,” balas Denny. Senyum mereka hangat.

Deva & Ninda: Deva menyendokkan dessert untuk Ninda. “Tadi loe aman, ya? Nggak kesempitan di kerumunan?” “Aman. Malah senang lihat kalian tetap keren meski dadakan,” jawab Ninda. Deva memandangnya. “Loe juga keren. Tetap tenang.” Pandangan mereka berhenti sejenak, lebih lama dari seharusnya. Bibit asmara itu semakin nyata, hangat seperti udara Bali malam itu.

Refleksi Malam

Pulang ke villa, langit berbintang. Mereka berjanji besok benar-benar akan “kabur” ke spot tersembunyi yang jauh dari keramaian. Tapi malam ini, di bawah lampu restoran mewah, dengan 20 juta “bonus” dadakan di saku dan tawa yang lepas, mereka menyadari sesuatu: Tekanan dan kejutan itu ada, tapi selama mereka bersama—Deva, Ninda, Sania, Erick, Maya, Denny—mereka bisa menghadapinya, bahkan mengubahnya jadi kebahagiaan dan uang.

Dan mungkin, di suatu tempat di antara deburan ombak Bali dan pandangan penuh arti, misteri-misteri hati akan segera terkuak sendiri, lebih manis dari dessert apa pun di meja mereka. Liburan memang tak sepenuhnya tenang, tapi justru itulah yang membuatnya berkesan.

Bagian 19 – Senja Romantis di Pantai Pasir Putih

Pantai Pasir Putih, Bali – Menjelang Senja

Tiga pasang bayangan memanjang di atas hamparan pasir putih yang masih hangat. Ombak berdebur lembut, menyapu kaki mereka dengan buih-buih dingin. Matahari oranye mulai menyentuh cakrawala, menebarkan cahaya keemasan yang membuat segala sesuatu terlihat seperti mimpi. Deva dan Ninda, Erick dan Sania, Denny dan Maya—mereka berjalan berpasangan, terpisah beberapa meter, masing-masing tenggelam dalam dunia mereka sendiri, diikat oleh benang-benang asmara yang mulai terasa nyata.

1. Deva & Ninda: Samudra dan Langit

Deva berjalan perlahan, tangan sesekali menyentuh punggung tangan Ninda. “Nin,” ujarnya, suaranya rendah, hampir tenggelam debur ombak. “Dulu di gubukmu, waktu lihat TV bekas itu, pernah ngebayangin nggak bakal ngobrol begini di pantai Bali?”

Ninda tersenyum, matanya memantulkan cahaya jingga. “Nggak pernah. Waktu itu, mikir lulus SMA langsung kerja pabrik atau bantu Ibu cuci baju.” Ia menatap laut tak berujung. “Sekarang… kayak mimpi.”

Deva berhenti, memandanginya. Cahaya senja menyinari profil Ninda, membuat rambutnya berkilau. “Mimpiku… itu buat loe nggak perlu takut lagi sama masa depan. Buat keluarga loe aman. Dan…” Ia menarik napas. “Buat loe selalu ada di samping gue, kayak sekarang.”

Ninda menatapnya, jantung berdegup kencang. Mata Deva yang biasanya tajam, kini lembut dan dalam, seperti samudra di depan mereka. Udara terasa diam. Perlahan, tanpa kata, wajah mereka semakin mendekat. Napas mereka bercampur. Seperti magnet, bibir mereka akhirnya bertemu. Ciuman pertama mereka—lembut, hangat, penuh janji—terjadi di bawah langit Bali yang berubah menjadi ungu. Dunia seolah berhenti. Hanya ada debur ombak dan detak jantung mereka yang bersahutan.

2. Erick & Sania: Petir dan Tawa

Sedikit di depan, Erick memungut kerang cantik, sok romantis menyodorkannya ke Sania. “Nih, permata buat ratu drum gue!”

Sania menyeringai, mendorong bahunya. “Jelek banget kerangnya! Kayak gigi ompong!” Tapi ia menerimanya. “Mimpi loe apaan sih, Ric? Abis lulus SMA?”

“Bikin studio rekaman! Terus… tour dunia sama band!” Erick melompat-lompat. “Terus… punya rumah dekat pantai, kayak ini. Loe mau?”

Sania tersipu, menunduk main pasir. “Bisa aja loe… Tapi… iya, mau.” Tiba-tiba serius. “Gue juga pengen bikin sekolah drum buat anak-anak yang nggak mampu. Kayak adik-adik gue dulu.”

Erick berhenti melompat. Matanya berbinar kagum. “Wih, keren banget, San! Nanti gue bantu!” Ia memandang Sania, wajahnya polos tapi tulus. “Dan… gue juga pengen selalu lihat loe ketawa kayak tadi pas nyerempet ombak. Ketawanya kencang banget!”

Sania tertawa, memukul lengan Erick. Tapi tawanya terhenti saat Erick tiba-tiba mendekat, wajahnya serius. “Gue… gue suka sama loe, San. Beneran.” Sania terkesiap. Sebelum sempat jawab, Erick sudah mencium keningnya, cepat, malu-malu. “Ah, sudahlah!” Ia langsung lari kecil, wajah merah padam. Sania tertawa terbahak, lalu mengejar, pipinya juga merah. “Erick! Loe tukang kabur!” teriaknya, tapi matanya berbinar bahagia. Ciuman di kening itu terasa lebih manis dari kata-kata.

3. Denny & Maya: Harmoni Sunyi

Mereka berjalan paling pelan, hening. Denny memandang ombak yang menyapu jejak kaki mereka. “Maya… dengar nggak?”

Maya memperhatikan. “Dengar apa?”

“Suara pasir, ombak, angin… kayak musik,” bisik Denny, matanya berkilau. “Inspirasi buat lagu baru. Slow ballad mungkin.”

Maya tersenyum. “Kita selalu nyambung soal musik ya, Den.” Ia berhenti, memandang matahari yang hampir lenyap. “Mimpiku… terus bikin musik yang berarti. Kayak lagu-lagu kita. Terus… bisa kuliah musik di luar negeri. Loe?”

Denny mengangguk. “Sama. Dan… pengen punya studio kecil di rumah. Tempat kita nge-rekam, nge-arrange…” Ia menatap Maya. “Bersama.” Kata itu menggantung.

Maya menatap balik. Di mata Denny yang tenang, ia melihat laut perasaan yang dalam. Udara berubah. Tidak ada kata-kata lagi yang perlu diucapkan. Mereka saling mendekat, perlahan, seperti dua not yang saling mencari dalam sebuah komposisi. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang pelan, penuh penghayatan, seperti melodi yang mengalir sempurna. Sunyi. Lembut. Penuh pengertian. Saat mereka berpisah, senyum kecil mengembang. Segalanya sudah jelas.

Senja yang Menjadi Bintang

Matahari akhirnya terbenam. Langit berubah menjadi kanvas ungu dan biru tua, dihiasi bintang-bintang pertama. Ketiga pasangan itu, dengan rahasia baru di hati dan rasa manis di bibir, berbalik berjalan kembali ke arah villa. Jarak mereka masih terpisah, tapi ikatan yang terjalin di bibir pantai itu mengubah segalanya.

Deva menggenggam tangan Ninda erat, jari-jarinya berselang-seling. “Gue serius tadi, Nin. Mau?”

Ninda mengangguk, pipi merah. “Mau.”

Sania menyenggol Erick yang masih malu. “Loe nggak boleh kabur lagi, ya!”

Erick tersenyum lebar, berani memegang tangan Sania. “Nggak. Gue jagain loe.”

Denny dan Maya berjalan berdekatan, bahu bersentuhan. “Studio kita nanti… harus ada jendela besar lihat pantai,” bisik Maya.

Denny tersenyum. “Pasti.”

Babak Baru yang Dimulai

Misteri hati telah terkuak di bawah senja Bali. Benih asmara telah mekar menjadi bunga pertama. Dan perjalanan pulang mereka di bawah bintang-bintang terasa seperti awal dari petualangan baru—lebih dalam, lebih berani, lebih penuh cinta.

Pasca Tengah Malam bukan hanya nama band. Kini, ia juga menjadi nama babab baru dalam kisah enam jiwa muda yang saling menemukan, di antara pasir, ombak, dan kehangatan senja yang tak terlupakan.

Bagian 20 – Pulang ke Rumah yang Berubah

Gubuk Reyot, Senja Jakarta: Pulang ke Rumah yang Berubah

Mobil Alphard hitam milik label berhenti di mulut gang sempit. Deva dan Ninda turun, membawa koper dan beberapa kantung kertas coklat tebal. Kontrasnya masih menyolok: mobil mewah di depan gang kumuh. Tapi kali ini, aura yang terbawa bukan lagi rasa malu, melainkan kebahagiaan dan kepenuhan. Mereka menyusuri gang becek yang akrab, tapi langkahnya ringan, bahu kadang bersenggolan, senyum tak pernah lepas dari wajah mereka. Kenangan ciuman di pantai Bali masih membekas hangat.

Suasana Gubuk: Bukan Lagi Tempat Derita

Mendekati rumah, perubahan langsung terasa:

  • Suara mesin cuci berdengung stabil menggantikan hentakan setrika arang. Bunyinya seperti musik kemajuan.
  • Sinar televisi layar datar menyala dari jendela, memancarkan warna-warni kartun yang ditonton Lala.
  • Bau masakan lebih menggugah selera—bukan lagi nasi aking atau sayur seadanya, tapi aroma ayam goreng dan sambal yang wangi. Kulkas kecil memungkinkan penyimpanan bahan segar.
  • Wajah Bu Surti yang muncul di pintu tidak lagi lesu dan penuh beban, tapi berseri-seri. “Nin! Deva! Pulang!” teriaknya, senyum lebar. Ada harapan dan energi baru di matanya.

Sambutan Hangat Bak Pahlawan Pulang

Lala: Si kecil itu langsung berlari keluar, menerjang pelukan Ninda. “Kak Nin! Kak Deva! Kangen!” Matanya langsung tertuju pada kantung-kantung yang dibawa. “Ada oleh-oleh?!”

Bu Surti: Ia menyambut dengan pelukan hangat untuk Ninda, lalu menepuk punggung Deva dengan penuh kasih. “Masuk, masuk! Perjalanan jauh pasti capek. Ibu masakkan favorit kalian!” Pandangannya penuh rasa syukur dan sayang pada Deva, seperti pada anak sendiri.

Pak Kardi: Ia muncul dari belakang, tangannya masih berminyak dari memeriksa gerobak yang kini lebih jarang dipakai. Senyum lebar menghias wajahnya yang keriput. “Nak Deva… Ninda… selamat datang.” Ia menjabat tangan Deva erat-erat. “Rumah ini selalu cerah kalian pulang.” Kalimat sederhana itu penuh makna. Deva telah mengubah gubuk itu dari tempat bertahan hidup menjadi rumah.

Oleh-Oleh Kemewahan Bali untuk Keluarga Sederhana

Deva dan Ninda meletakkan koper dan kantung-kantung di meja kayu yang sama, tapi kini terasa berbeda. Mereka membuka oleh-oleh satu per satu:

Untuk Lala: Sebuah kaos distro Bali bergambar kura-kura laut warna cerah (dari Ninda) dan boneka kecil berbentuk penari Legong (dari Deva). “Wah! Bagus! Makasih Kak Deva! Makasih Kak Nin!” Lala langsung memakai kaosnya, berputar-putar senang.

Untuk Bu Surti: Sebuah kain sarung Endek Bali motif tradisional yang indah (dari Ninda) dan sepaket rempah-rempah khas Bali serta kopi luwak premium (dari Deva). “Astaga… bagus sekali… mahal-mahal amat, Nak,” ujar Bu Surti tersipu, matanya berkaca-kaca menyentuh kain halus itu. “Ibu bisa masak pakai rempah ini buat kalian besok.”

Untuk Pak Kardi: Sebuah topi anyaman khas Bali (dari Ninda) dan pisau tradisional Bali (kris kecil) dengan sarung ukiran cantik—lebih untuk koleksi daripada dipakai (dari Deva). “Ini… buat jaga-jaga di jalan, Pak,” ujar Deva setengah bercanda. Pak Kardi mengamati pisau itu, kagum. “Keren… terima kasih, Nak Deva.” Topi langsung ia pakai, membuat Lala tertawa.

Malam Penuh Syukur dan Cahaya Baru

Malam itu, di gubuk reyot yang sama, suasana sungguh berbeda:

  • Makan malam terasa seperti pesta: ayam goreng lengkap dengan sambal matah ala Bali (dari rempah oleh-oleh), sayur segar dari kulkas, dan nasi putih pulen. Tawa dan cerita liburan Bali memenuhi ruangan.
  • Televisi menyala, bukan untuk menonton, tapi sebagai latar cahaya dan suara yang menambah semarak.

Deva dan Ninda duduk bersebelahan. Di bawah meja, tangan mereka saling menggenggam erat. Tak perlu banyak kata. Kehadiran Deva di gubuk ini, duduk sebagai bagian dari keluarga, menemani Ninda membawa pulang rezeki besar, adalah bukti nyata perubahannya. Ia bukan lagi tamu misterius, tapi bagian dari jantung rumah ini.

Babak Baru yang Dimulai

Saat mereka pulang ke kamar masing-masing (Deva tidur di ruang tamu yang dialas kasur baru), Ninda mencuri pandang ke luar jendela. Gubuk itu masih reyot, gang masih becek, bau sampah kadang masih menyengat. Tapi di dalamnya, kini bersemayam cahaya kuat: cahaya harapan, cahaya cinta, dan cahaya masa depan yang cerah. Deva menangkap pandangannya, memberikan anggukan kecil dan senyuman yang hanya untuknya.

Pulang ke Jakarta bukan akhir petualangan. Ini adalah babak baru, di mana gubuk reyot bukan lagi akhir cerita, tapi pijakan kuat untuk mengudara lebih tinggi lagi. Dan kali ini, mereka akan terbang bersama.

Bagian 21 – Sekolah yang Mengudara Bersama

SMA Cendekia: Sekolah yang “Mengudara” Bersama Pasca Tengah Malam

Suasana SMA Cendekia benar-benar berubah total sejak Pasca Tengah Malam meledak. Bukan cuma karena ada artis di kelas, tapi karena gelombang kedermawanan dan kehangatan yang mereka sebarkan. Kesuksesan mereka dirasakan oleh seluruh warga sekolah, menciptakan atmosfer meriah dan penuh keakraban yang belum pernah ada sebelumnya.

Ritual Berbagi yang Jadi Tradisi Baru

Untuk Guru-Guru (Sang Pengajar)

Setiap kali ada prestasi baru (lagu trending, manggung sukses, atau sekadar merasa beruntung), Pasca Tengah Malam selalu menyempatkan diri. Mereka sering muncul di ruang guru dengan dus besar berisi pizza, nasi padang komplet dengan gulai tunjang dan rendang, tumpukan brownies cokelat premium, atau kotak-kotak donat segar. “Ini buat Bapak/Ibu guru, terima kasih atas ilmunya,” ujar Deva atau salah satu member mewakili. Para guru yang awalnya kaget, kini tersenyum hangat dan berterima kasih. Bu Susana guru seni bahkan pernah berkata sambil menyantap rendang, “Nak, kalian tidak hanya sukses di panggung, tapi juga sukses jadi teladan.” Suasana ruang guru yang biasanya tegang, kini sering riuh rendah dengan tawa dan obrolan santai berkat “kiriman” mereka.

Untuk Penjaga Sekolah & Satpam (Pahlawan Tanpa Tanda Jasa)

Pak Darmin (satpam) dan Mbah Sardi (penjaga sekolah) seringkali mendapat amplop kecil berisi 50.000 atau 100.000 rupiah. Biasanya diselipkan oleh Deva atau Ninda saat mereka lewat gerbang atau sedang patroli. “Ini sedikit untuk jajan atau rokok, Pak,” ujar Ninda dengan ramah. Pak Darmin yang biasanya tegas, selalu tersipu dan membungkuk berulang kali. “Terima kasih banyak, Dik… semoga sukses selalu.” Uang itu mungkin tidak besar bagi artis, tapi sangat berarti bagi mereka. Bahkan Mbah Sardi sering membagi cerita tentang “anak-anak band yang baik hati” itu ke cucunya.

Untuk Teman-Teman Sekelas & Sekolah (Sahabat Seperjuangan)

Inilah yang paling sering dan paling meriah! Hampir seminggu sekali, suasana kelas 1C atau kantin tiba-tiba heboh. Pasca Tengah Malam muncul dengan:

  • Dus besar berisi puluhan cup kopi kaleng kekinian (espresso, latte, mocha) untuk dinikmati saat jam istirahat.
  • Kotak-kotak pizza Domino’s atau Pizza Hut lengkap dengan saus dan pepperoni.
  • Tas besar berisi camilan shihlin (ayam goreng taiwan renyah) atau kentang spiral pedas yang lagi hits.
  • Kardus berisi donat J.CO dengan berbagai topping menggiurkan.
  • Atau kadang, tumpukan martabak mini manis atau asin.

“Gaes, kita bagi-bagi rejeki nih! Silakan ambil!” teriak Sania atau Erick, membuka kotak-kotak makanan di meja guru atau di kantin. Suasana langsung seperti pesta kecil. Teman-teman berkerumun, tertawa, saling berebut rasa pizza atau donat favorit, menyeruput kopi sambil bercanda. “Gila, Pasca Tengah Malam emang the best!” “Makasih ya, Dev! San! Maya! Den! Eric! Nin!” teriak mereka. Ninda, meski “cuma” maskot, selalu disertakan dalam ucapan terima kasih. Ia tersenyum, senang bisa berbagi kebahagiaan ini.

Dampak Keakraban yang Luar Biasa

Suasana Sekolah Lebih Hangat: Hirarki guru-murid-satpam terasa lebih cair. Senyum dan sapa lebih mudah terlontar. Sekolah bukan lagi hanya tempat belajar, tapi juga komunitas yang saling mendukung.

Meningkatnya Kebersamaan: Acara bagi-bagi makanan selalu jadi momen kumpul yang dinanti. Gosip dan curcol (curhat colongan) mengalir lebih lancar di antara sesapan kopi dan gigitan pizza.

Pengaruh Positif pada Perilaku: Anak-anak yang dulu mungkin malas atau suka bolos, jadi lebih semangat ke sekolah, setidaknya berharap bisa kecipratan “rejeki Pasca Tengah Malam”. Ada rasa bangga memiliki teman sekelas yang sukses dan dermawan.

Citra Pasca Tengah Malam Makin Bersinar: Mereka tidak hanya dikenal sebagai band keren, tapi juga anak-anak baik, rendah hati, dan tidak lupa asal. Ini menambah simpati publik dan fans.

Filosofi Berbagi

Deva, di tengah keriuhan bagi-bagi pizza suatu siang, pernah ditanya seorang teman, “Loe nggak keberatan terus-terusan bagi-bagi, Dev? Kan lumayan duitnya.”

Deva hanya mengangkat bahu, sambil menyodorkan sepotong pizza pepperoni ke temannya. “Duit datang pergi. Tapi rasa terima kasih dan senyum mereka? Itu nggak bisa dibeli. Dan… ini sekolah kita.” Ia menoleh, memandangi lapangan basket tempat ia melatih, ruang seni tempat mereka pertama kali jamming, dan kerumunan teman yang sedang menikmati makanan. “Biar semua ikut merasakan ‘mengudara’-nya.”

