TERTERA DI LANGIT

BUMIBAHASA / SIRWARA.COM

PROUDLY PRESENTS

“TERTERA DI LANGIT”

Di antara bintang yang redup cahayanya

Kusimpan rindu yang tak bisa kuungkapkan

Seperti bulan yang mengejar matahari

Tapi takdir memisahkan kita selamanya

Bukan keinginanku untuk pergi menjauh

Meninggalkan cinta yang telah kita bangun

kau berubah menjadi airmata

dan aku duri luka dalam hidupmu

Tertera di langit kisah kita

Terukir di luas bentang semesta

Tuhan slalu mendengar teriakku

Takdir ini aku membencinya

Tertera di langit jalan berbeda

Menikam harapmu membunuh rasaku

Dan demi Cinta

kuakan mengingatmu hingga nafas terakhirku

Andai aku bintang jatuh yang bisa mengubah takdir

kuingin menulis cerita dan menua bersama

Namun seperti gerhana yang datang dan pergi

Tak dimaksudkan untuk lama bersama

BABAK I: PERPUSTAKAAN USC, OKTOBER 2029

Senja mulai menyerap cahaya di Los Angeles. Di dalam Perpustakaan Doheny USC, lampu-lampu neon putih menyala dengan desis rendah yang konstan, memantulkan bayangan panjang di lantai vinyl yang sudah aus. Udara terasa pengap, dijejali aroma kertas tua yang akrab, debu buku yang tertimbun di rak-rak tinggi, dan sisa kopi dingin dari gelas kertas yang terlupakan di meja sebelah. Suara mesin AC yang berdengung seperti lebah raksasa menjadi latar belakang sunyi yang dipotong sesekali oleh decitan kursi kayu tua saat seseorang bergeser, atau lembaran halaman yang dibalik dengan suara gesekan khas.

Di meja dekat jendela besar yang memamerkan siluet pohon palem bergoyang pelan melawan langit jingga-lembayung, Rahan Ardalan duduk membungkuk. Usianya dua puluh dua, tapi kerutan di dahinya membuatnya terlihat lebih tua. Rambut ikal hitamnya awut-awutan, seperti baru saja diserang angin kencang atau tangan yang terus-menerus menarik-nariknya. Dia mengenakan kaos abu-abu lusuh berlengan pendek yang sudah melar di bagian leher dan celana jeans biru yang sobek alami di kedua lututnya. Matanya yang cokelat gelap, biasanya penuh semangat dan penasaran, sekarang tampak lelah dan frustrasi, menatap buku tebal di depannya seolah itu adalah musuh bebuyutan. Buku itu bertajuk “Advanced English Grammar in Use”. Di halaman tujuh puluh delapan, terlihat coretan-coretan merah marah bertuliskan “WRONG —> PAST PERFECT?!” berulang-ulang di pinggir halaman, menodai kalimat contoh yang sudah diacak-acak jawabannya. Pulpen biru di tangannya yang berkeringat menggigil, seolah ragu-ragu untuk mencoret lagi.

Di meja tepat di sebelahnya, Maya Foster sedang menyelesaikan esainya. Gadis dua puluh satu tahun itu rapi tapi santai, rambut cokelatnya diikat ekor kuda longgar, beberapa helai lepas membingkai wajahnya yang tulus. Dia mengenakan kaus berkerah boat berwarna krem dan cardigan biru tua yang tipis. Matanya yang hijau keabu-abuan bergerak cepat menyusuri baris-baris di laptopnya, sesekali mengetik dengan jari-jemari yang ramping. Tumpukan buku sastra Inggris—Mrs. Dalloway, The Great Gatsby, A Poetry Anthology—berdiri rapi di sampingnya. Suara desahan frustrasi yang cukup keras dari Rahan membuatnya mengalihkan pandangannya dari layar. Dia memerhatikan pria itu sebentar, melihat kerut keningnya yang dalam dan buku yang dipenuhi coretan merah itu. Sebuah senyum simpatik yang kecil muncul di bibirnya.

“Masalahnya ‘past perfect continuous’ lagi?” tanya Maya, suaranya lembut tetapi jelas terdengar di ruangan yang relatif sepi itu. Dia menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang di kursinya.

Rahan terkejut, menoleh ke arahnya. Pipinya sedikit memerah karena ketahuan terjebak kesulitan. “Ah, iya. Semuanya,” jawabnya dengan suara serak, sedikit malu. Dia mengangkat bahu, gerakan yang canggung. “Aku lebih ngerti mesin rusak berasap di bengkel daripada aturan kapan harus pakai ‘had been’ atau ‘was’ ini.” Dia menyodorkan bukunya sedikit ke arah Maya, memperlihatkan halaman yang penuh kekacauan tinta merahnya. “Aku nyerah. Namaku Rahan, dari Teknik Mesin.” Ucapannya datar, menyerah.

Maya memandang coretan-coretan itu dengan ekspresi penuh perhatian, bukan menghakimi. “Wah,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Dia menoleh kembali ke Rahan. “Aku Maya, Sastra Inggris.” Jarinya yang ramping menunjuk ke satu kalimat contoh yang dicoret habis-habisan oleh Rahan. “Lihat, di sini salahnya. Harusnya ‘had been studying’, bukan ‘was studying’.” Dia menatap Rahan, menjelaskan dengan sabar. “Karena di konteksnya, dia sudah belajar selama dua jam sebelum temannya datang, kan? Jadi aksi ‘belajar’-nya itu mulai di masa lampau dan masih berlangsung terus sampai titik waktu lain di masa lampau juga. Konteksnya penting.” Matanya yang hijau memancarkan kehangatan dan sedikit semangat mengajar.

Rahan mengangguk pelan, wajahnya masih berkerut dalam konsentrasi, tapi ada sedikit percikan pengertian yang mulai muncul. “Konteks…” ia mengulang, seperti mencerna kata itu. “Kayak… kayak di bengkel, kalau mesin bikin bunyi aneh, pasti ada sebabnya di bagian tertentu. Bunyi ‘klik-klik’ beda artinya kalau dari roda gigi atau dari piston.” Dia memandang Maya, mencari konfirmasi pada analogi anehnya. “Jadi tenses itu kayak… bunyi aneh di kalimat ya? Kita harus denger bunyinya, terus cari sebabnya di konteksnya?” Ekspresinya campur aduk antara bingung dan penasaran, seperti menemukan puzzle baru.

Maya tiba-tiba tertawa kecil, suaranya jernih seperti denting bel. “Hah!” ujarnya, matanya berbinar. “Bisa dibilang begitu! Analogi yang unik, Rahan dari Mesin.” Dia menggeleng-geleng kepala, masih tersenyum. Tanpa banyak bicara, dia mulai mengumpulkan bukunya dan laptopnya. “Biar lebih gampang jelasinnya…” katanya sambil berdiri. “Boleh aku duduk sini?” Dia sudah memindahkan barang-barangnya ke sisi meja Rahan sebelum pria itu sempat menjawab. Dia duduk di kursi yang tadinya kosong di seberangnya, sekarang hanya dipisahkan oleh buku-buku dan gelas kopi bekas.