Kemudian, dengan santai, ia menyelipkan selembar 100 ribu ke saku jas satpam Pak Darmin yang lewat, disertai anggukan kecil yang hampir tak terlihat. Pak Darmin membalas anggukan, matanya berbinar.

Pasca Tengah Malam memang terbang tinggi, tetapi mereka memastikan angin kebaikan itu juga menerbangkan seluruh SMA Cendekia bersama mereka. Sekolah itu bukan hanya tempat mereka belajar, tapi juga tempat mereka membagikan berkah, menciptakan memori manis, dan membuktikan bahwa kesuksesan sejati adalah ketika kamu bisa membuat orang-orang di sekitarmu juga tersenyum.

Bagian 22 – Misi Penyelamatan dan Keluarga Baru

Kolong Jembatan: Pertemuan yang Mengharukan

Udara di bawah kolong jembatan itu lembap dan berat, bercampur bau sungai yang tak segar dan keringat. Sinar matahari sore menyelinap lewat celah-celah beton, menerangi “istana” Seli dan Rio: sebuah gubuk darurat dari kardus bekas dan terpal plastik bolong, ditopang oleh tiang beton. Di dalamnya, Seli (16 tahun) duduk memeluk lutut, wajahnya kotor dan lesu, matanya kosong menatap air sungai yang keruh. Rio (adiknya, 8 tahun) berbaring lemas di sampingnya, perutnya keroncongan, mainan rusak dari tutup botol tergeletak di tangannya.

Ninda, dengan jantung berdegup kencang, mendekat. Kontrasnya menyakitkan: dia dengan baju bersih dan tas sederhana, menghadapi tempaan kemiskinan yang dulu sangat dekat dengannya. “Sel…? Rio…?” panggilnya, suaranya gemetar.

Seli menoleh, kaget. Matanya yang sayu membelalak. “Nin… Ninda?!” Ia berdiri, wajahnya campur aduk: malu, kaget, dan sedikit harap. Rio juga bangun, bersembunyi di balik kakaknya, matanya besar penuh rasa ingin tahu dan takut.

“Iya, Sel. Aku,” Ninda tersenyum getir, matanya sudah berkaca-kaca. Ia melihat kondisi mereka: baju compang-camping, kulit kotor, tulang rusuk Rio yang menonjol. Seperti melihat bayangan masa lalu dirinya dan Lala. “Aku… aku nyari kalian. Udah lama nggak ketemu.”

Seli menunduk, menyembunyikan air matanya. “Kami… kami masih di sini, Nin. Kayak dulu.” Suaranya kecil, penuh kepasrahan yang memilukan.

Ninda menarik napas dalam. Ini saatnya. Keberanian yang ia kumpulkan sejak punya sedikit rezeki, sejak melihat harapan di mata keluarganya, sejak Deva mengajarkannya arti berbagi, kini berkobar.

“Sel… Rio…” Ninda berjongkok, setara dengan mereka, matanya menatap langsung. “Aku ajak kalian tinggal di rumahku. Sekarang. Tidur di kamarku. Bareng aku dan Lala.”

Diam. Hanya debur sungai yang menjawab.

Seli terbelalak, tak percaya. “Rumah… rumahmu? Tapi… tapi kami kotor, Nin. Bau. Dan… kami nggak punya apa-apa…” Ia menyembunyikan tangannya yang kotor di balik punggung.

Rio mengintip dari balik Seli, bisik kecil penuh harap. “Kak… ada makanan di sana?”

Perut Rio keroncongan lagi, menjawab pertanyaannya sendiri. Ninda merasa dadanya sesak. “Ada, Rio. Banyak. Ibu juga masak enak.” Ia menatap Seli lagi, suaranya lebih tegas, penuh keyakinan. “Aku tahu kita dulu sama-sama susah, Sel. Makanya aku nggak berani ajak dulu. Tapi sekarang… sekarang aku bisa. Rumahku kecil, reyot, tapi ada atap, ada kasur, ada makanan hangat. Dan…” Ia memegang tangan Seli yang dingin. “Kalian butuh ini. Butuh tempat aman. Butuh bantuan. Aku bisa kasih sekarang. Mau?”

Air mata Seli akhirnya jatuh. Deras. Ia menggigit bibirnya yang pecah-pecah, tubuhnya bergetar. “Nin… kami… kami nggak mau merepotkan…”

“Bukan merepotkan!” potong Ninda, tegas. “Ini… ini hak kalian. Sebagai temanku. Sebagai manusia.” Ia memandang Rio yang matanya berbinar. “Ayo, Rio? Mau tidur di kasur? Mau makan nasi hangat sama ayam?”

Rio mengangguk kencang, tak sabar. “Mau, Kak Ninda! Mau!” Ia menarik-narik baju Seli. “Kak Seli, ayo! Ayo dari sini!”

Seli memandang adiknya, lalu memandang Ninda. Di mata Ninda, ia tak melihat belas kasihan yang menyakitkan. Ia melihat ketulusan, kekuatan, dan tekad. Seperti cahaya di terowongan gelap. Ia menarik napas dalam, mengusap air matanya dengan punggung tangan yang kotor.

“Iya… iya, Nin. Kami mau. Terima kasih… terima kasih banyak…” Suaranya bergetar, penuh rasa syukur dan kelegaan yang tak terkira.

Menuju Rumah Baru

Ninda tersenyum, air matanya juga jatuh. “Ayo. Bawa barang-barang kalian. Sedikit-sedikit juga gapapa.” Ia membantu Rio berdiri, menyangga tubuh kecilnya yang ringkih. Seli dengan gemetar mengumpulkan sedikit barang berharga mereka dalam sebuah kantong plastik usang: foto keluarga yang lusuh, baju ganti seadanya, mainan Rio.

Mereka berjalan keluar dari kolong jembatan, meninggalkan “istana” kardus yang muram. Rio melompat-lompat kecil, meski masih lemas. Seli memandang langit Jakarta yang mulai jingga, seperti melihat harapan untuk pertama kalinya dalam lama. Ninda menggandeng tangan Rio erat, sambil sesekali menoleh memastikan Seli di belakangnya.

Perjalanan pulang terasa berbeda. Bukan hanya membawa dua jiwa yang diselamatkan dari tepi jurang, tapi juga membawa tanggung jawab dan kebahagiaan baru. Ninda tahu, hidup di gubuk reyot dengan tambahan dua orang akan lebih sempit, lebih repot. Tapi ia juga tahu, inilah arti sebenarnya dari “mengudara”—bukan hanya terbang tinggi sendiri, tapi menebarkan sayap untuk membawa orang lain merasakan kehangatan fajar.

Gubuk Reyot: Penyambutan dengan Hati

Saat Ninda memasuki halaman gubuk dengan menggandeng Rio dan diikuti Seli yang masih malu-malu, Bu Surti yang sedang menjemur baju langsung tertegun. Matanya beralih dari Ninda ke dua anak yang kurus, kotor, dan berpakaian compang-camping itu.

“Nin? Ini… siapa, Nak?” tanya Bu Surti, suara penuh kehati-hatian.

“Bu, Pak,” Ninda memulai, suaranya tegas tapi penuh rasa sayang. “Ini Seli, temanku waktu masih jual koran dulu. Dan ini adiknya, Rio. Mereka… selama ini tinggal di kolong jembatan. Aku ajak mereka tinggal sini. Tidur di kamarku, bareng aku dan Lala.”

Diam sejenak. Bu Surti dan Pak Kardi yang baru keluar dari dalam saling pandang. Ada kejutan, tapi tidak ada penolakan atau kerutan dahi. Yang ada adalah belas kasihan yang dalam dan pemahaman. Mereka tahu betul rasanya hidup di ujung tanduk. Mereka juga ingat, dulu Ninda dan Lala bisa saja berakhir seperti Seli dan Rio jika bukan karena kerja keras dan sedikit rezeki.

Bu Surti segera mendekat, wajahnya lembut. Tangannya yang kasar tapi hangat menyentuh pundak Seli yang gemetar. “Duh, Anak-anak… kasihan sekali. Ayo masuk, Nak. Jangan malu-malu.” Ia menoleh ke Rio yang bersembunyi di balik Ninda. “Rio, ya? Ayo, sayang, masuk.”

Seli menunduk, air matanya menetes lagi. “Ma… maaf merepotkan, Bu…”

“Nggak ada yang merepotkan,” potong Bu Surti tegas, suaranya hangat. “Di sini, semua saling bantu. Dulu kami juga dapat bantuan.” Matanya sekilas memandang Deva yang diam memperhatikan dari dekat pintu, penuh arti. “Sekarang giliran kami berbagi.”

Pak Kardi mengangguk pelan, mendekat. “Iya, Nak. Masuk. Istirahat. Kalian pasti lelah.” Ia menepuk punggung Rio kecil dengan lembut. “Nanti kita makan malam bareng.”

Proses “Penyucian” Penuh Tawa dan Haru

Bu Surti langsung mengambil alih dengan keibuan yang praktis:

Mandi untuk Kesegaran: Ia menyiapkan air hangat di ember besar (berkat mesin pemanas air listrik kecil yang dibeli dari uang Ninda). Kamar mandi sempit itu tiba-tiba ramai.

Giliran Seli: Bu Surti membantu, menyabuni punggung Seli yang kurus, membersihkan kotoran yang menempel lama. Air yang mengalir ke lantai membawa tanah dan kesusahan. Seli menangis pelan di balik cucuran air, tapi kali ini air mata kelegaan dan rasa aman.

Giliran Rio: Ia awalnya takut. Tapi Bu Surti bersabar, mengajaknya bicara, menyiram tubuh kecilnya dengan lembut. Rio akhirnya tertawa kecil saat disabuni. “Geli, Bu!” Suara tawanya yang polos memecah kesedihan.

Masalah Pakaian:

  • Seli: Mudah. Ninda langsung memberikan baju kaos dan celana training lama yang masih bagus. Mereka seumuran, meski tubuh Seli lebih kurus.
  • Rio: Lebih sulit. Tak ada pakaian anak laki-laki seusianya. Lala masih kecil. Solusi? Bu Surti mengambil sarung baru yang belum dipakai. “Sementara pakai sarung ini, ya Rio. Besok kita cari celana.” Rio, dengan polosnya, mengangguk senang. Untuk atasan, Ninda memberikan baju kaos Lala yang paling besar, bergambar kartun. Rio memakainya dengan bangga, meski ketat. Penampilannya lucu dan mengharukan.

Lala memperhatikan dengan mata berbinar. Ia mendekati Rio. “Namaku Lala! Nanti kita main ya?” Rio mengangguk malu-malu, tapi senyum kecil muncul.

Kamar Ninda yang Berubah

Kamar kecil Ninda yang biasanya hanya untuk dia dan Lala, kini harus menampung empat orang. Kasur double yang dibeli dari uang Deva terasa sempit. Tapi Bu Surti sigap. Kasur tipis tambahan (bekas, tapi bersih) digelar di lantai. Bantal dan selimut baru disediakan.

Saat mereka masuk ke kamar, Seli tertegun. “Ini… kamarmu, Nin? Bersih dan… bagus.” Matanya berkaca-kaca melihat kasur, bantal bersih, dan rak buku kecil Ninda. Bagi yang terbiasa di kolong jembatan, ini seperti istana.

Ninda tersenyum. “Iya, Sel. Sekarang kamar kita. Sementara tidur sini dulu. Nanti kita cari solusi.” Ia memandang Rio yang sudah melompat-lompat di kasur tipis di lantai, tertawa gembira. Lala ikut melompat di sampingnya. Tawa anak-anak itu mengisi ruangan, menggantikan kesunyian yang biasa.

Makan Malam Penuh Syukur

Makan malam di meja kayu yang penuh. Nasi putih pulen, sayur asem segar, telur dadar tebal, dan ayam goreng krispi. Makanan sederhana, tapi bagi Seli dan Rio, ini adalah pesta. Mereka makan dengan lahap, hampir tak bicara, menikmati setiap suapan. Bu Surti dan Pak Kardi hanya tersenyum melihat mereka, sesekali menyodorkan tambah. Deva yang ikut makan diam-diam mengamati, matanya penuh apresiasi pada keluarga Ninda.

Saat Rio akhirnya kenyang dan mengantuk, kepalanya mulai mengangguk di meja. Seli memandang adiknya, lalu memandang Ninda dan keluarganya, air mata lagi-lagi mengalir. “Terima kasih… terima kasih banyak… kami… kami nggak akan lupa kebaikan ini…”

Bu Surti mengelus punggung Seli. “Sudah, Nak. Ini rumah kalian sekarang. Tidurlah nyenyak.”

Kamar Ninda, Malam yang Berharga

Suasana di dalam kamar kecil itu hangat dan riuh rendah. Empat tubuh berdesakan di kasur busa double yang empuk. Ninda dan Lala di satu sisi, Seli dan Rio di sisi lain. Lampu neon kecil menyala redup, menerangi wajah-wajah yang berseri meski mata sudah mulai mengantuk.

“Terus gimana pas Kak Deva nyanyi ‘Kau Yang Kucinta’ di pantai? Romantis banget ya?” tanya Seli penasaran, matanya berbinar.

Ninda tersipu. “Iya… sunset, angin… terus dia nyanyi sambil lihat gue. Serius banget.”

“Wah, Kak Deva jago nyanyi ya? Keren!” Rio ikut nimbrung.

“Keren banget! Kak Deva itu dewa!” Lala menambahkan bangga.

Cerita pun mengalir: tentang pantai, makanan enak, villa bagus, dan keramaian di Atlas Beach Club. Seli dan Rio mendengarkan dengan mulut agak terbuka, seperti mendengar dongeng negeri jauh.

Berbagi Rejeki

Di tengah keceriaan, Ninda teringat sesuatu. Ia meraih tas kecilnya, mengeluarkan dompet sederhana. Jarinya membuka ritsleting, mengeluarkan tiga lembar uang merah—masing-masing bernilai 500 ribu rupiah.

“Nih,” Ninda menyodorkan satu lembar ke Lala. “Buat jajan atau beli buku gambar yang loe pengen.”

Lala terbelalak. “Lima ratus ribu?! Buat aku?!” Ia menerimanya dengan tangan gemetar.

Ninda lalu menyodorkan lembar kedua ke Seli. “Ini buat kamu, Sel. Buat beli keperluan, baju buat Rio, atau simpan aja.”

Seli tersentak, wajahnya pucat lalu memerah. “Nin… nggak usah! Kami udah ditampung, dikasih makan…”

“Terima kasih Kak Ninda!” Rio langsung menyambar uang itu dari tangan Ninda sebelum Seli menolak lebih jauh. “Aku mau beli mobil-mobilan! Yang besar!”

Ninda tertawa. “Biarkan, Sel. Ini hak kalian juga.” Ia memastikan uang itu dipegang Seli. “Ini cuma sedikit dari uang yang gue dapat waktu teman-teman gue manggung dadakan di Bali. Waktu itu cuma 10 menit, dapat 20 juta. Gue kebagian 4 juta. Jadi, 1,5 juta ini buat kalian bertiga. Sedikit berbagi rejeki.”

Seli memandangi uang 500 ribu di tangannya. Air mata mulai menggenang. “Nin… gue… gue nggak tahu harus bilang apa. Ini… ini pertama kalinya gue pegang uang segini.”

Mimpi-Mimpi Kecil

Lala sudah menghitung-hitung uangnya. “Aku mau beli krayon 48 warna! Sama buku gambar tebal! Terus… beli es krim buat Kak Seli dan Rio!”

Rio masih terpaku pada uangnya. “Mobil-mobilan… terus… bakso!” Ia tersenyum lebar.

Ninda tersenyum melihat mereka. “Nah, sekarang simpan baik-baik. Besok kita bisa jalan ke pasar pagi, beli yang kalian pengen.”

Saat lampu akhirnya dimatikan, empat tubuh itu berdesakan di kasur. Lala dan Rio sudah mendengkur pelan. Seli memandang langit-langit dalam gelap, jarinya masih memegang uang 500 ribu yang diselipkan di saku baju. “Nin?” bisiknya pelan.

“Hmm?”

“Makasih… bukan cuma buat uangnya. Tapi buat… buat ngasih gue dan Rio rasa punya tempat. Punya harapan.”

Ninda tersenyum dalam gelap, meraih tangan Seli di antara mereka. “Sama-sama, Sel. Selamat datang di keluarga.”

Fajar Baru untuk Semua

Malam itu, di gubuk reyot yang penuh sesak namun hangat oleh kebersamaan baru, ada kedamaian dan kebahagiaan baru. Uang 500 ribu itu mungkin kecil di mata dunia, tapi bagi tiga anak di kasur itu, ia adalah benih harapan, bukti bahwa hidup bisa berubah, dan simbol kebersamaan yang lebih berharga dari permata.

Dan bagi Ninda, malam ini adalah pengingat paling indah: kesuksesan sejati adalah ketika kamu bisa mengubah “kolong jembatan” menjadi “kasur empuk” bagi orang lain, dan membuat mata mereka berbinar dengan uang 500 ribu serta secangkir bakso impian. Mereka pun tertidur, dalam kehangatan keluarga yang tiba-tiba bertambah, penuh mimpi baru untuk esok hari.

Bagian 23 – Tawaran Emas dan Dilema Besar

Depan Gubuk Ninda: Tawaran Emas & Dilema Waktu

Suasana santai di teras gubuk Ninda mendadak tegang. Deva, Ninda, Sania, Erick, Maya, Denny, dan Lala (yang lagi asyik main gelembung sabun) sedang menikmati sore dengan es teh buatan Bu Surti, cerita-cerita ringan usai ujian harian. Senyum dan tawa pecah saat Sania ngerjain Erick. Tiba-tiba, dering hape Deva yang khas (nada getar pendek) memecah keakraban.

Deva melihat caller ID-nya. “Label,” bisiknya singkat. Wajah datarnya berubah jadi fokus total. Ia menjawab, suaranya profesional: “Halo, Pak?”

Semua diam. Hanya suara Bu Surti cuci piring dari dalam dan gelembung sabun Lala yang pecah terdengar. Mereka memperhatikan ekspresi Deva yang serius, mendengarkan.

“Iya, Pak… Tentu, tawaran yang sangat menggoda…” Deva berdiri, berjalan beberapa langkah menjauh dari lingkaran. “Baik Pak… atas tawarannya, tapi kami belum bisa pastikan dalam waktu dekat…” Ia melakukan kontak mata cepat dengan yang lain, mengangkat alis seolah bilang ‘dengerin baik-baik’. “…harus saya konfirmasikan dulu dengan anak-anak, dan sekarang… semuanya lagi di luar kota, Pak.” Matanya yang tajam memandang satu per satu temannya yang jelas-jelas ada di depannya. “Iya… nanti secepatnya saya kabari lagi. Terima kasih, Pak.” Ia menutup telepon.

Hening. Semua mata menancap ke Deva.

“Deva… loe jelas-jelas bohong,” ujar Maya, pecah kesunyian. Suaranya campur kaget dan tanya. “Kita semua di sini. Nggak ada yang di luar kota.”

“Dan loe bilang ‘belum bisa pastikan’? Padahal 500 juta, Dev! Gila!” Erick nyaris tercekik. “Kontrak album pertama aja ‘cuma’ 400 juta!”

Deva kembali ke kursinya, napas dalam. Wajahnya tidak lega, malah lebih berat. “Gimana, Dev? Ada masalah?” tanya Denny, suaranya cemas, menangkap aura negatif dari Deva.

“Not good, bro. Not good,” Deva menggeleng pelan, matanya menyapu semua wajah yang penuh tanya. “Pihak label minta kita launching album kedua…” Ia berhenti, memastikan semua mendengar. “…paling telat akhir tahun.”

“Akhir tahun?! Itu… 5 bulan lagi, Dev!” Sania terbelalak. “Masa iya?!”

“Iya. Dengan nilai kontrak 500 juta,” tambah Deva, datar, tapi bobotnya terasa. Angka itu menggantung di udara, besar, menggiurkan, tapi juga menakutkan.

Dilema Besar

Tawaran Emas: 500 JUTA! Angka yang gila. Konfirmasi kesuksesan mereka. Bisa buat investasi besar-besaran: studio sendiri, pendidikan, modal usaha keluarga, bahkan beli properti kecil. Melewatkan ini terasa seperti kebodohan.

Waktu Mustahil: 5 bulan. Padahal jadwal mereka sekarang:

  • Sekolah: Mereka kelas 12! Ujian akhir, try out, tugas seabrek, persiapan kuliah/karier. Waktu belajar harus maksimal.
  • Manggung: Komitmen tur dan acara masih padat. Fee manggung juga penting.
  • Proses Kreatif: Nulis lagu baru (minimal 8 lagu bagus), aransemen, rekaman, mixing-mastering, desain album – butuh waktu dan konsentrasi tinggi. Tidak bisa asal-asalan. Reputasi dipertaruhkan.
  • Kesehatan Fisik & Mental: Mereka sudah kelelahan. Tekanan 5 bulan bisa bikin stres berat, bahkan kolaps. Hubungan baru (Deva-Ninda, Erick-Sania, Denny-Maya) juga butuh waktu.
  • Tanggung Jawab Baru: Ninda punya Seli & Rio, yang lain juga punya komitmen keluarga.

“Itu jelas nggak enough time, Dev!” protes Maya, wajahnya mulai pucat membayangkan beban. “Kita aja bikin album pertama butuh hampir setahun, itu masih sambil sekolah biasa, belum sering manggung kayak sekarang!”

“Tapi… 500 juta, May…” Erick masih terpana. “Kita nggak bisa nolak gitu aja…”

“Nggak bisa nolak, tapi juga nggak bisa janji sesuatu yang mustahil!” sergah Sania. “Nanti kalau kita nggak bisa penuhi, malah kena denda, rusak reputasi!”

Denny menambahkan, lebih kalem tapi runcing: “Kualitas lagunya gimana? Mau asal jadi? Nanti dibilang album kedua gagal. Lebih parah efeknya.”

Suara Bijak dari Ninda

Semua mata akhirnya beralih ke Ninda. Ia diam, memeluk Lala yang mulai bingung dengan suasana tegang. “Nin? Pendapat loe?” tanya Deva, suaranya lebih lembut.

Ninda menarik napas. “500 juta itu… luar biasa. Bisa bantu banyak orang. Kayak bantu Seli, Rio, atau keluarga kalian.” Ia memandang satu per satu. “Tapi… kalian juga manusia. Aku lihat sendiri capeknya kalian. Lima bulan… kayaknya emang nggak cukup tanpa bikin kalian sakit atau… hubungan rusak.” Ia memandang Deva, lalu Erick-Sania, Denny-Maya. “Apa worth it 500 juta kalau harus bayar sama kesehatan dan kebahagiaan kalian?”

Pertanyaan Ninda menggantung. Bijak dan menyentuh inti masalah.

Deva mengangguk, menghargai kata-kata Ninda. “Loe bohong tadi karena…?” tanya Sania penasaran.

“Buat waktu,” jawab Deva tegas. “Kalau gue bilang langsung nggak bisa atau minta waktu lebih, mereka bisa nawar band lain, atau maksa. Dengan bilang ‘konfirmasi dulu sama anak-anak yang lagi di luar kota’, gue kasih kita waktu mikir, cari solusi, mungkin nego ulang tenggat waktunya.” Strategi. Khas Deva.

“Jadi… gimana solusinya?” tanya Denny, inti masalah.

Deva menatap mereka semua, matanya berbinar dengan pikiran cepat. “Kita nego. Tunjukkan jadwal kita yang gila-gilaan. Minta waktu lebih realistis, mungkin 8-10 bulan, launch awal tahun depan. Tawarkan kompensasi: mungkin bonus lagu lebih, atau jaminan tur promo lebih gila setelah lulus sekolah.” Ia jeda. “Atau… kita ambil risiko? Pilih mana yang prioritas: sekolah atau album? Tapi itu bahaya.”

Refleksi dan Candaan

Bu Surti muncul membawa gorengan hangat, memecah kesunyian. “Makan dulu, Nak-Nak. Masalah berat juga butuh perut kenyang biar pikiran jernih.”

Mereka pun menyantap gorengan, tapi pikirannya masih di angka 500 juta dan waktu 5 bulan yang mengejar.

Erick menyedot rokoknya dalam-dalam, menghembuskan asap ke langit sore yang mulai jingga. “Terasa gini ya rasanya jadi artis,” gumamnya, suara serak. “Berat juga… duit banyak, tapi tekanan ngepasin kayak tali gantung.” Ia menyeruput kopi pahit, lalu terkekeh. “Tapi ya… kalau dulu kita nggak dimarahin Deva waktu ribut di kelas, kita mungkin sekarang…” Ia menatap sekeliling, senyum lebar. “…tetap cuma ribut-ribut doang di kelas! Hahahaha!”

Tertawa pecah. Denny ikut tergelak, mengangguk-angguk. “Bener banget! Masih ingat? Kita pasti masih berantem mulu tiap mau latihan, terus merogoh kocek 200 ribu per orang buat sewa studio… yang ujung-ujungnya cuma buat ribut lagi!” Ia menirukan suara mereka dulu: “Gue bayar segini buat loe main asal?!” “Loe aja yang nggak ngikutin beat!”

Maya menyambar, matanya berbinar lucu. “Dan musiknya… ih, nggak karuan! Kayak anak ayam kehilangan induk! Bass jalan sendiri, drum ngacir, keyboard kayak orang kesurupan!” Ia menirukan gerakan jari kikuk di fret bass imajiner, membuat semua ketawa lagi.

Sania nyeletuk keras, menunjuk Deva yang sedang tersenyum kecil. “DARI DULU GUE UDAH BILANG! Penyakitnya kita itu nggak punya vokalis dan lead guitar yang bener!” Teriaknya, memancing tawa lebih kencang. “Ternyata orangnya… masih KESASAR DI BANDUNG!” Jarinya menuding Deva tajam. “Sibuk berantem sama begal geng motor sana! Hahaha!”

Deva cuma geleng-geleng, tak membantah. “Nasib,” komentarnya singkat, disambut tawa riuh.

Renungan di Senja

Maya tiba-tiba diam, senyumnya melunak. “Kalian tahu nggak sih… gue ini sebenernya jadi artis karena kepaksa sama kalian aja.” Semua memperhatikan. “Hati kecil gue kadang masih belum percaya. Lihat video kita di TV, dengar lagu kita di mana-mana… masih shock.” Ia menatap tangannya sendiri. “Apalagi waktu diterkam fans di Bali kemarin… rasanya aneh banget. Kayak nggak punya privasi lagi. Gue tipe orang yang suka sepi, kalian tahu.”

“Ini baru jadi Maya si Bassist,” sergah Sania, memecah kesunyian Maya. “Gimana kalau loe jadi Taylor Swift?!” Ia berdiri, berlagak seperti diva, memegang mic imajiner. “Yang ada loe harus nyewa bodyguard 24 jam! Makan aja diawasi! Mau ke toilet aja difoto! HAHAHA!”

Suasana kembali riuh. Erick ngakak sambil joget gaya ala Swiftie. Denny tersenyum kecut. “Untung kita cuma Pasca Tengah Malam, bukan Swift,” komentarnya, lega.

Filosofi Mengudara

Deva, yang memperhatikan dari samping, akhirnya bersuara, suaranya tenang tapi memotong tawa. “Tapi… inilah konsekuensi ‘mengudara’.” Matanya memandang satu per satu. “Kita nggak bisa milih cuma mau duitnya, fansnya, sama tepuk tangannya, tapi nggak mau tekanan dan kehilangan privasi. Semua itu paket.” Ia jeda. “Kayak album kedua ini. 500 juta? Gila. Tapi bayarnya… 5 bulan hidup kayak mesin tanpa istirahat. Kita harus pilih: mau terbang lebih tinggi dengan risiko jatuh lebih sakit, atau cari kecepatan yang bikin kita tetap bisa napas?”

Tawa tadi mereda, diganti renungan. Matahari hampir tenggelam, menerangi wajah-wajah muda yang dihiasi bekas tawa dan bayang-bayang keputusan besar. Di teras gubuk Ninda, dengan aroma gorengan dan rokok, di antara candaan tentang masa lalu yang berantakan dan kejutan jadi artis, Pasca Tengah Malam menyadari: kesuksesan mereka bukan hanya tentang musik atau uang. Tapi tentang memilih bagaimana mereka ingin terbang, tanpa melupakan orang-orang di “kolong jembatan” mereka dulu, dan tanpa kehilangan diri sendiri di tengah gemerlap.

Dan untuk itu, jawabannya tidak akan mudah.

Bagian 24 – Rahasia yang Terkuak dan Perpisahan yang Mendekat

Kamar Ninda, Siang yang Berubah Menegangkan

Suasana kamar kecil itu awalnya riang. Deva duduk bersila di lantai, dikelilingi Lala, Seli, dan Rio yang duduk lesehan dengan mata berbinar penuh antusias. “Jadi, kuda ajaib itu terbang menyusuri pelangi…” ujar Deva, suaranya biasa saja tapi cukup memikat bagi anak-anak. Ia sedang membacakan dongeng dari buku cerita bergambar yang dibelikan Ninda untuk Lala.

Tiba-tiba, ekspresi Deva berubah. Matanya menyipit, tangan kanannya menekan dadanya. “Hhk—” Suara batuk kecil tercekat. Lalu, batuknya menjadi paroksismal, hebat dan menggonggong, menghentikan cerita.

“Kak Deva?” tanya Lala, wajahnya berkerut khawatir.

Deva berdiri tiba-tiba, wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. “Aku… ke luar sebentar,” desisnya serak, suaranya tertahan. Ia bergegas keluar kamar, hampir tersandung.

Anak-anak saling pandang, bingung dan mulai takut. Dari balik jendela kamar yang terbuka, mereka melihat Deva berjalan cepat ke pojok halaman kecil, jauh dari pandangan langsung. Di sana, ia membungkuk, batuknya pecah lagi, lebih keras, lebih dalam, lebih menyakitkan terdengar. Tangannya menutup mulutnya erat-erat.

Seli, yang paling besar, berjalan pelan mendekati jendela, ingin memastikan. Apa yang dilihatnya membuat jantungnya berdebar kencang: Saat Deva menarik tangan dari mulutnya, di telapak tangannya yang terbuka, ada percik darah merah terang yang kontras dengan kulitnya yang pucat!

Deva terlihat panik. Ia melirik ke arah jendela, menangkap pandangan Seli yang terbelalak. Mata mereka bertemu. Deva menggeleng cepat, sangat cepat, dengan ekspresi “JANGAN!” yang jelas. Ia lalu bergegas ke keran air di dekat dapur luar, membuka kran deras-deras, mencuci tangan dan mulutnya dengan gugup, menyeka percikan darah itu dengan air mengalir. Air yang mengalir ke tanah sedikit berwarna merah muda.

Setelah dirasa bersih, Deva menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Wajahnya masih pucat, tapi ia berusaha tegar. Ia berjalan kembali ke kamar.

Saat masuk, Lala langsung bertanya, suara kecil gemetar. “Kak Deva… kamu kenapa? Batuknya parah banget…”

Deva memaksakan senyum kecil. “Nggak apa-apa, Lal. Cuma batuk biasa, abis minum dingin.” Ia menatap Lala, lalu Seli, dan Rio yang masih duduk bingung. Jari telunjuknya ia angkat ke bibirnya, memberi isyarat “Ssssttt… rahasia.” “Jangan bilang-bilang sama Kak Ninda ya? Nanti dia cuma khawatir sendiri. Gue udah minum obat.” Matanya memohon, terutama ke Seli yang sudah melihat darah.

Lala mengangguk pelan, masih khawatir. Seli mengatupkan bibirnya, anggukannya berat, penuh beban. Rio hanya memandang.

“Gue pulang dulu ya. Istirahat bentar,” ujar Deva cepat. Ia mengambil tas kecilnya dan bergegas keluar, meninggalkan kamar dalam keheningan yang tegang.

12 Menit Kemudian: Ninda Pulang dan Ketidaktahuan yang Menusuk

Suara Ninda dan Bu Surti terdengar dari depan. “Ayo masuk, Lal! Sel! Rio! Ibu beli tahu gejrot sama gorengan!” Ninda masuk ke kamar, wajah cerah membawa kantong belanja. Matanya langsung mencari. “Loh… Kak Deva mana, La? Tadi kan katanya mau nungguin kalian?”

Lala langsung gugup. Ia melirik Seli. “Eh… anu… Kak Deva pulang tadi, Kak. Buru-buru katanya… ada urusan penting.” Jawabannya kaku, tidak seperti biasanya yang cerewet.

“Pulang? Tapi tadi katanya mau makan siang di sini,” Ninda mengerutkan kening, sedikit bingung. Ia menatap Lala, lalu Seli. Ada sesuatu yang aneh. Lala menghindari kontak mata.

Rio membuka mulut, ingin bercerita. “Tadi Kak Deva—”

Tapi sebelum kalimatnya selesai, Seli dengan cepat meraih tangan Rio dan memencetnya pelan. “Iya, Kak, tiba-tiba dapat telepon penting. Langsung pergi,” Seli menyambung, suaranya berusaha normal, tapi nadanya sedikit datar. Ia memberi isyarat kecil pada Rio untuk diam.

Rio mengatupkan mulutnya, memandang kakinya.

Ninda memperhatikan mereka. Ada sedikit kejanggalan, tapi pikirannya penuh dengan belanjaan dan kabar baik tentang pasar tadi. “Ooh… ya udah kalau gitu. Kasihan deh, padahal ada tahu gejrot kesukaannya.” Ia menghela napas, lalu tersenyum. “Kalian tadi udah didongengin apa aja sama Kak Deva? Seru nggak?”

Lala dan Seli langsung bersemangat (agak dipaksakan) menceritakan dongeng kuda ajaib dan pelangi, berusaha mengalihkan pembicaraan. Rio ikut menyela soal bagian favoritnya. Ninda tersenyum, ikut terhanyut dalam cerita mereka. Sama sekali tidak curiga ada drama besar yang baru saja terjadi di halaman rumahnya, atau rahasia gelap yang disembunyikan Deva dengan darah dan isyarat diam.

Ruang Latihan Rumah Denny – Suasana Pemakaman yang Hidup

Lampu neon di ruang bawah tanah rumah Denny berkedip-kedip, memantulkan bayangan alat musik yang seperti monumen mati. Udara pengap bercampur bau rokok dan kopi kental. Sania menghajar drum tanpa ritme, hanya letupan frustrasi. Erick mencabik-cabik riff gitar dengan distorsi maksimal, suara parau. Maya membiarkan bass menggantung di lehernya, memandangi lantai. Denny menekan tuts keyboard tanpa suara, jemarinya menari di atas nada bisu. Ninda duduk di sudut, memeluk lutut, matanya tak lepas dari Deva yang bersandar di dinding dingin, wajahnya pucat bagai lilin di bawah sinar neon.

“Besok meeting label,” ujar Deva tiba-tiba, suaranya serak, merobek kesunyian. Semua mata menancap padanya. “Mereka tetap maksa. Album kedua harus rilis Desember. Lima bulan lagi.”

“BODOH!” Erick melempar pick gitar ke dinding. “Mereka tahu nggak kita lagi kelas 12? Ujian nasional, pendaftaran kuliah, jadwal manggung ngejar setoran buat bayar kontrakan studio?!”

“Desember itu bulan ujian akhir, Dev!” tambah Maya, suaranya tinggi panik. “Kita harus pilih: lulus sekolah atau jadi budak ngebut ngejar album?”

Deva menghela napas panjang, terdengar bunyi gesekan kertas ampas di paru-parunya. “Aku tahu. Tapi mereka nggak peduli. Kata mereka, momentum hype kita sekarang lagi puncak. Kalau nunggu lewat puasa dan lebaran…” Ia batuk kecil, menekan dadanya. “…hype bakal redup. Orang sibuk mudik, ibadah, ngumpul keluarga. Launching album di Januari-April? Sepi. Nunggu Agustus? Terlalu jauh. Bisa-bisa kita dilupain.”

Sania menjatuhkan stik drum. “Jadi kita harus giling 8 lagu baru, rekam, mixing, mastering, desain artwork, promo – dalam 5 bulan? Sambil sekolah dan manggung? Ini bunuh diri!”

Pengakuan yang Menghancurkan

Deva mendorong diri dari dinding. Badannya goyah, tapi matanya menyala dengan intensitas mengerikan. “Aku akan nulis semua lagunya.”

Ruangan mendadak senyap. Bahkan napas mereka terdengar.

“Delapan lagu. Sendiri,” Deva menegaskan. Suaranya datar, tapi bergetar halus. “Konsepnya udah jelas di sini.” Ia mengetuk pelipisnya. “Aku cuma butuh satu hal: kalian ikut semua instruksiku. Sepenuhnya. Tanpa tanya. Tanpa protes.”

Ia memandang mereka satu per satu, tatapannya menusuk. “Latihan setiap hari setelah sekolah. Minimal 3 jam. Weekend full day. Mangkir satu sesi? Keluar dari band.” Kalimat itu diucapkan dingin. “Kita rekam di sini, sistem home studio darurat. Denny, loe handle recording software. Maya, Erick, loe bantu setting mic dan kabel. Sania, loe kunci ritme. Ninda…” Ia menatap Ninda, matanya lembut sepersekian detik. “…loe jadi manajer lapangan. Pastikan kita punya makan, kopi, dan semangat.”

“Tapi Dev, fisik kita—” protes Denny.

“NGGAK ADA TAPI!” Deva membentak, diikuti batuk menggonggong yang membuatnya membungkuk, wajahnya memerah. Ninda nyaris melompat mendekat, tapi Deva mengangkat tangan, menolak. Ia berdiri tegak lagi, napas tersengal. “Aku yang paling tahu kondisi fisik kita. Aku yang paling tahu kita bisa sampai mana.” Suaranya tiba-tiba sangat rendah, hanya untuk mereka. “Percayalah… aku punya alasan kuat buat buru-buru.”

Ninda menggigit bibir. Kenangan batuk darah di halaman rumahnya, rahasia yang dipegang Seli dan Rio, badan Deva yang makin kurus… semuanya berdesir di kepalanya. “Deva… loe yakin bisa?” bisiknya, suara hampir tak keluar.

Deva tak menjawab. Ia menarik jaket hoodie hitamnya yang kebesaran. Di baliknya, badannya yang tinggal kulit pembalut tulang terlihat jelas. Tulang selangka mencuat, bentuk tulang rusuk menganga di balik kaos tipis. “Lihat ini?” suaranya parau. “Ini bukan cuma kurang tidur. Ini TBC ganas. Plus kanker paru stadium empat.”