Mereka menghabiskan satu jam berikutnya membedah teka-teki past perfect, past perfect continuous, dan sederet aturan lain yang membuat Rahan sesekali menggaruk-garuk kepalanya yang ikal. Maya menjelaskan dengan analogi-analogi dunia nyata yang seringkali membuat Rahan terkekeh atau mengangguk pelan dengan penuh pengertian. “Jadi kalau ada kata ‘sudah’ atau ‘telah’ yang sangat terasa di Bahasa Indonesianya, biasanya itu lampau banget, bisa jadi past perfect?” tanyanya mencoba merangkum.

“Bisa jadi!” sahut Maya, senang melihatnya menangkap pola. “Atau kalau ada durasinya, kayak ‘selama dua jam sebelum…’ itu juga kandidat kuat.”

Saat jam menunjukkan pukul tujuh malam, perpustakaan hampir sepi. “Aduh, udah malem,” kata Rahan, melihat ke luar jendela di mana langit sudah berubah menjadi ungu tua. “Terima kasih banyak, Maya. Bener-bener ngebantu banget.” Suaranya tulus. “Aku… eh, besok ada kelas pagi, tapi kalau kamu nggak keberatan, mungkin kita bisa lanjutin belajar bareng? Atau… gantian, aku bisa bantu apa yang aku bisa?” Tawarannya terdengar agak kikuk, tapi matanya berbinar penuh harap.

Maya tersenyum, senyum yang sampai menyentuh matanya. “Iya, boleh banget. Aku sering di sini senja-senja kayak gini.” Dia berdiri, mulai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas kain ecru-nya. “Atau… kalau mau sekalian ngerjain tugas sambil makan, ada kafetaria dekat Fakultas Sastra yang nasgor-nya enak.” Ucapannya santai, tapi ada sedikit tanya di ujungnya.

Rahan langsung mengangguk antusias, hampir seperti anak kecil. “Nasgor enak? Aku pasti datang!” katanya cepat, lalu tersadar dan mencoba berlagak lebih kalem. “Maksudku… iya, oke. Jam segini?” Dia berdiri, ikut memungut bukunya yang sudah penuh coretan tapi sekarang juga penuh catatan tambahan dari Maya.

“Jam tujuh besok sore?” usul Maya, sambil menenteng tasnya.

“Deal,” jawab Rahan, mengikuti Maya keluar dari ruang perpustakaan yang semakin sepi. Udara Los Angeles yang mulai dingin menyambut mereka di luar. Rahan berjalan di samping Maya, jarak antara mereka sedikit lebih dekat dari saat mereka masuk. Di bawah lampu jalan yang baru saja menyala, bayangan mereka memanjang di trotoar, untuk sesaat menyatu sebelum berpisah menuju asrama masing-masing. Rahan masih memegang bukunya erat-erat, dan untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada kerutan frustrasi di dahinya. Yang ada adalah senyum kecil yang enggan pergi, dan rasa penasaran tentang gadis cerdas yang tiba-tiba membuat tenses terasa sedikit lebih manusiawi.

BABAK II: APARTEMEN MAYA, MARET 2031

Malam itu, apartemen kecil Maya di pinggiran LA terasa seperti kapal yang mengarungi lautan gelap. Udara musim semi yang seharusnya segar terasa menggenang, berat oleh sesuatu yang tak terlihat. Sebuah ketakutan samar, seperti bau ozon sebelum petir menyambar. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari kotak ajaib di dinding – televisi yang menyala tanpa suara. Gambar-gambar bergerak di layarnya: tank berbaris seperti kumbang raksasa di padang pasir, pesawat tempur melesat meninggalkan jejak asap putih di langit biru kelam, wajah-wajah politisi yang tegang memancarkan retorika baja. Layar itu berkedip-kedip, memproyeksikan cahaya hantu yang menerawang wajah Maya yang pucat. Dia duduk bersila di sofa tua, selimut rajutan neneknya terabaikan di pangkuan, jari-jarinya membeku di atas buku “The Unbearable Lightness of Being” yang terbuka tapi tak terbaca. Setiap kedipan gambar perang di layar adalah jarum halus yang menusuk-nusuk ruang kesadarannya. Napasnya pendek, seperti burung yang terperangkap di sangkar sempit.

Kunci berputar di pintu. Suara itu – suara logam yang biasa jadi musik kedatangan – kali ini seperti guntur kecil. Rahan berdiri di ambang pintu. Dia tidak masuk. Cahaya koridor yang temaram membelakanginya, mengukirikan siluetnya yang tegang, hampir kaku, melawan kegelapan apartemen dan kilatan televisi. Dia masih mengenakan kaus kerjanya yang bernoda oli, tapi wajahnya bukan wajah mahasiswa teknik yang baru pulang dari bengkel. Wajahnya adalah bebatuan. Mata cokelatnya yang biasanya hangat seperti madu, kini membatu, memantulkan cahaya dingin dari layar TV. Ada sesuatu yang patah di balik tatapannya, sesuatu yang lebih keras dari baja.

“Maya,” suaranya parau, seperti terkelupas dari tenggorokan kering. “Kita perlu bicara.”

Dia melangkah masuk, menutup pintu dengan lembut. Tik. Bunyi kenop pintu itu seperti bunyi gembok yang mengunci sesuatu. Udara di ruangan itu berubah, menjadi lebih padat, lebih sulit dihirup. Rahan tidak menyalakan lampu. Dia hanya berdiri di tengah ruang tamu kecil, bayangannya jatuh panjang di lantai kayu yang usang. Tangannya meremas sesuatu – selembar kertas resmi dengan kepala surat Departemen Pertahanan. Kertas itu berkerut di kepalannya yang kuat.

Maya tidak bergerak. Dia hanya menatapnya, mata hijau keabu-abadannya membesar, menangkap bayangan malapetaka yang hinggap di pundak pria itu. “Rahan?” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar, seperti angin sepoi yang mengusik debu. “Kau… kau terlihat mengerikan.”

Dia menarik napas dalam, suaranya bergetar di udara yang menegang. “Surat panggilan itu… datang.” Dia mengangkat kertas itu setengah hati, seperti mempertunjukkan relikui kematian. “Aku… dipindahtugaskan. Ke Iran.” Kata “Iran” diucapkannya datar, tapi jatuh seperti batu nisan di ruang sunyi itu. “Front aktif.”