GELAS KOPI DI TANGAN MAYA JATUH. BERDENTUM.

“Dokter kasih waktu… mungkin setahun. Mungkin kurang,” Deva melanjutkan, datar, seperti bercerita tentang cuaca. “Album kedua ini… bukan cuma buat label. Ini jadi… wasiat terakhirku. Warisan buat kalian. Aku pengen dengar musik kita sempurna… sekali lagi… sebelum aku pergi.”

Air mata Sania meledak. Erick memukul amplifier, suara keras memecah ruangan. Denny menunduk, bahunya bergetar. Maya memeluk Ninda yang sudah tak bisa menahan isak. Tangisan mereka jadi satu, menyelimuti ruang bawah tanah yang pengap.

Deva tersenyum kecil, pahit. “Jadi? Masih ada yang nggak mau ikut instruksiku? Masih ada yang nggak mau kerja keras buat 5 bulan ke depan?”

Sania bangkit, wajah basah, tapi matanya berkobar. “Gue ikut, Dev! Sampai ujung!”

“Gue juga! Ngebut 24 jam juga gue tembus!” Erick berteriak, suara serak.

Denny mengangguk, tak bisa bicara. Maya memegang tangan Ninda erat. “Kita… kita bikin album terbaik, Dev. Buat loe.”

Fajar yang Tertunda

Deva mengangguk, air mata akhirnya jatuh juga. “Makasih,” bisiknya, nyaris tak terdengar. Ia meraih gitar akustik di sampingnya. “Aku udah siapin lagu pertama. Judulnya… ‘Fajar yang Tertunda’. Mari kita mulai.”

Jari-jarinya yang kurus memetik senar. Melodi sedih tapi penuh tekad mengalir. Suaranya yang parau namun penuh jiwa mulai berbunyi: “Fajar yang tertunda… bukan akhir dari cerita…”

Di ruang bawah tanah yang berbau keringat, rokok, dan air mata, Pasca Tengah Malam memulai sprint terakhir mereka. Mengejar waktu yang tinggal sedikit, melawan penyakit yang menggerogoti, demi menciptakan delapan lagu yang akan menjadi batu nisan sekaligus monumen abadi bagi seorang Deva.

Perjalanan Pulang Ninda: Tangis yang Tertahan

Suara bass Maya, drum Sania, dan gitar Erick masih bergemuruh di ruang bawah tanah Denny saat Ninda tiba-tiba berdiri. Air matanya yang selama ini ditahan, tumpah deras. Tanpa kata, ia menyambar tas kecilnya dan berlari keluar, menyusuri tangga sempit, meninggalkan melodi sedih “Fajar yang Tertunda” dan keheningan yang menyergap setelahnya.

“Nin—!” teriak Deva, suaranya parau, tapi Ninda sudah menghilang ke atas. Ia ingin mengejar, tapi kakinya terasa berat, dadanya sesak. Ia terduduk lagi di lantai dingin, memegangi kepala. “Apa mestinya gue nggak jadian aja ya?” gumamnya, suara hancur. “Apa mestinya gue rahasiain aja penyakit gue? Kalau kayak gini kan gue serba salah jadinya…”

Maya berjongkok di depan Deva, memandang matanya yang penuh penyesalan. “Dev, Ninda nangis bukan karena marah sama loe. Dia nangis karena sakit. Karena takut kehilangan. Karena baru sadar betapa beratnya beban yang loe pikul sendirian selama ini.”

Di Teras Gubuk Reyot: Air Mata dan Keikhlasan

Deva tiba di depan gubuk Ninda, napasnya tersengal. Ia melihat Ninda duduk di teras, memeluk lutut, wajahnya sembunyi di antara lengan. Bahunya masih terisak.

Dengan langkah berat, Deva mendekat. Ia duduk di anak tangga teras, tidak menyentuh, tidak terlalu dekat. “Nin…”

Ninda mengangkat muka. Matanya bengkak, merah, penuh kesedihan yang dalam. “Kenapa… kenapa nggak bilang dari dulu?” bisiknya, suara serak. “Waktu di Bali… waktu kita jadian… waktu bagi-bagi uang buat Seli Rio… loe udah tahu… udah tahu umur loe nggak lama?”

Deva menunduk. “Aku takut,” akunya, jujur. “Takut loe lari. Takut loe ngeliat gue dengan kasihan. Takut hubungan kita cuma jadi tentang penyakit, bukan tentang kita lagi.” Ia memandang Ninda. “Dan… aku pengen loe kenal gue, senang sama gue, sebelum tahu yang ini. Pengen punya kenangan yang murni, bukan dikotakin sama bayang-bayang kematian.”

Ninda menangis lagi. “Tapi sekarang… sekarang kenangannya udah dikotakin, Dev! Setiap lihat loe, yang keinget loe batuk darah! Yang keinget loe cuma punya sedikit waktu!”

“Iya,” Deva mengangguk, air matanya jatuh juga. “Dan aku minta maaf udah egois. Kalau… kalau ini terlalu berat buat loe, Nin… loe boleh pergi. Aku nggak akan marah. Aku ngerti. Aku nggak mau loe tersiksa.”

Ninda terdiam lama, memandangi Deva. Melihat ketulusan di matanya, melihat kelemahan di balik ketegarannya. Dia berdiri, mendekati Deva. Tangannya yang kecil menyentuh pipi Deva yang basah. “Aku nggak mau pergi, Deva,” bisiknya, suaranya parau tapi jelas. “Aku mau nemenin loe. Sampai… sampai nanti. Kalau waktunya cuma sedikit, biar kita isi dengan semuanya. Jangan disia-siakan.”

Deva terkesiap. Ia menarik Ninda dalam pelukan erat, wajahnya menyembunyikan isak tangis di bahu Ninda. Di teras gubuk reyot, di bawah langit senja yang mulai kelabu, mereka berdua menemukan bentuk baru cinta: bukan lagi tentang kebahagiaan sempurna, tapi tentang kesetiaan menemani dalam penderitaan, dan keberanian mencintai meski tahu akan berakhir dengan kehilangan.

Di Kamar Ninda: Air Mata dan Penerangan untuk Hati Kecil

Suasana kamar yang biasanya penuh tawa dan cerita kini digantikan oleh isak tangis Ninda yang tersedu-sedu. Ia duduk di lantai, punggung bersandar pada kasur, wajahnya basah, mata merah bengkak. Seli, Rio, dan Lala yang tadinya asyik bermain kartu, langsung diam, wajah mereka berubah penuh kecemasan.

“Kak Ninda? Kenapa?” tanya Seli, suaranya kecil, hati-hati.

Ninda menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. “Tadi… tadi Kak Deva… di rapat band…” suaranya terputus-putus. “Dia… dia sakit parah, Sel. Sakit yang nggak bisa sembuh.”

“Sakit apa, Kak?” Lala menyela, wajahnya cemas.

“Sakitnya di dalam, Lal. Di paru-parunya. Namanya TBC sama kanker. Kayak… kayak ada monster jahat di dalam tubuhnya yang ngerusak perlahan-lahan.”

“Kanker?” Rio mengulang, wajahnya pucat. “Kayak Om Budi tetangga kita dulu yang… yang meninggal?”

Ninda mengangguk pelan, air matanya jatuh lagi. “Iya, Rio. Sejenis itu.”

Lala langsung menangis. “Nggak mau! Kak Deva nggak boleh meninggal! Kak Deva harus sembuh!”

Seli terdiam, matanya juga berkaca-kaca. “Makanya… makanya Kak Deva batuk darah waktu itu?” bisiknya pada Ninda.

Ninda terkejut. “Loe… loe lihat?”

Seli mengangguk, malu dan sedih. “Waktu Kak Deva ngedongengin kita. Dia lari keluar, batuk parah, terus… ada darah di tangannya.”

Ninda menarik mereka semua dalam pelukan. “Dokter bilang… Kak Deva mungkin cuma punya waktu setahun. Atau kurang. Makanya dia buru-buru banget mau bikin album kedua.”

“Tapi Kak Deva nggak boleh pergi!” Lala menjerit kecil.

Seli mengangkat muka, matanya penuh tekad. “Terus… kita harus bantu Kak Deva, Kak Nin. Bikin albumnya bagus. Biar dia senang.”

“Aku mau bikin gambar buat Kak Deva!” seru Lala tiba-tiba.

“Aku bantu Kak Deva bersihin gitarnya!” ujar Rio.

“Aku… aku bakal masakin Kak Deva makanan enak, biar kuat!” tambah Seli.

Ninda memeluk mereka lagi. Di tengah kesedihan yang dalam, ada kehangatan baru yang tumbuh. Kesadaran akan waktu yang terbatas membuat setiap momen bersama menjadi lebih berharga. Malam itu, mereka tidur berpelukan lebih erat dari biasanya, dengan janji diam-diam di hati: Membuat sisa waktu Deva berarti, untuk dia, dan untuk mereka semua.

bagian 25: Kamar Denny – Malam Hujan dan Rencana Masa Depan

Hujan deras menghantam atap dan jendela, menciptakan irama konstan yang nyaris menenggelamkan suara mereka. Di dalam kamar Denny yang luas namun nyaris kosong, dua kasur king size bersebelahan di lantai membentuk pulau kehangatan di tengah kegelapan. Lampu sudah dimatikan, hanya tersisa cahaya remang-remang dari lampu jalan yang menyelinap lewat tirai. Di atas kasur itu, enam remaja bersandar pada bantal-bantal, berpelukan dengan pasangan masing-masing, membentuk tiga pulau kecil keintiman dalam satu lautan kasur.

Tiga Pasangan dalam Pelukan

1. Deva & Ninda: Deva berbaring telentang, satu lengan menjadi bantal untuk Ninda yang meringkuk di sisinya, kepala di bahunya. Tangan Ninda menelusuri lengannya yang kurus tapi masih terasa kuat. “Besok ujian terakhir… Sejarah,” bisik Ninda. “Kamu siap?” Deva menoleh, mencium ubun-ubunnya. “Siap lulus. Siap melanjutkan hidup.” Jawabannya punya dua makna. Ninda memeluknya lebih erat.

2. Erick & Sania: Erick tidur menyamping, memeluk Sania dari belakang, dagu di atas kepalanya. Sania memegangi lengannya yang melingkari pinggangnya. “Aku masih bingung, Ric,” gumam Sania. “Kuliah ambil apa? Musik atau Psikologi? Aku suka beat drum, tapi juga suka melihat orang senang.” Erick tertawa kecil. “Ambil Psikologi aja, San. Biar bisa terapi aku yang stres gara-gara kamu.” Sania mendorongnya, cekikikan. “Dasar! Aku serius!” “Aku ambil Manajemen Bisnis,” Erick akhirnya serius. “Biar nanti kita bisa kelola band ini sendiri, punya label, tidak dikontrol orang.”

3. Denny & Maya: Mereka berhadapan, saling berpelukan, kaki berselang-seling. Denny memainkan helai rambut Maya. “Aku pasti ambil Musik Komposisi di ISI Jogja,” ujar Denny yakin. “Ingin mendalami teori, aransemen… membuat sesuatu yang timeless.” Maya mengangguk, matanya berbinar di gelap. “Aku ikut. Ambil Desain Suara atau Teknik Audio. Biar kita komplit. Denny mengatur nada, aku mengatur bunyi.” Mereka tersenyum, saling mengerti tanpa banyak kata. “Jogja… asyik tuh,” bisik Maya. “Bisa latihan di alam.”

Percakapan Mengalir di Bawah Rintik Hujan

“Kalian mau ke mana aja sih?” tanya Sania, mengalihkan perhatian dari Erick yang mulai usil mencubit perutnya.

“Aku ngincer Teknik Industri di UI,” jawab Ninda dari pelukan Deva. “Biar bisa bantu urus produksi merchandise atau logistik tur nanti. Sekalian dekat sama rumah.” Deva memeluknya lebih kencang. Pilihan praktis, tapi penuh arti. Tetap dekat, tetap membantu.

“Aku ambil Pendidikan Seni Musik di UNJ,” ujar Deva tiba-tiba, mengejutkan semua. “Ingin mengajar. Memberi ke anak-anak apa yang aku bisa. Sebelum…” Ia tak menyelesaikan, tapi semua paham. “Warisan,” bisik Ninda, mencium tangannya. Ruangan hening sejenak, diisi rintik hujan dan rasa haru.

“Kita akan tetap band kan?” tanya Denny, suaranya kecil tapi tegas. “Meski kuliah beda kota? Band tetap jalan?”

“Harus!” sahut Erick cepat. “Weekend kita kumpul. Liburan rekaman. Teknologi sekarang bisa kolaborasi online buat nulis lagu. Pasca Tengah Malam tidak mati!”

“Benar,” Maya menambahkan. “Album kedua ini bukan akhir. Ini baru babak baru. Kita akan terus mengudara, buat Deva.” Nama ‘Deva’ terdengar lebih akrab, lebih dalam.

“Buat kita semua,” koreksi Sania, memegang tangan Erick. “Buat mimpi kita.”

Pencapaian dan Kehangatan

“Tujuh lagu sudah rampung,” ujar Deva, mengubah topik ke pencapaian konkret. “Tinggal satu lagi. ‘Fajar Terakhir’. Lagu penutup.” Suaranya berat. Semua tahu itu akan menjadi lagu perpisahan.

“Besok ujian terakhir,” Ninda menambahkan. “Terus… fokus rekam, mixing. Desember… kita launch.” Kata ‘Desember’ terasa seperti garis finish sekaligus tebing.

“Kita bisa,” bisik Maya, lebih pada dirinya sendiri.

“Pasti bisa,” Denny menegaskan, memeluk Maya.

Hujan di luar masih deras. Di dalam, kehangatan tubuh dan keintiman pelukan menciptakan ruang aman. Percakapan mulai melambat, digantikan desahan napas yang mulai teratur. Mata mulai berat.

“Aku dengar kabar,” ujar Erick tiba-tiba, setengah mengantuk. “Katanya Bu Susana mau nyuruh kita jadi pembicara di acara kelulusan. Kasih motivasi ke adek kelas.”

Sania terkekeh. “Mereka mau dengar apa? ‘Tips sukses jadi artis sambil sekarat’?”

“San!” tegur Maya, tapi juga tertawa kecil.

“Benar juga sih,” Deva bergumam, suara mulai lirih. “Kisah kita… tidak biasa. Tapi penuh pelajaran.” Tangannya meraih tangan Ninda, memegang erat.

“Terutama pelajaran buat jangan merokok,” timpal Erick sok bijak, disambut cekikan dan dorongan dari Sania.

Tawa kecil itu menjadi pengantar tidur. Satu per satu, mereka tertidur dalam pelukan pasangannya, di atas kasur raksasa yang menjadi markas sementara perjuangan dan cinta mereka.

• Deva & Ninda: Deva tertidur lebih dulu, napasnya agak berat tapi tenang. Ninda menatap profilnya di remang cahaya, berbisik doa, lalu menutup mata, berjanji menjaga mimpinya.

• Erick & Sania: Erick mendengkur pelan. Sania memeluk lengannya, tersenyum kecil dalam tidur.

• Denny & Maya: Denny memeluk Maya erat. Maya bersandar di dadanya, wajah damai.

Hujan terus menghujam, tapi di kamar Denny, enam jiwa muda itu tidur dalam damai, peluh, dan pelukan. Mereka telah melewati ujian sekolah dan tujuh lagu. Tinggal satu lagu terakhir, satu ujian terakhir, dan satu fajar terakhir yang harus mereka hadapi bersama. Malam ini, mereka beristirahat. Besok, perjuangan terberat dimulai. Tapi setidaknya, mereka punya kasur raksasa ini, pelukan hangat, dan keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, Pasca Tengah Malam akan terus mengudara, dalam musik, dalam kenangan, dan dalam ikatan yang takkan putus meski salah satu bintangnya telah padam.


Gubuk Reyot – Malam Hujan yang Berisik dan Penuh Cerita

Di luar, hujan deras mengamuk. Angin menderu-deru menerpa atap seng, menciptakan suara gemuruh seperti drum raksasa. Air mengalir deras di selokan sempit depan rumah, membentuk genangan yang semakin luas. Tapi di dalam gubuk kecil itu, ada kehangatan yang tak tergoyahkan.

Kamar tidur utama (kamar Ayah-Ibu) terlalu kecil untuk lima orang. Tapi malam ini, sebuah kasur tambahan (hasil beli dari uang Ninda) digelar di lantai. Pak Kardi duduk bersandar di dinding, Rio yang sudah mengantuk tidur telungkup di pangkuannya, selimut tebal menyelimuti tubuh kecilnya. Di sebelahnya, Bu Surti duduk bersila, Lala meringkuk di satu sisinya dan Seli di sisi lain, kepala mereka bersandar di pundak Ibu. Selimut besar yang sama menyelimuti ketiganya.

Lampu kamar Ninda di seberang sudah gelap gulita. Di kamar ini, hanya ada cahaya redup dari lampu minyak kecil di atas lemari kayu, menerangi wajah-wajah yang ditemani bayangan-bayangan menari di dinding bilik bambu.

Suara hujan dan angin memaksa mereka untuk berbicara lebih keras. Tapi justru menciptakan suasana intim, seperti oasis dalam badai.

Cerita Masa Lalu yang Menghangatkan

“Dulu, waktu Ninda lahir…” Bu Surti memulai, suaranya hangat mengalahkan deru hujan. Tangannya membelai rambut Lala dan Seli bergantian. “…hujan juga deras begini. Malah lebih kencang. Petir sambar-sambaran. Rumah kita waktu itu masih agak bagus, lho. Masih di kampung sebelah, dekat kali.”

Pak Kardi menyambung, senyum kecil di bibirnya yang keriput. “Iya. Aku lari cari dukun beranak tengah malam, nyebrang kali yang airnya udah mulai pasang. Sepatu aja tidak pakai, takut kebasahan. Slup slup slup di lumpur…” Ia menirukan suara, membuat Rio yang setengah tidur menggelinjang kecil.

“Terus? Terus, Yah?” tanya Lala penasaran.

“Terus… waktu balik sama dukunnya, air udah nyampe lutut! Tapi Alhamdulillah, pas datang, Ninda udah lahir! Nangisnya kencang banget, kayak mau saingan sama suara petir!” Bu Surti tertawa, matanya berbinar mengingat. “Kecil aja udah pemberani, anak itu.”

“Kalau aku, Bu? Waktu lahir gimana?” tanya Lala.

“Kamu?” Bu Surti mencubit pipi Lala lembut. “Kamu lahirnya cerah banget. Matahari pagi masuk jendela. Tapi… waktu itu kita udah pindah ke sini.” Suaranya sedikit redup. “Keadaan udah susah. Tapi kamu lahir dengan tenang, senyum terus, kayak bawa keberuntungan.” Ia memandang Seli dan Rio. “Kayak kalian sekarang. Bawa keberuntungan buat keluarga ini.”

Seli tersenyum malu, memeluk lengan Bu Surti lebih erat. Rio sudah tertidur pulas di pangkuan Pak Kardi, mungkin bermimpi tentang Kak Deva atau mobil-mobilan.

Refleksi tentang Perjalanan Hidup

“Kenangan dulu… waktu kita belum separah ini,” gumam Pak Kardi, matanya menerawang ke lampu minyak. “Punya sawah kecil, rumah lumayan. Tapi musibah datang… banjir besar, panen gagal, hutang menumpuk… akhirnya mengungsi ke sini, jadi pemulung.” Ia menghela napas, tapi bukan nada menyesal. “Tapi lihat sekarang… Ninda pintar, Lala sehat, kita dapat Seli-Rio, dapat Nak Deva yang baik… rezeki tidak ke mana.”

“Iya,” Bu Surti mengangguk, matanya berkaca-kaca, tapi senyum tak hilang. “Dulu punya rumah bagus, tapi kadang hati kosong. Sekarang rumah reyot, tapi isinya penuh cinta dan tawa.” Ia menatap Rio yang tidur lelap, lalu Seli dan Lala yang mulai mengantuk. “Dan malam-malam kayak gini… hujan deras, kita berlima berkumpul, cerita-cerita… ini lebih berharga dari rumah mewah.”

Hujan di luar masih menggila. Tapi di dalam, kehangatan pelukan dan cerita lama menjadi mantra penangkal dingin. Lala dan Seli perlahan menutup mata, tertidur dalam dekapan Bu Surti, senyum kecil masih mengembang. Pak Kardi memandangi keluarganya yang tidur, lalu mematikan lampu minyak dengan hati-hati. Ruangan gelap, hanya diterangi kilat sesekali dari celah dinding dan suara hujan yang tak henti.

Di kegelapan, dengan Rio yang hangat di pangkuan dan desahan napas tenang Bu Surti di sampingnya, Pak Kardi berbisik syukur. Gubuk reyot ini mungkin tak punya banyak hal, tapi malam ini, ia menyimpan harta karun yang tak ternilai: keluarga yang utuh, cerita yang menghangatkan, dan ketabahan yang tumbuh dari kerasnya hidup.

Mereka pun tertidur, diselimuti derai hujan dan kepastian bahwa esok hari, meski berat, akan mereka hadapi bersama. Seperti Ninda dan Deva di seberang kota, mereka juga punya fajar untuk ditunggu, meski langit malam ini gelap dan basah.

BAGIAN 26: Ruang Listening Room “Harmoni Studio” – Dibungkam oleh Kejujuran

Ruangan kedap suara itu gelap, hanya diterangi layar monitor besar yang menampilkan waveform delapan lagu. Enam kursi ergonomis diduduki para produser kawakan label – orang-orang yang sudah puluhan tahun berkecimpung, mendengar ribuan lagu, sulit terkejut. Tapi malam ini, hening yang pekat dan berat menyergap sejak lagu pertama diputar.

Yang mereka dengar BUKAN Pasca Tengah Malam yang mereka kenal.

Gone is the explosive punk-rock energy of “Mengudara.” Gone are the heavy riffs and driving beats. Yang mengalir dari speaker kelas dunia itu adalah:

8 Lagu yang Mengubah Segalanya

1. “Pasca Tengah Malam” (Lagu Pembuka): Hanya denting piano minor Denny yang melankolis, diiringi double bass Maya yang dalam dan samar-samar gesekan biola. Vokal Deva masuk, suaranya parau, lebih parah dari biasanya, tapi jernih dalam kegetirannya. Liriknya berbicara tentang jam 3 pagi, kejujuran dalam gelap, dan bayang-batang yang panjang. “Di antara hembus napas dan dentang jam / Kebenaran terkuak, bukan mimpi semu…” Produser A (50an, berkacamata) menutup mata, alisnya berkerut dalam. Ini bukan lagu, ini pengakuan.

2. “Detik yang Berharga”: Ritme jazz lebih upbeat, tapi tetap terasa getir. Sania memainkan brush pada drum, bukan stik. Ada sentuhan blues di solo gitar Erick yang pendek. Lirik Deva tentang secangkir kopi dingin, senyum tak sengaja, cahaya matahari pagi yang tiba-tiba terasa mahal. “Kau rekam ini dalam diam, Dev?” bisik Produser B (wanita, 40an) pada rekannya, matanya berkaca-kaca. Ia mendengar apa yang tersirat: keterbatasan waktu.

3. “Surat untuk Esok”: Ballad piano-orkestra penuh. String section mengalun dramatis. Vokal Deva berusaha kuat di chorus, tapi ada desahan kecil yang tertangkap mic. Pesannya penuh harap untuk masa depan, tapi nada dasar dan pilihan katanya… terasa seperti perpisahan. Produser C (pria muda, biasanya kritis) menghela napas panjang, mengetuk-ngetuk armrest kursi.

4. “Fajar Terakhir”: Lagu yang seharusnya menjadi anthem harapan, terdengar seperti doa yang putus asa. Ada elektrifikasi lembut di gitar, paduan suara latar yang menyayat. Deva berteriak lemah di bridge: “Beri aku satu fajar lagi! Untuk melihat mereka tersenyum…” Produser D (paling senior, 60an) melepas kacamatanya, mengusap matanya. Ia tahu ini bukan metafora.

5. “Ruang Hampa”: Hanya Deva dan gitar akustiknya. Suara jari menyentuh senar, napasnya yang berat, terdengar jelas. Lirik tentang kesepian di tengah keramaian, topeng yang melelahkan. “Ini… rekaman demo?” tanya Produser E pelan. Tapi kualitas suaranya jernih. Disengaja. Untuk menunjukkan kerapuhan.

6. “Janji pada Angin”: Jazz ballad dengan sentuhan folk. Harmonika kecil oleh Denny. Liriknya penuh penyesalan halus dan janji yang mungkin tak terpenuhi. “Aku berjanji pada angin yang berlalu / Akan kujaga mereka seperti mataharimu…” Produser F (ahli sound engineering) memperhatikan level audio. Ia terpesona oleh dinamika vokal Deva – lemah di satu bagian, tiba-tiba kuat penuh emosi, lalu kembali lemah. Seperti napas hidupnya.

7. “Bintang Jatuh”: Lofi hip-hop beat ringan oleh Sania, dihiasi piano jazzy dan flute elektronik. Liriknya puitis, tentang bintang yang bersinar singkat tapi terang, meninggalkan jejak di langit dan hati. Metaforanya terlalu jelas. Produser B tidak bisa menahan air mata yang menetes.

8. “Selamanya di Hati” (Lagu Penutup): Hanya piano dan vokal. Minimalis. Sangat intim. Suara Deva paling lemah, paling jujur. Liriknya sederhana: tentang kenangan, kehangatan, dan keyakinan bahwa cinta dan musik takkan mati. Ending-nya fade out dengan denting piano tunggal dan desahan Deva yang terdengar seperti… pelepasan. “Sial…” desis Produser C, suaranya serak. Ruangan sunyi sejenak setelah lagu berakhir.

Reaksi Para Produser

Hening itu lama. Sangat lama. Akhirnya, Produser A (Senior) berbicara, suaranya berat:

“Ini… bukan album musik. Ini diary terakhir. Sebuah jiwa yang menuangkan segalanya sebelum padam.” Ia menggeleng. “Perubahan genre? Dari punk ke lofi jazz ballad? Itu bukan perubahan. Itu evolusi paksa oleh penderitaan. Mereka memilih soundscape yang bisa membawa beban emosi seberat ini.”

Produser B (Wanita): “Komposisinya… jauh lebih kompleks dari kelihatannya. Jazznya bukan sekadar jazz. Ada blues dalam kesedihannya, orkestra dalam keagungan pesannya, lofi dalam kerentanannya. Setiap lagu punya warna orkestrasi tersembunyi yang cerdas.” Ia menunjuk monitor. “Dengar ‘Fajar Terakhir’ itu. Paduan suara latar yang naik pelan di belakang teriakannya… itu jenius dan menghancurkan hati.”

Produser F (Sound Engineer): “Teknik rekaman? Home studio? Luar biasa. Mereka mempertahankan semua ‘kekurangan’ yang justru jadi kekuatan. Suara napas Deva, gesekan senar, denting jari di fretboard… itu semua disengaja. Memberikan keintiman dan keaslian yang menyakitkan. Ini rekaman paling jujur yang pernah saya dengar.”

Produser D (Paling Senior): Bangkit dari kursinya, wajahnya berlinang air mata yang tidak ia usap. “Lirik… Tuhan, liriknya. Setiap kata punya lapisan makna. Yang tersurat indah, yang tersirat… mengerikan. Ini bukan lagi lagu cinta atau motivasi. Ini adalah surat wasiat yang dinyanyikan. ‘Surat untuk Esok’? Itu jelas pesan untuk mereka yang ditinggalkan. ‘Selamanya di Hati’? Itu perpisahan.” Ia memandang yang lain. “Kita tidak bisa sentuh ini. Tidak boleh ada mixing ulang, tidak boleh ada tambahan produksi berlebihan. Rilis apa adanya. Ini suara terakhir Deva. Biarkan ia berbicara sejujurnya.”

Semua mengangguk dalam diam. Tidak ada debat. Tidak ada catatan revisi. Hanya rasa kagum yang dalam, sedih, dan hormat.

Produser E: “Album pertama mereka tentang ‘Mengudara’. Album kedua ini… tentang mendarat. Tentang menghadapi tanah keras bernama kenyataan. Tentang menemukan keindahan dan kejujuran di sana, meski itu berarti akhir.” Ia menghela napas. “Mereka tidak hanya meluncurkan album. Mereka meluncurkan jiwa. Dan kita… kita hanya penjaga sisa-sisa cahayanya.”

Keputusan bulat: Album “Pasca Tengah Malam” (judul albumnya sendiri menjadi lagu pembuka yang reflektif) akan dirilis persis seperti yang dikirim Deva. Tanpa perubahan. Sebagai monumen terakhir bagi seorang jenius muda yang mengubah derita menjadi seni, dan bagi sebuah band yang menemukan kedewasaan pahit di tengah batas waktu yang mengerikan.

Ruangan itu pun bubar dalam diam, masing-masing membawa beban emosi dan kekaguman pada Pasca Tengah Malam yang sama sekali baru, dan mungkin, untuk terakhir kalinya.


Gelombang Euforia & Kejutan yang Menggugah

Sebelum Rilis: Antisipasi Menggila

Gosip dan rumor meledak di dunia maya: “Pasca Tengah Malam rilis album baru Desember ini!” Tagar #PTMAlbum2 langsung trending nomor satu. Di seluruh Indonesia, terutama di kalangan remaja SMA:

  • Group-chat kelas meledak: “GILA! BARU SETAHUN UDAH ALBUM BARU! KEREN BANGET!” “Apa judulnya? Masih ‘Mengudara’ gaya?” “Pasti lagunya lebih kencang! Erick janji riff gila-gilaan!”
  • Kantin sekolah riuh: “Kita patungan beli albumnya yuk!” “Nanti streaming bareng pas rilis!” “Mudah-mudahan ada konser dekat sini!”
  • Podcast dan radio dibanjiri request: “Kapan Pasca Tengah Malam mau diwawancara?” “Kita mau bahas album barunya!” Host musik ramai-ramai mengajak kolaborasi.
  • Televisi berebut jadwal: Acara musik dan talkshow ternama saling mematok tanggal untuk wawancara eksklusif. “Mereka artis paling hot tahun ini!” kata seorang produser. Promo “Album Baru Pasca Tengah Malam – Desember!” bertebaran di TV, billboard, dan media sosial.

Ekspektasi tinggi menggantung. Fans membayangkan album kedua yang lebih kuat, lebih energik, lebih “mengudara” dari yang pertama. Gambar Deva dengan gitarnya, Sania di drum, Maya dengan bass, menjadi wallpaper jutaan HP.

Saat Rilis: Kejutan, Kebingungan, dan Kemudian… Keharuan Mendalam

Tanggal rilis tiba. Album “Pasca Tengah Malam” (judul album sekaligus lagu pembuka) meluncur di platform digital. Video klip “Fajar Terakhir” dirilis di YouTube. Langsung, 500 ribu download dan jutaan stream tercapai dalam 2 minggu! Tapi…

Reaksi awal: KEBINGUNGAN

  • Komentar YouTube “Fajar Terakhir”: “Ini beneran Pasca Tengah Malam? Kok jazz melo gini?” “Mana distorsi gitarnya? Mana teriakan Sania?” “Deva kok nyanyinya pelan banget? Kayak orang capek…” “Lagu apa ini? Aneh. Tidak keren kayak dulu.”
  • Forum Musik Ramai: “Genre-nya kok beda banget? Jualan nama doang?” “Ini mah album solo Deva, bukan PTM!” “Kecewa berat. Ditunggu-tunggu malah dikasih lagu tidur.”
  • Group-chat sempat senyap: “Guys… udah dengar? Aku… agak bingung.” “Jujur, aku kaget. Tidak nyangka bakal slow banget.”

Tapi kemudian… sesuatu terjadi. Orang mulai mendengarkan lebih dalam. Bukan sekadar mencari lagu galau, tapi meresapi lirik dan nuansa.

Video Klip “Fajar Terakhir” Jadi Titik Balik

Gambar Deva yang jauh lebih kurus, matanya dalam tapi penuh tekad, menyanyi dengan suara parau namun penuh jiwa: “Beri aku satu fajar lagi! Untuk melihat mereka tersenyum…” Adegan flashback ke studio rekaman sederhana, ke Ninda yang memandangnya penuh cemas, ke anggota band yang sesekali menunjukkan wajah lelah dan haru. Klimaksnya saat Deva menatap kamera, matanya berkaca-kaca, suaranya hampir terpecah di nada tinggi, diiringi dentuman orkestra yang menyayat.

Reaksi Bergeser: Dari Bingung ke Tersentuh Hingga Keharuan

Komentar YouTube Berubah

“Aku ulang dengar… dan nangis. Ini dalam banget.” “Lirik ‘Fajar Terakhir’… ini tentang perjuangan hidup ya? Deva sakit?” “Baru ngeh, suaranya beda banget. Kayak ada beban berat.” “Ini bukan lagu, ini potret jiwa.” “Maafin aku yang komentar buruk tadi. Luar biasa.”

Pengamat Musik Memuji

Blog-blog dan media musik ramai-ramai mempublikasikan review berbunga-bunga. “Pergeseran Genre yang Berani dan Brilliant!” “Pasca Tengah Malam Menemukan Kedewasaan Musikal yang Menyentuh Hati.” “Lirik-lirik di album ini adalah puisi tentang kehidupan, waktu, dan kehilangan yang paling jujur dalam sejarah musik Indonesia baru.”

Mereka memuji kompleksitas aransemen jazz yang minimalis namun kaya, permainan bass Maya yang seperti aliran sungai, drum Sania yang penuh feel, piano Denny yang menghantui, dan terutama vokal Deva yang menjadi instrumen paling emosional.

Podcast dan Talkshow Jadi Sesuatu yang Berbeda

Saat Pasca Tengah Malam muncul di TV, suasana tidak lagi gegap gempita. Pembawa acara bertanya tentang proses kreatif. Jawaban Deva singkat, penuh makna: “Kami cuma ingin jujur. Dengan musik, dengan diri sendiri.”

Penampilannya yang kurus dan sesekali batuk kecil (yang coba ditutupi) menarik perhatian. Ninda sering memandangnya dengan tatapan cemas. Fans yang melihat mulai menghubungkan titik-titik: perubahan genre, fisik Deva, lirik yang gelap… spekulasi tentang penyakit Deva mulai beredar, menambah aura tragis dan hormat pada album itu.

Fans Remaja Mulai “Mengerti”

Mereka yang awalnya kecewa, mulai mendengarkan ulang. Di kamar tidur, sambil belajar, di perjalanan. “Surat untuk Esok” membuat mereka merenung. “Detik yang Berharga” membuat mereka menghargai momen kecil. “Selamanya di Hati” membuat banyak orang menelepon orang tua atau sahabat.

Album itu menjadi teman di malam-malam sunyi, menemani tugas sekolah, dan memberikan kedalaman yang tidak terduga. “Aku lebih suka album pertama yang enerjik, tapi album ini… bikin membuktikan kalau PTM bukan band biasa,” tulis seorang fans di Twitter.

Penampilan Langsung yang Menghanyutkan

Saat mereka membawakan lagu-lagu baru di acara musik TV, suasana magis tercipta. Panggung sederhana, lighting temaram. Deva duduk di bangku, memegang mic, menyanyi dengan mata terpejam. Maya, Denny, Sania, Erick bermain dengan penuh perasaan, bukan energi. Ninda sering berdiri di sisi panggung, memperhatikan.

Penonton di studio dan di rumah terpaku, banyak yang menitikkan air mata, merasakan getaran emosi yang jarang mereka dapatkan dari penampilan musik biasa. Tidak ada teriakan histeris, hanya tepuk tangan yang panjang dan hening penuh hormat usai lagu selesai.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Kesuksesan

Album “Pasca Tengah Malam” menjadi lebih dari sekadar kesuksesan komersial. Ia menjadi fenomena kultural. Sebuah percakapan tentang hidup, kematian, kejujuran, dan arti meninggalkan jejak.

Album pertama membuat mereka terkenal. Album kedua membuat mereka dianggap, dihormati, dan dicintai dengan cara yang jauh lebih dalam. Keberanian mereka berubah genre bukan dilihat sebagai kesalahan, tapi sebagai bukti kedewasaan artistik dan kejujuran yang langka.

Di balik euforia penjualan dan pujian kritis, ada getir yang dirasakan oleh siapa pun yang mendengar dengan hati: bahwa keindahan album ini lahir dari penderitaan, dan cahaya Pasca Tengah Malam mungkin sedang mencapai puncaknya, bersiap untuk… “Fajar Terakhir”.

Kesuksesan itu terasa pahit-manis, seperti lagu-lagu mereka, dan semua mata kini tertuju pada Deva, menyadari bahwa setiap penampilan, setiap lagu, mungkin adalah hadiah terakhir dari seorang musisi muda jenius yang sedang berlomba dengan waktu.

bagian 27: Tur 10 Kota: Sorak-Sorai, Topeng, dan Bayang-Bayang Kekhawatiran

Tur promosi album kedua Pasca Tengah Malam menjadi fenomena yang kontradiktif dan penuh emosi. Di atas panggung, mereka disambut sorak-sorai meriah dari puluhan ribu penonton di sepuluh kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Yogyakarta, Bali, Palembang, Semarang, Malang). Lagu-lagu dari album baru – meski lebih tenang dan dalam – diterima dengan hening yang menghanyutkan saat lagu dimainkan, diikuti tepuk tangan gemuruh yang penuh rasa hormat usai. Penjualan merchandise ludes, tiket sold out, trending topic di setiap kota.

Tapi di balik kemeriahan itu, kekhawatiran fans mulai memuncak, dipicu oleh satu hal: Deva.

Tanda-Tanda yang Mengkhawatirkan

Topeng dan Kacamata Hitam

Di setiap penampilan, baik di panggung besar, bandara, hotel, atau acara meet-and-greet singkat, Deva selalu mengenakan masker wajah (biasanya masker kain hitam atau surgical mask) dan kacamata hitam besar. Bahkan saat menyanyi di panggung yang panas, masker hanya diturunkan sejenak untuk bernyanyi, lalu dipakai kembali. Kacamata hitam jarang dilepas. Anggota band lainnya? Tampil normal. Sania tetap energik, Maya dan Denny tersenyum, Erick melompat-lompat. Kontras ini mencolok.