Maya bergerak. Dia melompat dari sofa, buku Kundera terjatuh ke lantai dengan suara ‘blup’ yang tumpul. “Iran?” ulangnya, suaranya meninggi, memecah keheningan. “Tapi… tapi itu zona neraka sekarang! Berita… berita menunjukkan pembantaian di sana!” Tangannya meraih remote, menyalakan suara TV. Seketika, ruangan dipenuhi teriakan reporter, suara ledakan yang direkam, tangisan. “Kau baru lulus, Rahan! Kenapa harus kau?” Dia melangkah mendekat, wajahnya yang biasanya lembut sekarang berkerut oleh ketakutan dan kemarahan yang mentah. “Katakan tidak! Kau bisa mengajukan keberatan! Atau… atau…” Matanya liar, mencari solusi di udara yang hampa. “Kita ke Kanada! Sekarang juga! Malam ini! Kita lari—”

“Maya.” Suaranya memotong, lebih keras, lebih tegas. Tapi bukan marah. Itu suara yang penuh beban, suara seorang pria yang terhimpit oleh roda sejarah yang kejam. Dia menatap lantai, pundaknya turun. “Aku mencoba,” bisiknya, penuh kegetiran. “Bukan itu masalahnya.” Dia mengangkat wajahnya, mata batu itu kini berkilau seperti kaca basah. “Aku terdaftar. Dan…” Napasnya dalam, bergetar. “Dan ada tekanan dari keluarga. Ayah…” Dia menyebut nama ayahnya, seorang veteran Perang Teluk yang kakinya digantikan titanium, dengan nada yang mengandung rasa sakit lama. “Dia bilang, Ardalan tidak pernah mundur dari tugas.” Dia berhenti sejenak, perjuangan batin terlihat jelas di rahangnya yang mengeras. “Dan… sebagai orang dengan nama Ardalan di negeri ini, kadang… kadang kau merasa harus membuktikan sesuatu lebih. Bahwa kau setia. Bahwa darah Iran di pembuluhmu tidak membuatmu goyah.” Ucapannya seperti pisau tumpul yang mencoba memotong kekusutannya sendiri. Dia memandang Maya, matanya memohon pengertian yang mungkin tidak bisa dia berikan. “Aku harus pergi, May. Ini bukan cuma perintah yang kuterma. Ini… kewajiban yang kupilih, entah kenapa. Untuk membuktikannya pada diriku sendiri, mungkin. Dan untuk melindungi masa depan… masa depan kita.” Kata “kita” diucapkannya dengan lemah, seperti doa yang hampir putus asa.

Maya terdiam. Air mata yang selama ini menggantung di pelupuk matanya akhirnya tumpah, mengalir deras di pipinya yang pucat. Dia tidak menjerit lagi. Kesedihannya tiba-tiba menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih sunyi. Dia melangkah pelan, tubuhnya seperti robot. Dia meraih lengan Rahan, cengkeramannya lemah tapi penuh keputusasaan. “Janjikan,” bisiknya, suaranya parau seperti daun kering yang diinjak. “Janjikan kau pulang. Pulang padaku.” Air matanya jatuh ke lengan baju Rahan yang kasar, membasahi noda oli yang sudah mengering.

Rahan tidak menjawab segera. Dia memandang wanita yang dicintainya – wanita yang wajahnya bersinar di bawah lampu observatorium saat mereka pertama kali bercinta, wanita yang tawanya menghangatkan sore-sore dingin di perpustakaan. Dia melihatnya kini hancur, terpecah oleh mesin perang yang jauh. Dengan gerakan yang hampir sakral, dia membuka lengan. Maya terjatuh ke dalam pelukannya, wajahnya terkubur di dada Rahan. Dia menggenggam erat kaus kerjanya, tubuhnya bergetar oleh isakan yang tertahan. Rahan memeluknya erat-erat, sangat erat, seolah ingin menanamkannya ke dalam tulang-tulangnya, ingin melindunginya dari seluruh dunia yang mengancam. Pelukannya bukan lagi pelukan kekasih; pelukannya adalah benteng terakhir, pelindung bagi sesuatu yang rapuh yang akan segera direnggut. Pipinya menempel di rambut Maya, dia menghirup dalam-dalam aroma sampo apelnya yang sederhana, mencoba mengabadikannya dalam ingatan. Ini aromanya, pikirnya, aroma rumah, aroma cinta, aroma kehidupan yang kutinggalkan.

“Aku akan pulang padamu, May,” gumamnya, suaranya serak, parau, bergetar melawan rambut Maya. Kata-katanya seperti mantra, diucapkan ke dalam rambutnya. “Aku berjanji. Aku akan pulang.” Dia menarik napas panjang, berusaha menahan tangisnya sendiri. “Kita akan lanjutkan rencana kita. Wisuda bareng… nikah di taman itu yang kau suka…” Suaranya tercekat. Dia memaksanya melanjutkan. “Semuanya. Aku akan pulang.” Pelukannya semakin kencang, seakan ingin membekukan waktu, menghentikan rotasi bumi, mempertahankan momen ini selamanya di ruang apartemen kecil yang diterangi cahaya TV yang masih menayangkan gambar-gambar kehancuran. Di luar jendela, mereka mendengar sirene ambulans melintas jauh, suaranya melengking lalu menghilang, seperti suara peringatan.

Maya hanya bisa menggenggam lebih erat, isakannya seperti bunyi angin yang meratap di celah-celah dinding. Di bawah kaki mereka, buku Kundera terbuka di halaman yang berbunyi: “If eternal return is the heaviest of burdens, then our lives can stand out against it in all their splendid lightness.” Ilusi mereka tentang masa depan yang ringan dan cerah remuk di lantai kayu, diinjak oleh derap sepatu lars dan gema perang yang datang menjemput. Rahan menutup mata, menahan Maya yang gemetar, merasakan detak jantungnya yang kencang seperti genderang perang kecil di dadanya. Janjinya menggantung di udara berkabut, indah dan rapuh, seperti sarang laba-laba yang tertiup angin badai yang baru saja membuka pintu. Di sudut ruangan, cahaya TV terus berkedip-kedip, menerangi debu-debu yang berterbangan dalam siluet mereka yang menyatu dan tragis. Mereka adalah patung kesedihan dalam cahaya buatan, berpelukan di tepi jurang yang dalam, sementara dunia di luar tanpa ampun terus berputar menuju kehancuran.

BABAK III: KEHILANGAN

Setting: Apartemen Maya, Februari 2033

Langit Los Angeles kelabu, hujan rintik-rintik mengetuk jendela seperti jari-jari gelisah. Di dalam, apartemen yang dulu hangat kini terasa seperti ruang ganti yang terlantar. Kardus-kardus setengah terisi bertebaran di lantai kayu yang tak lagi bersinar. Foto-foto dalam bingkai sudah dibungkus koran, menyisakan dinding kosong yang bernoda pucat bekas pigura. Bau debu dan asap lilin yang padam mengendap di udara.

Maya duduk di lantai dekat sofa, mengenakan sweater abu-abu longgar yang membuatnya terlihat lebih kecil. Di pangkuannya, sebuah album foto terbuka pada halaman yang robek separuh—hanya tersisa gambar Rahan tersenyum di Observatorium Griffith, separuh tubuh Maya yang memeluknya hilang terkoyak. Sebuah cangkir kopi dingin terabaikan di sampingnya, permukaannya sudah membentuk lapisan buram.

Surat-Surat yang Menghilang

Tiga bulan terakhir telah menjadi siksaan yang perlahan. Surat-surat Rahan, yang awalnya datang rutin setiap dua minggu, mulai jarang. Yang terakhir—dua bulan lalu—hanya berisi beberapa kalimat pendek: “May, situasi di sini semakin sulit. Kami dipindahkan ke zona yang lebih sensitif. Jika suratku terlambat, jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Aku mencintaimu.”

Maya telah menghitung hari. Enam puluh tiga hari tanpa kabar. Dia sudah menelepon kantor militer tiga kali, hanya untuk mendengar suara administratif yang dingin: “Maaf, Miss, kami tidak bisa memberikan informasi spesifik tentang operasi yang sedang berlangsung.”

Dia tidak mendengar ketukan pertama. Suaranya baru menembus kesadaran yang berkabut pada ketukan ketiga—keras, berirama, seperti palu godam yang menghantam peti mati. Tok. Tok. Tok. Hening. Lalu, lebih keras lagi. TOK. TOK. TOK. Nadanya resmi. Tak terbantahkan.

Kedatangan Berita

Maya bangkit perlahan, sendi-sendinya terasa berderak seperti mesin tak terawat. Melalui lubang intip, dia melihat dua siluet pria berseragam hijau tua. Topi berbentuk kapal perahu menghalangi sebagian wajah mereka, tapi sorot mata yang lurus ke depan, kaku seperti patung, terlihat jelas. Sebuah dingin menusuk tulangnya.

“Nyonya Maya Foster?” tanya pria yang lebih tinggi—Kapten Davis—suaranya datar namun mengandung beban berat. Seragamnya rapi tanpa cela, pangkat Kapten terpampang di bahu. Matanya biru pucat, menghindari kontak langsung.

Kapten Davis menarik napas dalam. “Atas nama Angkatan Darat Amerika Serikat, dengan penuh penyesalan, kami memberitahukan bahwa Sersan Rahan Ardalan dinyatakan gugur dalam operasi di Kermanshah, Iran, pada tanggal 18 Februari.” Setiap kata jatuh seperti batu nisan. “Kontak senjata intensif. Ledakan besar.”

Gugur. Kata itu menggantung di udara, mengkristal menjadi pisau es.

“Jenazahnya…” Maya memaksakan kata itu keluar, suaranya serak.

Kapten Davis membuka map, mengeluarkan selembar kertas fotokopi—gambar satelit buram menunjukkan bentang alam berbatu, tertutup awan hitam dan bekas ledakan. “Kondisi medan sangat ekstrem. Ledakan dahsyat yang meratakan area seluas dua kilometer persegi.” Suaranya teknis, klinis. “Tim SAR telah melakukan pencarian intensif selama dua minggu, tapi…” Dia menghela napas. “Debris terlalu tebal. Area masih tidak stabil untuk operasi pemulihan jenazah.”

“Jadi dia…” Maya tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

“Kami sangat menyesal. Kami tidak bisa memulangkannya.”

Surat Terakhir yang Tersembunyi

Setelah para perwira pergi, Maya duduk terpaku di lantai, memeluk album foto yang robek. Jam berdetak di dinding—tik-tok, tik-tok—seperti hitung mundur ke kehampaan. Dia menatap map cokelat yang ditinggalkan di atas kardus, berisi dokumen resmi, brosur dukungan psikologis, dan…

Matanya menangkap sesuatu. Di sudut map yang agak mengembang, terselip selembar kertas yang berbeda. Bukan kertas resmi putih bersih, tapi kertas surat usang dengan tepi compang-camping, bernoda cokelat seperti tanah atau… darah kering. Tulisannya tidak diketik—coretan tinta biru yang tidak rata, kadang dalam menekan kertas, kadang tipis dan putus-putus.

Maya mengeluarkannya dengan tangan gemetar. Aroma asing menyengat hidungnya—campuran tanah basah, asap mesiu, dan keringat. Aroma yang langsung memicu memori sensorik yang dalam.

Isi Surat Terakhir:

May,

Tempat ini… neraka yang sesungguhnya. Kata itu tidak cukup menggambarkan. Neraka punya aturan. Di sini hanya ada kekosongan yang memakan jiwa.

Kami terjebak di outpost kecil, dikelilingi. Sudah lima hari tanpa resupply. Air habis kemarin. Jenkins—kau ingat aku cerita tentang dia?—terkena serpihan mortir kemarin. Aku memegang tangannya sampai… sampai dia berhenti bernapas. Mata biru mudanya terbuka terus menatap langit abu-abu.

May, aku takut aku tidak akan pulang. Bukan pesimis, tapi realistis. Situasi di sini… tidak ada yang keluar hidup-hidup dari ceruk ini. Mereka di atas bukit punya mortir, kami cuma punya amunisi untuk beberapa jam lagi.

Tapi aku menulis ini karena aku butuh kau tahu—setiap detik di neraka ini, wajahmu yang membuat aku bertahan. Ketika mortir meledak dan dunia bergetar, aku tutup mata dan ingat suaramu tertawa di perpustakaan. Ketika Jenkins meninggal di pelukanku, aku ingat pelukan terakhir kita.

Jangan tunggu aku terlalu lama, May. Kalau kabarku terputus, kau tahu artinya. Hidup terlalu berharga untuk dikuburkan bersama mayat.

Tapi tahu tidak? Aku tidak menyesal. Aku mencintaimu dengan cara yang membuatku rela mati untuk dunia yang akan kau tinggali. Dunia yang lebih baik untuk anak-anak kita yang mungkin tidak akan pernah ada.

Aku mencoba bertahan, May. Untuk janjiku. Untuk kita. Tapi jika aku gagal… ingatlah aku bukan sebagai mayat di Kermanshah, tapi sebagai pria yang mencintaimu di bawah lampu perpustakaan.

Sampai jumpa di kehidupan lain.

Selamanya milikmu,
Rahan

P.S. – Tanganku gemetar menulis ini. Mortir lagi. Tinta hampir habis. Maafkan tulisan yang jelek.

Reaksi Maya

Surat itu jatuh dari tangannya yang gemetar. Bukan lagi pemberitahuan resmi tentang “gugur dalam tugas” yang abstrak. Ini adalah jeritan terakhir pria yang dicintainya, ditulis dalam ketakutan dan kepastian kematian.

Maya melolong—suara yang keluar dari kedalaman perutnya, erangan binatang terluka yang mencabik keheningan apartemen. Dia merobek foto yang tersisa, memukul kardus-kardus, menjerit nama Rahan sampai suaranya serak.

Kemudian, tiba-tiba, keheningan total.

Dia memeluk surat itu ke dada, tubuhnya bergetar oleh isakan yang dalam. “Aku menunggu,” bisiknya pada kertas usang itu. “Aku akan selalu menunggu.”

Tiga Tahun dalam Kubangan

Tahun Pertama – Isolasi Total: Maya tidak keluar apartemen selama berbulan-bulan. Makanan diantar ibunya, Lila, yang datang setiap hari dengan mata penuh keprihatinan. Maya berhenti mandi, berhenti makan dengan benar, berhenti hidup dalam arti sebenarnya. Dia hanya bernapas, kadang membaca surat Rahan berulang-ulang sampai hapal di luar kepala.