Fisik yang Makin Mengkhawatirkan

Meski panggung dan pencahayaan berusaha menyamarkan, tubuh Deva terlihat semakin kurus dan rapuh. Jaket dan kaus longgar yang sering ia pakai tak sepenuhnya menyembunyikan tulang-tulang yang mencuat. Suaranya, meski masih powerful di saat-saat tertentu, sering kali terdengar lebih parau, lebih terengah, dan ada kalanya ia memalingkan muka untuk batuk kecil yang ditahannya. Saat tidak di panggung, langkahnya lambat, sering bersandar pada Ninda atau petugas keamanan.

Ninda, Sang “Penjaga” yang Tak Pernah Jauh

Ninda hampir selalu berada dalam jarak satu langkah dari Deva. Di panggung, ia sering berdiri di sisi atau belakang panggung, matanya tak lepas dari Deva. Di bandara atau hotel, tangannya sering memegang lengan atau punggung Deva, membimbing, menyangga. Ekspresinya penuh perhatian dan kecemasan yang tak tersembunyikan. Hubungan mereka yang tadinya pribadi, kini menjadi bagian dari narasi publik yang menyedihkan.

Rumor Bertebaran, Kekhawatiran Meningkat

Media Sosial Meledak

Tagar #DevaSick dan #ApaYangTerjadiDenganDeva mulai trending. Foto-foto Deva dengan masker dan kacamata hitam, atau momen ia terlihat sangat lelah, dibagikan ribuan kali. Spekulasi liar bermunculan:

  • “Deva kena TBC parah kayak di film? Makanya batuk dan kurus!”
  • “Katanya kanker, guys! Paru-paru! Makanya pakai masker terus!”
  • “Alergi parah? Autoimun? Leukemia?”
  • “Atau capek banget? Burnout?”

Tekanan pada Manajemen dan Band

Setiap wawancara, selain pertanyaan tentang musik, selalu diselipkan pertanyaan tentang kesehatan Deva. “Deva baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan dan sedang menjaga kondisi karena musim hujan,” menjadi jawaban standar Dian dari label, atau anggota band lainnya. Tapi ekspresi wajah mereka yang kaku dan jawaban yang diulang-ulang semakin menambah kecurigaan.

Komentar Pedas vs Dukungan

Ada yang mengkritik: “Kalau sakit, istirahat! Jangan maksa manggung, cari sensasi!” Tapi lebih banyak dukungan yang mengharukan: “Kami doakan yang terbaik buat Deva,” “Deva kuat! Kamu inspirasi!” “Terima kasih sudah tetap tampil buat fans.” Banyak fans membawa poster dukungan khusus untuk Deva di konser.

Momen-Momen Mengharukan di Konser

  • Sorak-sorai spontan: Saat Deva membuka sedikit maskernya untuk minum air, sorak-sorai penonton pecah: “DEVA! DEVA! DEVA!” Sebuah teriakan penyemangat yang membuatnya tersenyum kecil dan membungkuk hormat.
  • Hadiah dari fans kecil: Di Yogyakarta, seorang fans kecil berhasil menyodorkan bunga dan boneka ke panggung untuk Deva. Deva menerimanya, menyentuh kepala anak itu, dan memeluk boneknya erat sebelum diberikan ke Ninda. Adegan singkat itu viral, membuat banyak orang terharu.
  • Moment “Fajar Terakhir” di Surabaya: Saat membawakan “Fajar Terakhir”, hampir seluruh penonton menyanyikan liriknya bersama, menggantikan suara Deva yang mulai melemah di bagian akhir. Lampu ponsel yang menyala seperti bintang-bintang memenuhi stadion. Deva hanya bisa berdiri, memandangi kerumunan, air mata mengalir di balik kacamata hitamnya.

Di Balik Panggung: Realita yang Pahit

Setelah sorak-sorai mereda, realita kembali menghantam. Di ruang ganti atau mobil jemputan:

  • Deva sering langsung ambruk, batuk-batuk hebat, wajahnya pucat pasi. Masker yang dilepas mungkin menunjukkan bercak darah yang cepat diseka oleh Ninda atau tim medis pribadi yang kini selalu standby.
  • Oksigen portabel kadang diperlukan untuk membantunya bernapas.
  • Suntikan dan obat-obatan kuat menjadi rutinitas untuk membantunya bertahan naik panggung.
  • Ninda jarang tidur, matanya selalu awas mengawasi Deva, menyuapinya makanan lunak, memastikan obatnya diminum. Pelukannya menjadi penyangga terkuat Deva.
  • Sania, Maya, Denny, Erick – wajah mereka penuh kelelahan dan kekhawatiran yang dalam. Mereka bermain dengan sepenuh hati di panggung, tapi di belakang, air mata dan ketakutan sering tak terbendung. Mereka melihat pahlawan mereka sekarat perlahan.

Tur sepuluh kota itu adalah perjalanan heroik sekaligus menyayat hati. Mereka memberikan penampilan terbaik, menyentuh jutaan hati dengan kejujuran musik dan ketangguhan mereka. Tapi setiap kota yang dilewati, setiap tepuk tangan yang diterima, seperti juga mengikis sisa tenaga Deva. Fans semakin yakin ada sesuatu yang sangat salah, dan aura tragis itu membuat apresiasi pada album dan perjuangan band ini semakin mendalam.

Pasca Tengah Malam tidak hanya sedang melakukan tur konser; mereka sedang melakukan perjalanan perpisahan, mengukir kenangan terakhir di hati fans, dengan seorang frontman yang bersinar semakin terang justru ketika nyalanya hampir padam. Dan semua mata yang menyaksikan tahu, sesuatu yang besar dan menyedihkan sedang menanti di ujung tur ini.


bagian 28: Kamar Hotel, Pukul 23.17 – Suasana yang Lebih Berat dari Panggung Manapun

Lampu kamar hotel suite yang besar diredupkan. Sisa energi konser malam itu masih menggantung, bercampur dengan bau minyak angin dan obat-obatan. Deva duduk di tepi tempat tidur, punggung disangga bantal, wajahnya pucat seperti kertas di bawah lampu samping. Masker dan kacamata hitam akhirnya dilepas, menampakkan mata cekung yang dikelilingi bayangan hitam pekat, dan pipi yang begitu kempes. Napasnya pendek-pendek, tapi matanya jernih dan tenang, memandangi teman-temannya yang duduk lesehan di karpet atau di kursi rendah: Ninda (duduk paling dekat, menggenggam tangannya), Sania, Erick, Maya, Denny.

Suasana tegang, hening. Mereka tahu ini bukan sekadar evaluasi konser. Ada sesuatu yang berbeda di udara, lebih berat dari biasanya.

Pengakuan yang Menghancurkan

“Teman-teman…” Deva memulai, suaranya parau, kecil, tapi memotong keheningan. “Malam ini… kayaknya konser terakhir aku.”

DENTUM!

Reaksi Spontan yang Menolak

  • Ninda: Tangannya yang menggenggam Deva terkunci erat. Nafasnya tersedak. “D-Deva, jangan ngomong gitu…” bisiknya, suara bergetar, mata langsung berkaca-kaca. Ia sudah tahu, tapi mendengarnya diucapkan langsung seperti pukulan di ulu hati.
  • Sania: “KAMU JANGAN BULLSHIT, DEV!” teriaknya, bangkit setengah, wajah merah padam campur marah dan ketakutan. Air matanya langsung meledak. “Kamu kuat! Besok kita masih ada meet and greet! Minggu depan rekaman ulang bridge di ‘Janji Pada Angin’—”
  • Erick: Memotong Sania, suaranya serak mencoba tenang, tapi gagal. “Iya, tidak usah ngomong hal-hal tidak enak, Dev. Kamu cuma kecapekan. Besok kita libur, kamu istirahat total—”
  • Maya & Denny: Hanya bisa memandang Deva, wajah pucat, bibir bergetar. Maya menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan tangis. Denny menunduk, bahunya gemetar.

Kebenaran yang Menyakitkan

Deva mengangkat tangan lemah, meminta mereka diam. Senyum kecil yang pahit muncul di bibirnya yang kering. “Sudah. Jangan bohong sama diri sendiri. Kita semua tahu.” Matanya menyapu satu per satu. “Aku sudah merasakan ‘firasat’ ini dari kemarin-kemarin. Badan aku… rasanya beda. Kayak… mesin yang benar-benar mau berhenti. Napas makin susah, batuk makin dalam… dan ada perasaan… lega aneh.” Ia memandang Ninda, memeluk tangannya yang menggenggamnya. “Kayak sudah selesai lari maraton yang jauh banget.”

Reaksi Pecah: Penolakan, Kemarahan, dan Penerimaan yang Menyakitkan

1. Sania: “TIDAK!!” Ia menjerit, lalu menangis histeris, memukul lantai karpet dengan tinjunya. “KAMU TIDAK BOLEH PERGI! KITA MASIH BANYAK MAU BIKIN! ALBUM KETIGA! TOUR EROPA! KAMU JANJI!” Erick cepat memeluknya, mencoba menenangkan, tapi air matanya sendiri juga jatuh.

2. Erick: “Kita… kita cari dokter lagi, Dev! Dokter spesialis! Luar negeri! Uang kita ada! Jangan nyerah gitu aja!” Suaranya pecah, penuh keputusasaan.

3. Maya: Diam-diam, air mata mengalir deras di pipinya. “Dev… kita… kita belum siap,” bisiknya, suara nyaris tak terdengar. “Band ini… Pasca Tengah Malam… itu kamu.”

4. Denny: Mengangguk, tak bisa bicara. Ia memegangi tangan Maya, mencari kekuatan. Matanya yang biasanya tenang, penuh ketakutan dan duka.

5. Ninda: Diam. Tapi air matanya mengalir tanpa henti, membasahi tangan Deva yang ia genggam. Tubuhnya gemetar hebat. “Jadi… jadi ini ‘Fajar Terakhir’ beneran?” bisiknya, suara hancur. Deva hanya mengangguk pelan, matanya juga basah. “Aku janji menemani kamu,” Ninda memeluk lengan Deva, meletakkan kepalanya di bahu yang tinggal tulang. “Sampai detik terakhir.” Pengakuan itu seperti pisau, tapi juga pelipur.

Pesan Perpisahan

Deva menarik napas dalam yang terdengar seperti gesekan kertas ampas. “Terima kasih… sudah menemani aku sampai sini. Sudah mau nerima aku apa adanya. Sudah bikin perjalanan terakhir aku… penuh warna.” Ia memandang mereka semua, tatapan penuh cinta dan rasa syukur. “Album kedua itu… itu cerita aku. Sekarang, cerita kalian harus terus jalan.”

“Jaga ‘Pasca Tengah Malam’. Jaga musiknya. Jaga mimpi kita.” Ia menatap Sania, Erick, Maya, Denny. “Kalian semua sudah bukan anak band biasa. Kalian musisi sejati. Percaya diri.”

“Dan jaga diri kalian. Jaga hubungan kalian.” Pandangannya ke Erick-Sania, Denny-Maya. “Cinta itu… langka. Jangan sia-siakan.”

Terakhir, ia memandang Ninda, lama. “Dan kamu, Nin… kamu yang terkuat. Kamu yang akan membawa mereka semua. Maafin aku sudah ninggal beban berat.” Ia mengusap air mata Ninda dengan jari kurusnya. “Tapi aku percaya kamu bisa. Aku selalu percaya.”

Pamitan Terakhir

“Besok… mungkin aku sudah tidak bisa bangun. Atau tidak bisa ngomong jelas,” ujarnya, suara semakin lemah. “Jadi… ini pamitan resmi aku.”

“Terima kasih… buat segalanya. Buat musik. Buat persahabatan. Buat cinta.” Ia tersenyum kecil, tulus. “Aku tidak menyesal sedikit pun. Hidup aku… meski pendek… sudah luar biasa. Karena ada kalian.”

Suasana kamar hotel yang mewah itu berubah menjadi ruang sakral. Tangis yang tadinya histeris, kini menjadi isakan yang tertahan, penuh penghormatan dan rasa sakit yang dalam. Mereka mendekat, memeluk Deva satu per satu – pelukan panjang, erat, penuh makna. Sania menangis di bahunya. Erick memegangi kepalanya. Maya dan Denny mencium keningnya. Ninda tidak melepas genggamannya, seperti ingin menahan Deva tetap di dunia ini.

Deva menerima semuanya dengan tenang, senyum kecil tak pernah lepas. Di matanya ada kedamaian yang tak terpahami, penerimaan yang sempurna. Saat mereka akhirnya berpisah, Deva memandang Ninda. “Nanti… waktu waktunya tiba… nyanyiin ‘Selamanya di Hati’ buat aku, ya? Versi kamu aja. Pasti lebih merdu.”

Ninda mengangguk, tak sanggup bicara, hanya memeluknya lagi, menikmati detik-detik berharga kehangatan tubuh Deva yang mungkin tak akan ia rasakan lagi besok.

Malam itu, di kamar hotel mewah setelah panggung megah, Pasca Tengah Malam tidak kehilangan frontman mereka. Mereka kehilangan saudara, sahabat, kekasih, dan jiwa yang mengubah hidup mereka selamanya. Dan Deva, di tengah pelukan dan air mata, benar-benar menemukan “fajar terakhir” yang damai: penerimaan, cinta, dan warisan yang tak akan pernah padam.

Ruangan itu pun terasa sunyi, hanya diselingi isakan dan desahan angin malam dari jendela yang mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, tak peduli seberapa dalam duka yang sedang berlangsung di dalam.

bagian 29: ICU Rumah Sakit – Keheningan yang Menggema

Tiga hari setelah malam pengakuan di kamar hotel, prediksi Deva menjadi kenyataan. Ia kolaps total. Tak lagi sekadar lemah, tapi benar-benar tak sanggup bangun dari tempat tidur. Napasnya tersengal-sengal, kesadaran melayang. Ninda, yang menemukannya pagi itu, panik menelepon ambulans sambil menjerit histeris. Deva dilarikan ke ICU rumah sakit swasta terbaik, dalam keadaan sadar tapi sangat lemah, matanya setengah terbuka tapi kosong, hanya mampu memandang Ninda dengan tatapan yang dalam sebelum akhirnya, beberapa jam setelah tiba di rumah sakit, ia jatuh koma.

Badai Media dan Investigasi Fans

Berita itu menyambar seperti petir. “Deva Pasca Tengah Malam Kritis! Koma di ICU!” menjadi headline semua portal berita, TV, dan media sosial. #PrayForDeva langsung trending global.

Tapi di balik doa dan dukungan, badai spekulasi dan investigasi liar pun dimulai:

1. Media Mengejar

Reporter berkerumun di depan rumah sakit. Setiap anggota band, Ninda, atau keluarga yang keluar langsung dihujani pertanyaan:

  • “Apa penyakit sebenarnya Deva?”
  • “Kenapa kondisinya bisa separah ini?”
  • “Benarkah band merahasiakan penyakitnya selama ini?”

Jawaban resmi label dan manajemen (“Kondisi yang diperparah kelelahan, masih dalam pemeriksaan”) tak memuaskan. Ekspresi Ninda yang hancur dan anggota band yang pucat pasi berbicara lebih keras.

2. Fans Menjadi Detektif

Komunitas online Pasca Tengah Malam berubah menjadi ruang investigasi raksasa.

Foto & Video Masa Lalu Dikulik: Foto Deva semakin kurus dalam beberapa bulan terakhir, video klip di Bali di mana ia terlihat menyentuh dadanya, momen batuk kecil di wawancara yang dulu diabaikan – semuanya dijadikan bukti. “Lihat! Dari Bali sudah keliatan sakit!”

Perubahan Fisik & Perilaku: Penggunaan masker dan kacamata hitam konstan, ketergantungan pada Ninda, penampilan fisik yang menyusut drastis – semua dianalisis. “Itu bukan gaya. Itu gejala!”

Klaim “Orang Dalam”: Akun-akun anonim muncul, mengaku sebagai mantan kru tur atau staf rumah sakit, menyebarkan rumor: “TBC ganas stadium akhir,” “Kanker paru metastatis,” “Sudah diobati diam-diam sejak lama.” Kebenarannya sulit diverifikasi, tapi memanaskan suasana.

3. Spekulasi Utama yang Mengkristal

“Pasca Tengah Malam TAHU! Mereka merahasiakan penyakit Deva dari fans!” Ini yang paling menyakitkan bagi sebagian fans. Perasaan dikhianati, meski bercampur dengan simpati yang besar. “Kenapa tidak bilang dari dulu? Biar kita bisa dukung lebih!” “Mereka jual album pakai penderitaan Deva?” (meski cepat dibantah fans lain).

4. Album Kedua: Buku Harian yang Terbuka

Di tengah hiruk-pikuk, seseorang membuat thread genius: “DENGARKAN LAGUNYA! JAWABANNYA DI LIRIK ALBUM BARU!”

  • “Pasca Tengah Malam” (Lagu): “Di keheningan yang jujur, waktu menghitung nafas…” – Ditafsirkan sebagai insomnia dan sesak napas karena sakit.
  • “Detik yang Berharga”: “Kupetik setiap keping cahaya, sebelum matamu terpejam…” – Keterbatasan waktu hidup.
  • “Surat untuk Esok”: “Bila kau baca ini, dan aku tak ada lagi…” – Jelas surat wasiat.
  • “Fajar Terakhir”: “Beri aku satu fajar lagi!” – Jeritan memohon waktu tambahan, mungkin untuk pengobatan atau sekadar melihat orang tersayang.
  • “Ruang Hampa”: “Tertawa di sekelilingku, tapi aku sendirian…” – Perasaan terisolasi karena menyembunyikan penyakit.
  • “Janji pada Angin”: “Maafkan janji yang mungkin retak…” – Janji pada teman/fans yang mungkin tak bisa ditepati.
  • “Bintang Jatuh”: “Bersinar sebentar, tapi kau sebut itu abadi…” – Metafora hidup singkat tapi bermakna.
  • “Selamanya di Hati”: “Tak perlu kubur dalam tanah, simpan aku di dentang tawamu…” – Permintaan untuk dikenang, bukan ditangisi.

Analisis ini VIRAL. Fans yang awalnya marah, mulai memahami. Album itu bukan sekadar musik; itu adalah pengakuan, permintaan maaf, dan surat perpisahan yang terbuka. Deva sudah memberitahu mereka, dengan cara yang paling jujur dan puitis yang ia bisa – melalui lagu. “Dia sudah bilang… kita yang tidak dengar…” komentar seorang fans yang viral, disertai tangis emoji.

Di Dalam ICU: Penantian dan Bisikan untuk Koma

Sementara dunia luar ribut, di dalam ICU, suasana hening, dingin, dan penuh beban. Deva terbaring tak bergerak, diselimuti selang dan kabel monitor yang memancarkan bunyi-bunyi mekanis. Wajahnya sunyi, seperti tertidur sangat dalam.

Ninda: Hampir tak pernah meninggalkan kursi di samping tempat tidur. Tangannya terus memegangi tangan Deva yang dingin. Matanya bengkak, merah, tapi air mata sepertinya sudah kering. Ia hanya memandangi wajah Deva, sesekali berbisik pelan: “Aku di sini, Dev. Aku janji. Aku tidak pergi.” Ia menyanyikan potongan “Selamanya di Hati” dengan suara parau, berbisik, hanya untuknya. Janjinya ditepati, meski hati remuk.