Tahun Kedua – Kelompok Pendukung: Lila memaksa Maya bergabung dengan kelompok pendukung keluarga korban perang. Maya duduk di lingkaran kursi plastik, mendengar cerita-cerita serupa—kehilangan, ketidakpastian, kesedihan yang menggerogoti. Dia tidak pernah bicara, tapi perlahan menyadari dia bukan satu-satunya kapal yang karam di lautan duka.

Tahun Ketiga – Benih Kecil: Maya mulai bekerja paruh waktu di perpustakaan kecil, mengatur buku anak-anak. Tugas sederhana yang tidak membutuhkan interaksi berat. Suatu hari, dia membaca “The Very Hungry Caterpillar” untuk seorang anak, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dia tersenyum sungguhan.

Transisi ke Bantuan Profesional

Akhir 2036, setelah Maya terbangun berteriak nama Rahan tengah malam dan Lila menemukannya memeluk surat usang itu sambil menangis, ibunya membuat keputusan:

“May, kau butuh bantuan profesional.”

“Aku sudah ikut kelompok—”

“Bukan itu. Terapis sungguhan. Psikiater.”

Maya ingin menolak, tapi melihat mata ibunya yang putus asa, dia mengangguk lemah.

Itulah yang membawanya ke klinik Dr. Patricia Hendricks di awal 2034. Dan ketika Dr. Hendricks berhalangan, seorang pengganti mengambil alih kasusnya—Dr. David Morgan, pria dengan mata cokelat teduh yang ternyata memahami kehilangan dengan cara yang sangat personal.

BABAK IV: KEHIDUPAN BARU

Dua Tahun Setelah Kabar Duka – Perkenalan David

2037 datang dengan aroma bunga jacaranda yang mulai bermekaran di sepanjang Sunset Boulevard. Maya telah melalui dua musim dingin yang brutal—yang pertama dalam isolasi total, yang kedua dalam pergulatan perlahan untuk sekadar bernapas. Kini, dia duduk di ruang tunggu klinik psikiatri Dr. Patricia Hendricks, jari-jarinya meremas-remas brosur “Managing Grief and Moving Forward” yang sudah lusuh.

Kelompok pendukung dengan Helen telah membantunya keluar dari lubang terdalam, tapi masih ada malam-malam ketika bayangan Kermanshah menghantui mimpinya, ketika surat usang Rahan yang dia baca ulang membuat dadanya sesak hingga sulit bernapas. Lila, ibunya, yang akhirnya memaksanya mencari bantuan profesional setelah melihat Maya terbangun berteriak nama Rahan tengah malam.

“Maya Foster?” suara itu dalam, tenang, dengan aksen samar yang tidak bisa dia identifikasi.

Maya mendongak. Pria berusia pertengahan tiga puluhan berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja biru muda yang rapi dan celana khaki. Wajahnya… teduh. Itu kata pertama yang muncul di benaknya. Bukan tampan dalam arti konvensional, tapi ada ketenangan yang memancar dari mata cokelatnya yang gelap, sesuatu yang familiar dengan kesedihan tapi tidak tenggelam di dalamnya.

“Saya Dr. David Morgan,” ujarnya, mengulurkan tangan. “Maaf, Dr. Hendricks mendadak ada keluarga yang sakit. Saya menggantikannya hari ini, jika Anda tidak keberatan.”

Maya berdiri canggung, menjabat tangannya. Genggamannya hangat, mantap, tidak terlalu lama tapi juga tidak terburu-buru. “Tidak apa-apa,” gumamnya.

Ruang praktiknya berbeda dari yang dia bayangkan. Tidak steril dan dingin seperti rumah sakit, tapi hangat dengan rak buku yang penuh, tanaman hijau di sudut, dan foto-foto pemandangan alam yang menenangkan. David duduk di kursi berlengan yang sama dengan milik Maya, bukan di belakang meja besar yang memisahkan.

“Ini kunjungan pertama Anda?” tanya David, membuka file tipis.

Maya mengangguk. “Dr. Hendricks bilang… saya perlu bicara dengan seseorang. Tentang… kehilangan.”

David menaikkan alis sedikit, membaca catatan singkat. “Tunangan Anda. Gugur di Iran.” Bukan pertanyaan, tapi pernyataan yang sangat hati-hati.

“Rahan.” Nama itu keluar begitu saja. “Dua tahun lalu.”

“Itu waktu yang… panjang untuk menanggung sendirian,” kata David pelan. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Maya menoleh cepat. Bukan nada klinis dokter yang berpengalaman. Lebih seperti… pengenalan.

“Anda… Anda juga?” Maya bertanya sebelum bisa menahannya.

David terdiam sejenak. Jari-jarinya yang panjang bermain dengan pulpen, gerakan yang Maya sadari adalah kebiasaan ketika seseorang sedang mempertimbangkan seberapa banyak yang harus dibagi. “Istri saya,” katanya akhirnya. “Sarah. Perawat militer. Kuwait, setahun sebelum tunangan Anda.”

Udara di ruangan itu berubah. Tiba-tiba bukan lagi sesi terapi antara dokter dan pasien, tapi dua orang yang terdampar di pulau yang sama di tengah lautan duka.

“Pangkalan medis?” tanya Maya, suaranya hampir berbisik.

“Serangan roket nyasar. Dia sedang merawat tentara yang terluka ketika…” David berhenti, menatap foto pemandangan gunung di dinding. “Mereka bilang dia menyelamatkan tiga orang sebelum… sebelum atapnya runtuh.”

Maya merasakan sesuatu yang aneh—bukan lega, tapi pengakuan. Selama dua tahun, dia merasa seperti alien di planet orang-orang normal yang belum pernah kehilangan separuh jiwa mereka di medan perang di benua lain. Di sini, di ruangan hangat ini, ada seseorang yang mengerti tanpa perlu penjelasan panjang.

“Bagaimana Anda… bekerja?” tanya Maya. “Mendengar cerita orang lain tentang kehilangan, sementara Anda sendiri…”

David tersenyum pahit. “Terapi adalah cara saya mencoba memahami. Membantu orang lain menemukan jalan keluar dari labirin yang sama tempat saya masih… mencari jalan.” Dia menatap Maya. “Mungkin kita bisa mencari bersama.”

Penyembuhan Bertahap – Bulan-Bulan Berikutnya

Sesi-sesi berikutnya tidak seperti terapi konvensional. David tetap profesional, tapi ada pemahaman implisit di antara mereka—pemahaman tentang jam tiga pagi ketika kesedihan menghantam seperti truk, tentang bagaimana aroma tertentu bisa memicu keruntuhan total, tentang rasa bersalah yang menggerogoti karena masih hidup.

“Hari terburuk?” tanya David suatu sesi, empat bulan setelah pertemuan pertama mereka.

“Ketika saya hampir membuang semua barangnya,” jawab Maya. “Kaos USC-nya, buku-buku tekniknya. Saya sudah memasukkan semuanya ke kantong sampah. Baru ketika mencium aromanya yang masih menempel di kain…” Air matanya mengalir. “Saya memeluk kantong sampah itu seperti orang gila.”

David mengangguk. “Saya melakukan hal yang sama dengan jas lab Sarah. Sudah tiga kali mencoba membuangnya.”

“Tiga kali?”

“Masih di lemari saya. Di bawah plastik cucian kering.”

Mereka tertawa—suara yang retak dan pahit, tapi tetap tawa. Momen pertama Maya tertawa dalam waktu yang lama.

“Ada rasa bersalah karena tertawa?” tanya David, seperti bisa membaca pikirannya.

“Seperti… pengkhianatan.”

“Sarah punya tawa yang menular. Dia akan marah jika saya berhenti tertawa karena dia.” David berhenti. “Tapi tetap saja… terasa salah.”

Bulan-bulan berlalu dengan sesi-sesi yang semakin terasa seperti percakapan dua teman lama. David tidak mencoba “menyembuhkan” Maya atau memberikan solusi klise. Dia hanya ada, memahami, dan terkadang berbagi bagian dari perjalanannya sendiri.

“Kapan Anda tahu Anda siap… untuk tidak hanya bertahan, tapi hidup?” tanya Maya suatu hari di awal musim gugur.

David memikirkannya lama. “Ketika saya menyadari bahwa mencintai Sarah dan mencintai hidup tidak harus saling meniadakan. Bahwa menghormatinya bukan berarti menguburkan diri bersama kenangan.” Dia menatap Maya. “Anda sudah mulai sampai di sana.”

“Bagaimana Anda tahu?”

“Anda tadi tersenyum ketika bercerita tentang anak-anak di perpustakaan. Senyum sungguhan. Pertama kali saya lihat.”

Transisi ke Hubungan

Juni 2037, sesuatu berubah. Maya mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang David—cara dia menggulung lengan kemejanya ketika konsentrasi, bagaimana dia selalu menyediakan tisu sebelum Maya menyadari butuh menangis, suaranya yang menenangkan ketika dia membacakan kutipan dari buku-buku psikologi.

“Saya pikir… saya tidak ingin ini hanya terapi lagi,” kata Maya suatu sore di akhir sesi.

David berhenti menulis catatan. “Apa maksudnya?”

“Saya tidak tahu. Mungkin… kopi? Di luar sini?”

David terdiam lama, konflik internal terlihat jelas di wajahnya. “Maya, ada aturan etika…”

“Saya tahu. Tapi ada juga… ini.” Maya menunjuk ruang di antara mereka. “Ini bukan hubungan dokter-pasien biasa, dan Anda tahu itu.”

David menaruh pulpennya, bersandar ke belakang. “Jika kita melakukan ini… kita harus mengakhiri hubungan terapis formal terlebih dahulu. Saya akan merujuk Anda ke kolega saya.”

“Oke.”

“Dan kita mulai dari nol. Bukan sebagai dokter dan pasien, tapi sebagai… dua orang yang mencoba mencari tahu apa artinya hidup setelah kehilangan.”

Maya mengangguk. “Dua orang yang mungkin lebih baik mencari tahu bersama.”

Kopi Pertama – Membangun Fondasi Baru

Kedai kopi kecil di Melrose Avenue, seminggu kemudian. David terlihat berbeda tanpa kemeja klinisnya—lebih muda, lebih rentan. Maya memakai dress simpel biru tua yang sudah lama tidak dipakainya.

“Ini aneh,” kata Maya, mengaduk kopinya.

“Sangat aneh,” setuju David. “Tapi aneh yang… baik?”

“Saya tidak ingat bagaimana rasanya… tertarik pada seseorang. Setelah Rahan.”

“Saya juga. Setelah Sarah.” David berhenti. “Apakah kita harus membicarakan mereka? Atau malah tidak membicarakan mereka?”

Maya memikirkannya. “Membicarakan mereka. Mereka bagian dari kita. Tapi mungkin… tidak semua tentang mereka.”

“Deal.”

Mereka menghabiskan tiga jam di kedai itu. David bercerita tentang masa kecilnya di Oregon, bagaimana dia memutuskan menjadi psikiater setelah ayahnya bunuh diri. Maya bercerita tentang obsesinya dengan puisi, impiannya yang dulu mengajar di universitas kecil di Vermont.

“Anda masih bisa mengajar,” kata David.

“Rasanya seperti kehidupan yang berbeda. Sebelum…”

“Mungkin kehidupan yang berbeda tidak harus berarti kehidupan yang lebih buruk.”

Ketika mereka berpisah di parkiran, David tidak mencoba menciumnya atau bahkan menyentuh tangannya. Tapi dia berkata, “Saya ingin melakukan ini lagi. Jika Anda juga mau.”

“Saya mau.”

Pernikahan yang Bittersweet – Akhir 2037

Enam bulan setelah kopi pertama mereka, David dan Maya berdiri di hadapan hakim di Pengadilan Sipil Beverly Hills. Tidak ada gaun putih yang mengembang atau buket mawar merah. Maya mengenakan dress biru navy sederhana—warna yang sama dengan sweater Rahan yang pertama kali mereka kenakan di perpustakaan—dan memegang buket bunga lili putih kecil. David mengenakan setelan abu-abu gelap, tidak ada senyum lebar yang biasa terlihat di pernikahan, tapi ada ketenangan dalam matanya.

Saksi mereka hanya empat orang: Lila dan Robert (orang tua Maya), serta Helen dari kelompok pendukung dan Dr. Patricia Hendricks. Tidak ada musik organ atau lagu romantis. Hanya suara hakim yang membacakan ikrar, dan suara lalu lintas Los Angeles yang samar di luar jendela.

Ketika hakim berkata, “Anda boleh mencium pengantin,” David dan Maya hanya bertatapan sejenak. Ciuman mereka lembut, hati-hati, seperti dua orang yang masih belajar bagaimana menyentuh masa depan tanpa menghancurkan masa lalu.

“Ini bukan permulaan yang baru,” bisik David di telinga Maya saat mereka berpelukan. “Ini kelanjutan yang berbeda.”

Maya mengangguk, air mata mengalir di pipinya—bukan air mata kebahagiaan murni, tapi air mata syukur yang bercampur duka. Dia masih mencintai Rahan. Akan selalu mencintai. Tapi dia juga mencintai David, dengan cara yang berbeda—cinta yang tumbuh dari pemahaman, dari rasa sakit yang dibagi, dari keputusan sadar untuk tidak membiarkan kehilangan menguasai sisa hidupnya.

Di resepsi kecil di restoran Italia sederhana, Lila mengangkat gelas wine-nya. “Untuk David dan Maya,” katanya, suaranya bergetar. “Yang mengajarkan kita bahwa cinta tidak selalu tentang menemukan orang yang sempurna, tapi tentang menemukan orang yang sempurna untuk membantu kita sembuh.”

Bulan Madu yang Tidak Konvensional

Mereka tidak pergi ke Paris atau Hawaii. Sebaliknya, David dan Maya menghabiskan seminggu di kabin kecil di Big Sur, dikelilingi hutan redwood yang tinggi menjulang. Tidak ada tekanan untuk bersikap romantis atau bahagia secara berlebihan. Mereka hanya… ada bersama.