Sania, Erick, Maya, Denny: Bergantian jaga. Mereka duduk dalam diam, sesekali bercerita pada Deva yang tak sadar – tentang konser kemarin, tentang fans yang berdoa, tentang rencana mereka untuk album ketiga. “Kamu dengar tidak, Dev? Album kita nomor satu lagi,” bisik Sania sambil menahan isak. Erick memutar lagu-lagu mereka di ponsel dengan volume rendah, menaruhnya dekat telinga Deva. Maya dan Denny hanya memegangi kaki tempat tidur, berdoa dalam hati.

Keluarga Ninda (Bu Surti, Pak Kardi, Lala, Seli, Rio): Datang bergantian. Lala menangis pelan, memegangi jari kelingking Deva. “Kak Deva, bangun ya? Lala mau dengar dongeng lagi.” Bu Surti mengusap dahi Deva yang dingin, berbisik doa. Pak Kardi hanya mengangguk, air mata jatuh di pelipisnya. Seli dan Rio diam, ketakutan dan sedih.

Rumah sakit menjadi panggung terakhir dari drama besar Pasca Tengah Malam. Di luar, keriuhan spekulasi, rasa bersalah, penyesalan, dan apresiasi mendalam pada album kedua yang kini dipahami sebagai mahakarya yang lahir dari penderitaan. Di dalam, keheningan menunggu yang menyiksa, ditemani bunyi mesin dan bisikan-bisikan cinta untuk seorang pejuang yang mungkin sudah tidak bisa mendengar.

Kebenaran tentang penyakit Deva akhirnya terbuka, bukan melalui konferensi pers, tapi melalui keheningan ICU dan kejujuran brutal dalam setiap notasi serta lirik album “Pasca Tengah Malam”. Dan semua yang mendengar, kini tahu: mereka sedang menyaksikan detik-detik terakhir dari seorang bintang yang bersinar paling terang tepat sebelum menghilang, meninggalkan cahaya abadi dalam musik dan kenangan.


bagian 30: Alam Koma: Perjalanan Cahaya Sang Bintang Jatuh

Di kedalaman koma, kesadaran Deva tidak mati. Ia melayang dalam arus cahaya dan bayangan, menyusuri lorong waktu hidupnya yang singkat. Setiap kilasan adalah adegan penting, diurai ulang dengan kejernihan surgawi:

1. Masa Kecil yang Cerah (Kilasan Emas)

Bocah kecil berlari di lapangan basket sekolah dasar, seragam merah-putih berkibar. Ayahnya (sosok tinggi, ramah) mengangkatnya ke ring mini, wajah Deva berseri saat bola masuk pertama kali. Ibunya tepuk tangan dari bangku, membawa kotak bekal. “Luar biasa, Deva! Kamu juara!”

Suasana: Hangat, penuh tawa, matahari sore menyinari debu lapangan. Aroma rumput dan keringat anak-anak.

2. Retakan Keluarga (Kilasan Abu-Abu)

Suara bentakan. Piring pecah. Deva SMP berdiri kaku di pintu kamar, menyaksikan Ayah dan Ibu berteriak. Kata-kata pedas: “Kerjaan tidak jelas!” “Kamu yang selingkuh!”

Adegan cepat: Ayah mengemasi koper. Ibu menangis di kamar. Deva memandangi foto keluarga di meja, lalu melemparkannya ke dinding. Kaca pecah, seperti rumah tangganya.

Suasana: Pengap, sesak, rasa bersalah dan amarah membara di dada remaja.

3. Deana & Neraka Gang Motor (Kilasan Merah Darah)

Deva SMA, seragam basket, menggandeng Deana (gadis manis, senyum malu). Mereka berjalan di tepi sungai Bandung sore hari. “Aku mau kuliah arsitektur di Yogya,” kata Deana. Deva tersenyum: “Aku bakal jadi bintang basket, biar bisa beliin kamu studio.”

Perubahan Brutal: Suara motor menderu. Sekelompok geng motor mengepung. Deva dipukul jatuh dari belakang. Ia melihat dengan mata berkunang: Deana diterjang, dirobek bajunya, direnggut, jeritannya memecah langit. Deva berteriak, tapi mulutnya ditutup, tulang rusuknya diinjak.

Suasana: Horor, bau bensin dan keringat tak enak, rasa tak berdaya yang menghancurkan jiwa.

4. Pembalasan Sang Dewa Basket (Kilasan Hitam-Merah)

Deva, mata merah padam, memecahkan botol bir. Ia tahu markas geng itu. Dengan tubuh atletisnya, ia datang sendirian. Gerakan basketnya jadi jurus mematikan: pivot jadi hindaran, dribble jadi pukulan cepat, lompatan jadi tendangan mematikan.

Adegan kekerasan berdarah: 50 motor, puluhan pentungan, pisau. Deva bagai tornado amarah. Tulang lawan patah, darah muncrat, teriakan kesakitan. Tapi ia juga terkena: pukulan di kepala, tusukan di punggung, patah tulang tangan dan kaki. Yang paling parah: tendangan brutal di dada, tulang rusuk remuk, menusuk paru-parunya. Ia jatuh di kubangan darah sendiri dan musuh, napasnya bergelembung merah.

Suasana: Chaos, bau besi darah, rasa sakit fisik dan kemenangan pahit. Ia menang, tapi Deana tak kembali.

5. Jatuh ke Jurang (Kilasan Abu-Abu Tua)

Kamar kosong. Deva kurus, janggut panjang, duduk di lantai menghadap pisau silet. Foto Deana di pangkuannya. Dokter bicara: “Paru-paru rusak permanen. Basket? Lupakan.”

Tangannya gemetar bawa silet ke pergelangan tangan. Tapi matanya melihat trofi basket juara kota. “Buat apa?” bisiknya, melemparkan silet jauh. Air mata tanpa suara.

Suasana: Sunyi mencekam, rasa hampa dan keinginan mati yang tertahan oleh sisa kenangan kebanggaan.

6. Jakarta & Cahaya Baru (Kilasan Cahaya Emas Lembut)

Deva di gerobak pemulung Pak Kardi, membantu memilah kaleng. Matanya yang datar menangkap sosok Ninda di gubuk reyot: gadis berambut panjang ikat karet usang, menjemur baju, matanya lelah tapi tekun.

Adegan cepat: Deva menyapa Ninda pertama kali di sekolah. Ninda tersipu. Deva membagi bekal nasi goreng. Ninda tersenyum terima kasih. Pelukan di pantai Bali. “Aku mau menemani kamu. Sampai… sampai nanti.”

Lapangan basket SMA Cendekia: Deva melatih Rio dkk dengan sabar, meski kakinya pincang dan tangannya kadang gemetar. “Body fake! Timing!” Sorot bangga di mata Rio saat berhasil.

Studio rumah Denny: Deva memimpin latihan band, matanya berbinar melihat semangat teman-temannya. Saat menulis lirik “Selamanya di Hati”, ia menatap Ninda yang tidur di sofa, senyum kecil mengembang.

Suasana: Kehangatan, penerimaan, rasa memiliki baru. Paru-paru sakit, tapi hati mulai bernafas.


bagian 31: Kembali ke Kamar ICU – Fajar Terakhir

Kilasan cahaya pelangi itu memudar. Kesadaran Deva mengambang kembali ke ruang putih, dingin, dan bunyi bip mesin. Ia “melihat” sekelilingnya dengan kepekaan halus:

Sania & Erick: Berpelukan di sudut, Sania menggigit tangan sendiri menahan isak, Erick memandangi Deva dengan mata merah.

Maya & Denny: Berdiri dekat jendela, Maya bersandar di bahu Denny, bibirnya komat-kamit berdoa.

Bu Surti & Pak Kardi: Duduk di kursi, tangan mereka tergenggam erat, air mata diam-diam jatuh. “Terima kasih, Nak,” bisik Bu Surti dalam hati.

Seli, Rio, Lala: Tidur pulas di sofa panjang, Rio memeluk boneka pemberian Deva, wajah mereka masih basah oleh bekas tangis.

Dan di sisinya, Ninda. Tangannya masih menggenggam erat tangan Deva yang semakin dingin. Kepalanya bersandar di tepi tempat tidur. Bibirnya yang pucat berkomat-kamit menyanyikan lagu, sangat pelan, hanya untuknya:

“Tak perlu kubur dalam tanah…
Simpan aku di dentang tawamu…
Di setiap nada yang kita cipta…
Selamanya… di hati…”

Suara Ninda yang lembut dan penuh cinta itu menjadi jembatan terakhir.

Deva merasakan ketenangan yang luar biasa. Rasa sakit hilang. Amarah, penyesalan, ketakutan – menguap. Yang tersisa hanya rasa syukur mendalam untuk Ninda, untuk teman-temannya, untuk keluarga baru di gubuk reyot, untuk kesempatan memberi arti sebelum pergi.

“Cukup,” rasanya. “Perjalanan ini… sudah lengkap.”

Dia menarik napas terakhir, sangat halus, seperti angin berbisik. Genggaman tangan Ninda terasa lebih longgar.

Monitor EKG yang selama ini memancarkan gelombang hijau bergerigi, tiba-tiba mendatar. Bunyi panjang, monoton, tak berhenti. BIIIIIIIIP———

Jam di dinding menunjuk 00:15. Tanggal 25 Desember 2027.

Deva, Sang Bintang Jatuh yang telah menemukan fajar terakhirnya dalam keheningan dan cinta, berpulang dengan tenang. Air mata terakhir Ninda jatuh di tangan yang tak lagi berjabat. Dunia luar mungkin akan ramai dengan berita duka. Tapi di ruang ICU itu, hanya ada keheningan penuh makna, pelukan yang saling mencari, dan melodi “Selamanya di Hati” yang terus bergema dalam hati semua yang hadir, menjadi janji abadi.

Cahayanya padam, tapi nyalanya telah berpindah ke dalam setiap lagu, setiap lemparan basket Rio, dan setiap detik hidup Ninda selanjutnya.

HEADLINE UTAMA:

“DEVA, FRONTMAN PASCA TENGAH MALAM, MENINGGAL DUNIA PADA USIA 18 TAHUN AKIBAT KOMPLIKASI TBC DAN KANKER PARU”

Sub-Headline: Vokalis dan Penulis Lagu Band Fenomenal Itu Menghembuskan Napas Terakhir di Tengah Duka Keluarga, Sahabat, dan Jutaan Fans yang Berduka. Album Terakhirnya Menjadi Warisan Abadi.

BERITA UTAMA: Jakarta, 26 Desember 2027 – Dunia musik Indonesia berduka.

Deva (18), vokalis dan arsitek musik band fenomenal Pasca Tengah Malam, meninggal dunia pada pukul 00.15 dini hari tadi (25/12) di Rumah Sakit Mayapada, Jakarta, setelah berjuang melawan tuberkulosis (TBC) parah dan kanker paru stadium akhir. Kepergiannya yang tenang itu terjadi setelah tiga hari ia terbaring koma, dikelilingi oleh sang kekasih,

Ninda Suryati, anggota band, serta keluarga dekatnya.

Deva, yang dikenal sebagai jenius musik dengan lirik menyentuh dan visi artistik berani, sempat merahasiakan kondisi kesehatannya dari publik selama berbulan-bulan. Ia tetap tampil di panggung hingga minggu lalu, menyelesaikan kewajiban tur promosi album terakhir Pasca Tengah Malam,

“Pasca Tengah Malam”, yang kini dipahami fans sebagai “surat perpisahan” yang jujur tentang perjuangan dan kepergiannya.

Pernyataan resmi dari manajemen band dan keluarga menyatakan: “Dengan berat hati yang tak terkira, kami mengabarkan kepergian saudara, sahabat, dan seniman tercinta,

Deva. Terima kasih atas doa dan dukungan selama ini. Semoga musik dan semangatnya terus mengudara di hati kita semua. Keluarga memohon privasi dalam masa berkabung ini”.


GELOMBANG DUKA & TRIBUT #DevaYangKuKenal:

Sejak kabar duka tersiar, jagat maya Indonesia dibanjiri duka dan penghormatan. Tagar

#DevaYangKuKenal, #PascaTengahMalam, dan #SelamanyaDiHati membanjiri lini masa, menjadi trending topic nasional dan global. Ribuan fans, musisi, selebriti, hingga masyarakat biasa berbagi kenangan dan rasa kehilangan.

Dari Teman-Teman SMA Cendekia:

  • “#DevaYangKuKenal itu pendiam, tapi matanya tajam melihat orang kesulitan. Waktu gue kesulitan bayar SPP, dia ngasih amplop tanpa ngomong. Selamat jalan, sahabat”. – @rio_basket
  • “Dulu di kantin, dia selalu bagi-bagi pizza atau kopi kalau albumnya laku. Sedih? Iya. Tapi lebih berterima kasih karena dia ngajarin kita arti berbagi”. – @sisca_cendekia

Dunia Musik & Seniman:

  • “#DevaYangKuKenal adalah jiwa tua dalam tubuh muda. Album terakhirnya adalah mahakarya yang lahir dari penderitaan dan kejujuran. Indonesia kehilangan bintang paling cemerlang. Damai di sana, Deva“. – @iwanfals (Musisi Legenda)
  • “Suara dan lirikmu menyelam ke dasar jiwa. ‘Selamanya di Hati’ akan selalu jadi lagu paling mengharukan yang pernah saya dengar. #DevaYangKuKenal adalah legenda yang hidupnya singkat, tapi cahayanya abadi”. – @isyarosid (Penyanyi Jazz)

Pengamat Budaya & Media:

  • Deva mengubah narasi sakit menjadi seni. Album ‘Pasca Tengah Malam’ adalah katarsis kolektif bagi generasi yang menghadapi ketidakpastian. #DevaYangKuKenal: Seniman yang mati muda, tapi karyanya kekal”. – @budayawan_kritis

Fans dari Seluruh Indonesia:

  • “#DevaYangKuKenal lewat lagunya ngajarin gue, bahkan di detik terakhir, hidup bisa jadi indah dan bermakna. ‘Detik yang Berharga’ jadi lagu hidup gue sekarang. Terima kasih, Dev. 😭🕯️”. – @fan.bandung
  • “Dengar ‘Fajar Terakhir’ sekarang, baru mengerti jeritannya minta waktu tambahan. Nangis enggak berhenti. Kita doakan kamu tenang di sana, ya, Deva. #DevaYangKuKenal”. – @surabaya.merindu
  • “Dulu ngerasa dikhianati karena mereka sembunyikan penyakitmu. Ternyata… kamu sudah bilang lewat semua lagu. Maafin kita yang lambat mengerti. Selamat jalan, pahlawan. #DevaYangKuKenal”. – @fans.berduka

Masyarakat Umum yang Tersentuh Kisahnya:

  • “Aku bukan fans berat, tapi setelah lirik lagunya diurai, aku menangis. Anak 18 tahun ini bijaksana sekali menghadapi ajal. #DevaYangKuKenal mengajarkan keberanian sejati. 🙏”. – @emak2bijak

TRIBUT FISIK & PROSESI:

Karangan bunga membanjiri pintu rumah sakit dan gerbang SMA Cendekia. Karangan terbesar dari Pasca Tengah Malam bertuliskan:

“Untuk Deva, Sang Pengarah Cahaya. Kita Teruskan Melodi-Mu”. Lilin dan foto berkumpul spontan di lokasi-lokasi ikonis: depan gubuk

Ninda, studio rumah Denny, bahkan di kolong jembatan tempat Seli dan Rio dulu tinggal—simbol bahwa Deva menyentuh semua lapisan. Prosesi pemakaman akan dilakukan secara tertutup untuk keluarga dan kerabat dekat di kampung halaman Deva di Bandung, sesuai wasiatnya.

Ninda, anggota band, dan keluarga besarnya akan hadir.


WARISAN YANG TAK PADAM:

Deva mungkin telah pergi, namun nyalanya tetap hidup.

  • Dalam album “Pasca Tengah Malam” yang abadi.
  • Dalam yayasan musik untuk anak tidak mampu yang sedang dirintis Ninda dan teman-teman dengan royalti album.
  • Dan dalam jutaan hati yang tersentuh oleh kisahnya: tentang ketangguhan, kejujuran, dan cara menemukan cahaya di ujung kegelapan.

Seperti liriknya di “Bintang Jatuh”: “Bersinar sebentar… Tapi kau sebut itu abadi… Karena cahya di hatimu, Adalah pantulan rinduku…”.

Deva (2009-2027). Terbang Tinggi, Kekasih Angin. Selamanya Di Hati. 🕊️🎸


Kantor Direktur “Harmoni Studio” – Suasana yang Terbelah

Ruangan mewah dengan panorama kota Jakarta itu terasa pengap.

Ninda, Sania, Erick, Maya, dan Denny duduk di sofa kulit, wajah masih menyisakan bayangan duka dan kelelahan dari pemakaman pagi tadi. Di seberang mereka,

Pak Darwis, pemilik label, seorang pria 60-an berambut perak dan mata tajam, duduk didampingi dua produser senior. Ekspresinya serius, penuh empati, tapi juga ada beban yang hendak dilunaskan.

“Anak-anakku…” Pak Darwis memulai, suaranya berat. “Pertama, izinkan saya sekali lagi menyampaikan belasungkawa terdalam. Kepergian

Deva… adalah kehilangan yang tak tergantikan, bukan hanya untuk kalian, tapi untuk dunia musik kita”.

Ia memandangi satu per satu wajah yang hampa di depannya. “Saya tahu betul betapa beratnya band ditinggal sang pengarah, sang jiwa.

Deva… dialah yang menyatukan kalian, yang membawa magis itu ke panggung. Saya sudah puluhan tahun di industri ini. Saya mengerti rasanya”.

Ia menarik napas dalam. “Oleh karena itu, Harmoni Studio tidak akan membebani kalian dengan target apa pun ke depannya. Kontrak album kedua telah selesai dengan gemilang. Royalti akan terus mengalir. Kalian bebas menentukan langkah selanjutnya”. Tangannya terbuka, seperti memberi ruang. “Kuliah, istirahat, mencari bentuk baru… kami akan dukung. Jika suatu hari kalian ingin rekaman lagi, studio ini selalu terbuka. Tapi untuk sekarang… pulihkan diri. Raih mimpimu di bangku kuliah”.

Sania mengangguk pelan, matanya berkaca. Denny menunduk. Maya menggenggam tangan Erick yang dingin.

Ninda hanya memandang lurus, wajahnya seperti topeng porselen yang retak.

“Tapi…” Pak Darwis melanjutkan, nadanya berubah, lebih dalam, lebih personal. “…ada satu hal yang harus saya buka. Sebuah rahasia. Karena saya tidak ingin ini jadi kesalahan di kemudian hari, atau menggerogoti kepercayaan kalian pada label ini”. Semua mata tertancap padanya. Udara terasa semakin tegang.

“Skenario tenggat waktu Desember… album kedua harus rilis sebelum tahun baru…” Pak Darwis menggeleng, senyum getir muncul. “Itu bukan ide kami. Bukan ultimatum label”. Diam. Membeku. “Itu permintaan Deva“.

“APA?!” Sania terlonjak dari tempat duduknya.

Pak Darwis mengangguk, mantap. “Ya.

Deva yang datang ke saya, mungkin… sebulan sebelum rapat di rumah Denny dulu. Wajahnya sudah sangat kurus, suaranya parah, tapi matanya… berapi-api. Ia tahu ia berpacu dengan napas terakhirnya”.