Malam pertama, Maya duduk di teras kayu, membaca surat Rahan yang sudah dia hapal. David tidak cemburu atau merasa terancam. Dia duduk di sampingnya, membaca jurnal lama Sarah yang berisi catatan-catatan medisnya dari Kuwait.

“Aneh tidak?” kata Maya. “Bulan madu sambil membaca tentang orang yang sudah mati.”

“Mungkin bagi orang lain,” jawab David. “Tapi mereka bagian dari kita. Kalau kita pura-pura mereka tidak ada, kita juga akan kehilangan bagian dari diri kita sendiri.”

Malam kedua, Maya menceritakan tentang mimpi buruknya—mimpi di mana dia berjalan-jalan di Kermanshah, mencari Rahan di antara puing-puing, tapi yang ditemukannya hanya serpihan foto polaroid mereka yang terbakar.

“Dalam mimpi saya,” kata David, “Sarah selalu marah karena saya tidak menyelamatkannya. Padahal saya bahkan tidak ada di sana ketika itu terjadi.”

“Survivor’s guilt?”

“Mungkin. Atau hanya… keinginan untuk bisa mengubah yang tidak bisa diubah.”

Mereka memasak bersama, berjalan-jalan di pantai berbatu, duduk diam-diam membaca buku. David memijat bahu Maya ketika dia tegang karena mimpi buruk. Maya membuat teh chamomile untuk David ketika dia bangun jam tiga pagi karena insomnia. Mereka belajar ritme satu sama lain dengan sabar, tanpa terburu-buru.

“Aku tidak berjanji untuk melupakan Rahan,” kata Maya di malam terakhir, kepalanya di bahu David.

“Aku tidak berjanji untuk melupakan Sarah,” balas David. “Tapi aku berjanji untuk tidak membiarkan kenangan mereka menghalangi kita membangun sesuatu yang baru.”

Membangun Rumah – Awal 2038

Mereka menjual apartemen Maya yang penuh kenangan menyakitkan dan rumah David yang terlalu besar untuk satu orang, lalu membeli rumah kecil bergaya Craftsman di Silver Lake. Dua kamar tidur, taman belakang kecil, dan ruang kerja yang bisa dijadikan perpustakaan mini.

Proses menata rumah menjadi negosiasi halus tentang ruang untuk masa lalu dan masa depan. Di ruang kerja, mereka memasang dua meja—satu untuk David dengan foto Sarah dalam bingkai sederhana, satu untuk Maya dengan foto Rahan di Observatorium Griffith yang sudah diperbaiki dan dibingkai ulang. Tidak tersembunyi, tapi juga tidak dominan.

Maya mulai mengajar lagi—tidak di universitas besar seperti dulu dia impikan, tapi di sekolah menengah komunitas di East LA. Anak-anak dari keluarga imigran yang mengingatkannya mengapa sastra penting: untuk memberikan bahasa pada pengalaman yang sulit diungkapkan.

David membuka praktik bersama dengan dua psikiater lain, spesialisasi dalam trauma dan kehilangan. Pengalamannya sendiri membuatnya menjadi terapis yang lebih empati, meskipun dia tetap harus bergulat dengan batasannya sendiri.

“Pasien saya hari ini mengingatkan saya pada diri saya sendiri tiga tahun lalu,” kata David suatu malam sambil membantu Maya menyiram tanaman di taman belakang.

“Dalam hal apa?”

“Dia bilang dia merasa bersalah karena mulai tertawa lagi. Merasa seperti mengkhianati orang yang sudah mati.”

Maya berhenti menyiram, menatap bunga lavender yang mulai bermekaran. “Dan apa yang kau katakan?”

“Bahwa orang yang kita cintai tidak akan pernah menginginkan kita mati bersama mereka. Mereka akan menginginkan kita hidup—bukan hanya bertahan, tapi benar-benar hidup.”

Kehamilan Ethan – Pertengahan 2038

Maya menyadari telat haid di bulan April. Dua minggu kemudian, dia duduk di kamar mandi, menatap dua garis merah di test pack dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan.

Kegembiraan. Ketakutan. Rasa bersalah yang tiba-tiba dan mengejutkan.

“David?” panggilnya dengan suara gemetar.

David berlari ke kamar mandi, melihat test pack di tangan Maya. Wajahnya berubah—dari khawatir, ke terkejut, ke… bahagia yang hati-hati.

“Kau… kita… benar-benar?” kata David, suaranya parau.

Maya mengangguk, air mata mengalir di pipinya. “Aku tidak tahu harus merasa apa.”

David berlutut di hadapannya, memeluk pinggangnya dengan lembut. “Boleh aku jujur? Aku senang. Sangat senang. Tapi juga takut.”

“Takut kenapa?”

“Takut tidak akan jadi ayah yang baik. Takut… Sarah tidak akan menyetujui ini.”

Maya mengusap rambut David yang mulai menipis di puncaknya. “Rahan punya rencana kita akan punya anak-anak,” bisiknya. “Dia selalu bicara tentang mengajari anak laki-laki kami cara memperbaiki motor, atau membacakan dongeng untuk anak perempuan kami.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang… mungkin dia akan senang kalau tahu anaknya akan dibesarkan oleh pria yang baik seperti kamu.”

Kehamilan Maya relatif mudah secara fisik, tapi secara emosional penuh pergolakan. Ada malam-malam dia terbangun menangis, merasa seperti mengkhianati memori Rahan dengan membawa anak David. Ada juga malam-malam dia merasakan gerakan bayi di perutnya dan merasa… lengkap untuk pertama kalinya dalam lima tahun.

David sabar menghadapi mood swing-nya. Ketika Maya marah tanpa alasan, dia tidak membalas. Ketika Maya menangis karena merasa bersalah, dia mendengarkan tanpa mencoba memberi solusi cepat.

“Bayi ini bukan pengganti,” kata David suatu malam ketika Maya sedang gelisah. “Dia tidak menghapus Rahan dari hidupmu. Dia hanya… tambahan. Bagian baru dari cerita kita.”

Kelahiran Ethan – Desember 2038

Ethan lahir dalam badai salju yang langka di Los Angeles, tangisannya yang pertama terdengar bersamaan dengan gemuruh guntur. Maya melihat wajah kecilnya—campuran fitur David dan dirinya, tapi sesuatu di matanya yang membuatnya teringat pada kebaikan Rahan.

“Halo, Ethan,” bisik Maya sambil menggendong bayi itu. “Aku Maya, mama kamu. Dan ini David, papa kamu.”

David menangis—tangisan laki-laki dewasa yang sudah terlalu lama menahan emosi. “Dia sempurna,” gumamnya. “Benar-benar sempurna.”

Dalam diam, Maya berbisik doa kecil untuk Rahan, berterima kasih padanya karena telah mengajarinya cara mencintai, yang membuatnya bisa mencintai David, yang pada akhirnya memberinya Ethan.

Malam itu, saat Ethan tertidur di dadanya, Maya merasa damai untuk pertama kalinya sejak Kermanshah. Dia tidak lupa Rahan—tidak akan pernah. Tapi dia juga tidak lagi terpenjara oleh kenangan. Dia hidup. Dia mencintai. Dia dicintai.