Suara Pak Darwis serak mengenang. “Ia meminta saya memainkan peran: seolah-olah saya yang memberi ultimatum, saya yang memaksa kalian menyelesaikan album sebelum Desember. Dengan skenario itu, ia yakin kalian tidak akan punya pilihan selain menyetujui, bekerja keras, menyelesaikannya”.

Ninda menutup mulutnya. Ingatannya melesat ke rapat itu: Deva yang tiba-tiba membuka koper berisi uang, tawaran gila 500 juta, tekanan waktu 5 bulan… Semua terasa dipaksakan. Dan mereka terjebak.

“Kenapa?” bisik Maya, suaranya gemetar. “Kenapa dia… bohong begitu?”.

“Karena ini,” jawab Pak Darwis pelan. Ia membungkuk, mengambil

lima koper aluminium kecil yang tersembunyi di samping mejanya. Satu per satu, dengan lambat, ia meletakkannya di atas meja kayu mahoni yang luas, tepat di depan mereka.

Klik. Klik. Klik. Klik. Klik.

Lima koper. Ia membuka yang pertama.

Tumpukan uang ratusan ribu, rapi, memenuhi koper. Lalu yang kedua. Sama. Ketiga. Keempat. Kelima. Masing-masing berisi 100 JUTA RUPIAH. Total 500 JUTA.

“Karena ia ingin memastikan kalian mendapat warisan terakhirnya

secara tunai, langsung, tanpa menunggu royalti atau proses administrasi,” suara Pak Darwis bergetar.

“Dia tahu royalti album pertama sudah habis buat peralatan dan kebutuhan kalian. Album kedua… royaltinya akan besar, tapi butuh waktu cair. Dan dia… dia tahu dia tak punya waktu”.

Ia menatap mereka, matanya basah. “Dengan memaksa album selesai sebelum Desember, dan dengan nilai kontrak 500 juta yang ia nego sendiri, ia memastikan ada uang tunai segar yang bisa langsung ia bagikan… untuk kalian”.

“TAPI DENGAN CARA MENIPU KAMI?!” teriak Sania, air matanya meledak, campur marah dan sakit hati yang mendalam. “DIA BOHONG! DIA PAKSA KITA KERJA KERAS SAMPAI HAMPIR MATI! SAMPAI DIA… SAMPAI DIA…” Ia tak bisa melanjutkan, tubuhnya gemetar, ditahan Erick.

Denny memandangi tumpukan uang, wajahnya pucat pasi. “Jadi… semua tekanan itu… semua kejar-kejaran waktu… semua rasa bersalah kita karena merasa mengecewakan label… itu semua sandiwara? Buat… buat ini?”. Jarinya menunjuk uang, suaranya hampa.

Maya menangis tersedu-sedu. “Kita dikorbankan… untuk uang? Padahal kita pasti mau bantu dia tanpa dipaksa…”.

Erick menggeleng, bingung. “Gila… gila banget, Dev… sampai akhir loe masih mau ngatur kita…”.

Keheningan yang menyiksa. Lima pasang mata menatap lima koper berisi uang yang tiba-tiba terasa kotor, bernoda tipuan dan penderitaan Deva. Warisan yang pahit.

Lalu, tawa. Pendek, getir, memecah kesunyian.

Semua menoleh ke Ninda. Dia tersenyum, tapi matanya penuh air mata. “Kalian heran?” bisiknya, suaranya parau. “Aku enggak”.

Dia berdiri, mendekati meja, menyentuh satu koper. “Kalian lupa siapa Deva? Dia pernah ngibulin kita demi kebaikan”. Ia menatap mereka. “Waktu di Bali? Waktu dia bohong ke label soal kita ‘lagi di luar kota’ biar bisa nego kontrak 400 juta? Waktu dia pura-pura enggak kenal kita pas pertama sekolah? Manipulasi adalah senjatanya. Tapi…” suaranya gemetar, “…senjata itu selalu dia pakai buat melindungi kita. Buat bikin kita dapat yang terbaik, meski harus jadi ‘penjahat’”.

Ninda memandangi tumpukan uang, lalu ke wajah teman-temannya yang terluka. “Dia bohong tentang tenggat waktu karena dia tahu kita bakal nolak kalau tahu itu buat bayar ‘warisan’ ini. Kita bakal milih nemenin dia istirahat, enggak mau dia capek. Tapi dia… dia lebih milih memastikan kita punya modal buat masa depan. Modal buat kuliah, buat studio, buat hidup… tanpa dia”.

Air matanya jatuh di atas koper. “Dia tipu kita mentah-mentah? Iya. Tapi itu tipuan dari orang yang mencintai kita lebih dari nyawanya sendiri. Orang yang bahkan di detik-detik terakhir, mikirnya cuma satu: bagaimana caranya bikin kita aman, maju, terbang, meski dia sudah enggak bisa nemenin”.

Ruangan kembali hening. Kemarahan dan kebingungan perlahan mencair, digantikan pemahaman yang lebih dalam, lebih menyakitkan, tentang pengorbanan absurd yang dilakukan Deva.

Pak Darwis mengangguk, mengusap matanya. “Persis seperti yang Ninda katakan. Deva… dia memilih jadi ‘antagonis’ dalam cerita ini, biar kalian jadi pahlawannya di masa depan”. Ia menunjuk koper-koper itu. “Ini bukan sekadar uang. Ini tetes keringat dan darah terakhirnya. Ini ‘Fajar Terakhir’ yang ia perjuangkan bukan buat dia, tapi buat kalian”.

Sania terduduk lagi, wajahnya tertunduk, tangisnya kini lebih pelan, lebih dalam. Erick memeluknya. Maya dan Denny saling menggenggam tangan erat. Mereka memandangi koper-koper itu. Uang 500 juta yang tiba-tiba terasa sangat berat, sangat suci, dan sangat menyedihkan.

Di dasar salah satu koper, terselip selembar kartu kecil, tulisan tangan Deva yang sudah melemah : “Untuk Pasca Tengah Malam. Terbanglah lebih tinggi. Jangan lihat ke bawah. Aku akan jadi angin yang mengangkat sayapmu. – Dev”.

Mereka ditipu. Diperdaya. Dimanipulasi. Tapi dalam kebohongan terakhir Deva itu, tersimpan kebenaran yang tak terbantahkan: Cintanya yang besar, yang memilih rasa sakit dan kesalahpahaman, demi memastikan cahaya mereka terus bersinar, bahkan setelah bintangnya sendiri padam.

Dan di kantor mewah itu, di antara tumpukan uang dan air mata, mereka akhirnya mengerti arti sebenarnya dari “Selamanya di Hati”.

Deva memang pergi. Tapi tipuan terbaiknya akan membawa mereka mengudara selamanya.

Ninda tersenyum getir.

Deva itu… sampai akhir tetap si pendendam baik hati.


Gubuk Reyot – Senja yang Penuh Keharuan

Matahari senja menyapu atap seng berkarat, menebarkan cahaya jingga keemasan di halaman sempit. Bau tanah basah dan masakan sederhana menyeruak dari dalam. Saat Ninda membuka pagar kayu reot, lima pasang mata langsung menatapnya: Bu Surti yang sedang menyapu teras, Pak Kardi yang memperbaiki gerobak, Lala dan Rio yang asyik main congklak di lantai, dan Seli yang membantu menjemur baju.

“Kak Nin! Pulang!” teriak Lala, pertama kali melompat, berlari menyambut.

Rio dan Seli menyusul, wajah mereka masih menyimpan bayangan sedih dari pemakaman pagi, tapi berseri melihat kakak angkatnya pulang.

Ninda, yang tubuh dan jiwanya lelah bertempur—duka pemakaman, kejutan kebohongan Deva, beban koper berisi 100 juta—tiba-tiba terasa ringan.

Ia menangkup Lala dalam pelukan erat, lalu merangkul Rio dan Seli yang sudah mendekat. “Iya, pulang,” bisiknya, suara serak, menahan air mata yang selalu mengintip. Di pelukan mereka, ia merasakan akar yang menahannya tetap kuat.

Bu Surti mendekat, tangannya yang hangat mengusap punggung

Ninda. “Sudah selesai urusannya, Nak? Capek ya?”. Matanya penuh perhatian, membaca kelelahan di wajah putrinya.

Pak Kardi mengangguk, senyum kecil di bibirnya yang keriput. “Makan malam sudah siap. Ibu masak sayur asem kesukaan Nin”.

Mereka masuk ke dalam. Gubuk itu terasa berbeda. Meski masih reot, udaranya penuh kehangatan dan kehidupan. Televisi menyala dengan volume pelan, mesin cuci berdengung, kulkas kecil berisi sayuran segar, dan aroma sayur asem menggoda. Kasur tambahan di kamar Ninda sudah rapi, menunggu Seli, Rio, Lala, dan Ninda berpelukan nanti malam.

Ninda meletakkan tasnya, lalu koper aluminium kecil yang dibawanya. Ia menarik napas dalam. “Bu, Pak, Sel, Rio, Lal… ada sesuatu”. Suaranya tegas, mencoba tenang.

Semua mata tertuju pada koper. Rio penasaran. “Koper apa, Kak? Kayak di film mata-mata!”.

Ninda membuka kunci.

Klik. Ritsletingnya dibuka perlahan. Lalu…

HAMPARAN UANG MERAH. Ratusan lembar uang seratus ribuan, rapi, berkilau di cahaya lampu neon.

“AAAAH! BANYAK UANG LAGI!” Rio menjerit kaget, mata bulat. Lala melompat-lompat. “Kak Nin, dapat dari mana?!”.

Seli terdiam, matanya membelalak, lalu melirik ke Ninda, penuh tanya dan firasat. Bu Surti dan Pak Kardi hanya bisa melongo, wajah mereka campur aduk antara kaget, tak percaya, dan sedikit kekhawatiran.

“Ini… bagian Kak Nin dari band,”

Ninda menjelaskan, suara berusaha stabil. “Dari album terakhir… dan dari Deva“. Nama itu membuat suasana meredup sejenak. “Total 100 juta. Buat kita”.

“Seratus… juta?” Bu Surti mengulang pelan, tangannya menutup mulut. “Tapi… Deva sudah…”.

“Ini warisan terakhirnya, Bu,” potong Ninda cepat, memilih kata-kata. Ia tak akan membuka kebohongan Deva, tak akan mengotori kenangan baik mereka tentangnya. “Dia mau pastikan kita aman. Buat modal hidup, buat biaya kalian sekolah,” ia memandang Seli, Rio, Lala, “buat perbaiki rumah, buat… masa depan”.

Pak Kardi mendekat, menyentuh tumpukan uang itu. Tangannya yang kasar gemetar. “Anak itu… sampai akhir tetap memikirkan kita,” gumamnya, suara parau, air mata menetes di pelipisnya. “Padahal dia sendiri…” Ia tak bisa melanjutkan.

Bu Surti memeluk Ninda erat. “Terima kasih, Nak… terima kasih,

Deva…” Isakannya pecah, campur syukur dan duka yang tak pernah benar-benar pergi.

Seli memandang Ninda. Di matanya, ada pemahaman yang lebih dalam. Ia mungkin tak tahu detail kebohongan, tapi ia tahu uang ini hasil kerja keras dan pengorbanan besar di tengah kesakitan Deva.

“Kita… kita harus pakai ini benar-benar buat hal baik, Kak,” bisik Seli, tegas. “Kayak yang Kak Deva mau”.

Rio masih terpana pada uang. “Aku bisa beli sepatu bola baru? Yang ada gambarnya Messi?” tanyanya polos.

Ninda tertawa kecil, air mata akhirnya jatuh juga. Tawa yang melegakan. “Bisa, Rio. Yang bagus”.

Ia memandangi keluarganya yang berkumpul di sekitar koper—wajah-wajah yang penuh keheranan, syukur, dan cinta. Di gubuk reot ini, di atas meja kayu yang lapuk, tumpukan uang 100 juta bukan lagi simbol kekayaan semata. Ia menjadi simbol pengorbanan, cinta tanpa batas, dan janji seorang pemuda yang memilih fajar terakhirnya untuk menerangi jalan orang-orang yang dicintainya.

“Ayo makan,” ajak Bu Surti, menyeka air mata, mencoba normalisasi. “Sayur asemnya nanti dingin”.

Mereka pun duduk lesehan di lantai, mengelilingi makanan sederhana. Koper uang masih terbuka di samping, tapi perhatian mereka beralih ke nasi hangat, sayur asem, ikan goreng, dan cerita-cerita kecil tentang hari mereka.

Suasana pelan-pelan kembali hangat.

Ninda menyendok sayur asem, menikmati kehangatan rumahnya. Di luar, langit senja berubah menjadi ungu.

Ia memandang ke jendela, membayangkan

Deva di suatu tempat, tersenyum melihat mereka berkumpul, aman, dan penuh harapan.

“Terima kasih, Dev,” bisiknya dalam hati, sambil menggenggam erat sendoknya. “Kami akan terbang. Dengan angin yang kau tinggalkan”.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, rasa damai yang dalam menyelimutinya, bercampur dengan rindu yang takkan pernah pergi, tapi juga dengan tekad baja untuk hidup sebagaimana Deva ingin mereka hidup: penuh arti, penuh syukur, dan selamanya mengudara.


Pribadi Lain yang Tersentuh

1. Sania – Kamar Kos di Jakarta Pusat:

Koper aluminium itu tergeletak di lantai seperti benda asing di tengah kaus band dan stik drum berserakan. Sania menendangnya pelan. “Bodoh banget sih, Dev,” gumamnya, suara serak. Ia membuka koper, menatap tumpukan uang merah. Matanya perih. Ini harga dari kebohongan terbesar sahabatnya. Ia membayangkan Deva di studio, batuk-batuk menyembunyikan darah sambil memaksa pencampuran lagu, hanya agar uang ini cepat cair.

“Loe pikir kita enggak mau bantuin loe tanpa dipaksa?!” bentaknya ke udara kosong. Kemarahan meledak—ia menyepak bantal, melempar kaleng minuman. Lalu… ia ambruk di kasur, menangis histeris. Bukan karena uang. Tapi karena Deva memilih menderita sendirian. Teleponnya berdering—Erick. Sania mengabaikan.

Tapi kemudian, ia memeluk kaus basket SMA yang bertuliskan “Deva” di punggung—hadiah ulang tahunnya dulu. “Baik banget sih loe… bangsat,” bisiknya di antara isak. Koper itu ia dorong ke bawah tempat tidur. Untuk besok. Malam ini, ia hanya ingin meratapi sahabat yang terlalu baik hati sampai akhir.

2. Erick – Apartemen Kecil di Tanah Abang:

Erick duduk bersila di lantai, koper terbuka di depannya. 100 juta. Jumlah yang dulu ia impikan untuk pedal efek gitar baru. Sekarang, uang itu terasa… panas. “

Ini darah loe, Dev?” pikirnya gelap. Ia menyentuhnya, lalu menarik tangan seolah tersetrum. Ia berdiri, meraih gitar listrik kesayangan

Deva yang ia pinjam selamanya. Memetik nada blues sendu. “Janji Pada Angin” mengalir pelan. Di bagian ref, tangisnya pecah. “Loe janji tur Eropa… janji bikin riff gila bareng… kok malah ngibulin kita buat dikasih duit?!”. Ayahnya masuk, kaget melihat putranya menangis di lantai. “Ric? Ada apa?”. “Ayah…” Erick terisak. “Dia pergi… dan ninggalin ini”. Ia menunjuk koper. “Tapi rasanya kayak… kayak kita jual dia”. Ayahnya duduk di samping, memeluknya. “Dia kasih karena sayang, Nak. Bukan buat disesali. Buat diterbangkan, kayak lagu dia”.

Malam itu, Erick transfer 50 juta ke rekening orang tuanya, sisanya ia simpan untuk kuliah. Uang itu tetap panas, tapi kini ada sedikit kehangatan di dalamnya—kehangatan niat baik Deva.

3. Maya & Denny – Kamar Kontrakan di Depok:

Koper itu ditaruh di meja belajar, belum dibuka. Maya dan Denny duduk di kasur, bersandar ke dinding, tangan saling menggenggam. Suasana hening, hanya desau pendingin ruangan (AC).

“Dia bohong ke kita, May,” bisik Denny, suara hampa. “Tapi bohongnya… buat nyelamatin kita”. Maya memandang langit-langit. “Dari awal dia selalu begitu. Mengatur skenario biar kita dapat yang terbaik. Kali ini… skenario terakhirnya”. Matanya berkaca. “Kita marah? Iya. Tapi lebih sakit karena dia menanggung semua sendirian”. Denny membuka koper itu pelan. Uang terpampang.

“100 juta. Buat studio mini kita, kayak yang kita ngobrolin di Bali”. Maya menyentuh uang itu. “Dia dengar, Den. Dia tahu mimpi kita… dan dia pastiin itu kesampaian, bahkan lebih cepat”. Mereka diam lama. Lalu Denny memegang laptop, membuka perangkat lunak musik. “Aku mau mulai aransemen baru,” ujarnya. “Judulnya… ‘Angin dari Bandung’”.

Maya tersenyum getir, meletakkan kepala di bahu Denny. Di layar, notasi musik mulai mengalir—jazz melankolis dengan sentuhan biola. Warisan Deva tidak hanya uang. Tapi juga amanat untuk terus mencipta. Di luar jendela, Jakarta berkilau. Mereka memandangnya, tahu perjalanan masih panjang.

4. Ninda – Gubuk Reyot, Bersama Keluarga Barunya:

Ninda pulang dengan koper 100 juta. Kejutan, air mata syukur, dan pemahaman akan pengorbanan Deva menyelimuti gubuk. Uang itu disambut dengan rasa terima kasih mendalam oleh Bu Surti, Pak Kardi, Seli, Rio, dan Lala. Bagi Ninda, pulang ke rumah adalah mengingatkan dirinya: tanggung jawabnya kini lebih besar. Dia harus menjadi “angin” yang akan menerbangkan adik-adiknya dan menjaga semangat Deva hidup, melalui yayasan musik yang ia rencanakan. Di tengah kesederhanaan makan malam keluarga, ia menemukan kekuatan baru. Warisan Deva bukan beban, tapi sayap.


Langit Malam yang Sama:

Di atas Jakarta, Bandung, Depok, dan gubuk reot di pinggiran, bintang-bintang bersinar. Masing-masing anggota Pasca Tengah Malam memandangnya.

Sania di balkon kosnya, memandang bintang jatuh. “Lihat itu, Dev? Gue enggak marah lagi. Istirahatlah”.

Erick di jendela apartemen, gitar Deva di pangkuan. “Riff buat lagu baru, nih. Loe dengerin ya dari atas”.

Maya & Denny berpegangan tangan di depan jendela. “Studio kita akan bernama ‘Angin Studio’, Dev. Biar loe selalu ada di sini”.

Ninda di teras gubuk, memandang rembulan. “Besok aku mulai urus yayasan, Dev. Untuk anak-anak seperti Seli dan Rio. Terbanglah tenang”.

Malam itu, di bawah bintang yang sama, mereka tidak hanya berduka. Mereka berjanji. Janji pada angin, pada bintang, pada Deva: Hidup mereka akan menjadi melanjutkan lagu yang tak selesai. Dan Pasca Tengah Malam akan terus mengudara, dengan cara mereka sendiri.

THE END