Dan itu sudah cukup.

Kehidupan Keluarga Kecil – Awal 2039

Rumah kecil di Silver Lake berubah menjadi rumah sungguhan. Suara tawa Ethan, aroma bubur bayi, dan kekacauan popok yang menggemaskan. David ternyata ayah yang luar biasa—sabar, lembut, tapi juga tegas ketika diperlukan.

Maya kembali mengajar part-time ketika Ethan berusia enam bulan. David mengatur jadwalnya untuk bisa jaga Ethan saat Maya di sekolah. Mereka belajar menjadi tim, bukan hanya pasangan yang saling menyembuhkan.

“Kau tidak pernah bilang kalau jadi orangtua itu seberat ini,” kata Maya suatu malam, sambil menyusui Ethan yang rewel.

“Sarah selalu bilang dia ingin anak,” kata David, duduk di sampingnya. “Kami sempat mencoba sebelum dia dikirim ke Kuwait.”

“Apa kau… menyesal?”

“Menyesal apa?”

“Bahwa anak pertamamu bukan dari Sarah.”

David terdiam lama, memandangi Ethan yang mulai tenang. “Tidak,” katanya akhirnya. “Aku sedih Sarah tidak bisa merasakan ini. Tapi aku tidak menyesal Ethan ada. Dia… dia yang terbaik dari kita berdua.”

Maya tersenyum, mengecup dahi Ethan. “Rahan akan menyukainya,” bisiknya. “Dia akan mengajarinya cara memperbaiki motor.”

“Dan Sarah akan mengajarinya cara merawat luka,” tambah David. “Mereka akan bangga melihat kita berhasil… hidup.”

BABAK V: REUNI YANG MENYAKITKAN

Setting: Sunny Mart, Silver Lake – Sabtu Sore, Agustus 2043

Udara Los Angeles terasa lengket meski AC toko menyala kencang. Suara musik pop yang lembut mengalir dari speaker, tercampur dengan bunyi troli yang berderit dan obrolan kasir yang monoton. Maya berjalan pelan di antara lorong-lorong yang familiar, satu tangan memegang troli, tangan lainnya sesekali menyentuh perutnya yang membuncit—hamil enam bulan anak kedua.

Ethan, yang kini berusia hampir lima tahun, melompat-lompat di sampingnya dengan energi tak terbatas. Rambut ikal coklatnya—warisan dari David—memantul-mantul saat dia berlari kecil mengejar bayangan troli di lantai yang mengkilap.

“Mama, boleh beli cereal yang ada marshmallow?” pinta Ethan sambil menunjuk rak tinggi dengan mata berbinar.

“Yang kemarin sudah habis?” tanya Maya, sedikit tersenyum melihat antusiasme anaknya.

“Itu beda, Mama! Yang itu bentuk bintang, yang ini bentuk hati!”

Maya menggeleng geli. Setelah empat tahun menjadi ibu, dia sudah hafal permintaan-permintaan kreatif Ethan untuk mendapatkan cereal baru. “Oke, tapi cuma satu. Dan kamu harus janji makan sayurannya juga malam ini.”

“Deal!” Ethan melakukan high-five kecil dengan Maya, lalu berlari menuju rak cereal.

Maya mengikutinya dengan langkah yang lebih pelan. Kehamilannya kali ini lebih berat daripada dengan Ethan. Punggungnya sakit, kakinya bengkak, dan dia mudah lelah. Tapi ada kebahagiaan yang tenang dalam kelelahan ini—kebahagiaan dari hidup yang penuh, hidup yang memiliki tujuan.

Sosok yang Familiar

Di lorong sereal, Maya berhenti untuk mengambil oatmeal—pilihan sehat yang selalu dia dan David sepakati untuk sarapan keluarga. Matanya menyapu rak-rak tinggi yang penuh warna, mencari merek yang biasa mereka beli.

Dari sudut matanya, dia menangkap sosok pria yang berdiri tidak jauh dari sana. Tinggi, agak kurus, mengenakan jaket denim usang dan celana jeans yang terlalu longgar. Rambutnya lebih panjang dan agak berantakan, jenggot tipis menutupi sebagian wajahnya. Yang mengganggunya adalah cara pria itu berdiri—kaku, seperti tentara, tapi juga… hilang. Dia menatap deretan kotak cereal berwarna-warni dengan ekspresi bingung, seolah tidak mengerti apa yang sedang dia lihat.

Ada sesuatu yang familiar dari postur tubuh itu, dari cara bahunya yang sedikit miring, dari—

Pria itu menoleh.

Dunia berhenti.

Maya merasakan kotak oatmeal jatuh dari tangannya, tapi suara benturannya dengan lantai terdengar sangat jauh. Darahnya berdesir kencang di telinga. Napasnya tersangkut di tenggorokan.

Mata cokelat gelap itu. Mata yang sama yang dulu menatapnya dengan cinta di perpustakaan USC. Mata yang sama yang tersenyum dalam foto di Observatorium Griffith. Mata yang sama yang dia lihat setiap malam dalam mimpi selama lima tahun terakhir.

Tapi bukan mata yang sama.

Mata ini kosong. Cekung. Dikelilingi kerutan prematur dan lingkaran hitam yang dalam. Ada bekas luka tipis di pipi kirinya, memanjang dari pelipis hingga dekat mulut. Wajahnya lebih kurus, tulang pipinya menonjol tajam. Kulitnya pucat dengan warna kecoklatan yang tidak sehat, seperti orang yang terlalu lama tidak melihat matahari.

“Rahan?”

Namanya keluar sebagai bisikan serak yang nyaris tidak terdengar.

Pria itu—Rahan—terfokus pada suara itu. Matanya yang kosong bergerak perlahan, mencari sumber suara, lalu bertemu dengan mata Maya. Untuk sesaat, tidak ada pengenalan. Hanya kebingungan. Lalu, perlahan, seperti kabut yang terangkat, sesuatu berkilat di matanya.

“Maya?” Suaranya parau, serak, seperti tidak terpakai untuk berbicara lembut dalam waktu yang sangat lama.

Maya tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga dia yakin seluruh toko bisa mendengarnya. Tangannya secara refleks bergerak ke perutnya yang membuncit, gesture pelindung yang tidak luput dari mata Rahan.

Matanya turun ke perut Maya. Lalu ke cincin kawin di jari manisnya. Lalu ke Ethan yang sedang sibuk memilih cereal, tidak menyadari drama yang sedang berlangsung tiga meter darinya.

Realitas menghantam Rahan seperti pukulan fisik. Wajahnya berubah—dari bingung, ke shock, ke pemahaman yang menyakitkan, lalu ke sesuatu yang terlihat seperti… kehancuran yang terkendali.

Pertemuan

“Tuhan…” gumam Rahan, suaranya bergetar. “Maya… kau…”

Maya tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga dia yakin seluruh toko bisa mendengarnya.

“Rahan?” Namanya keluar sebagai bisikan serak.

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Dua orang yang dulu saling mengenal lebih baik dari siapa pun, sekarang menjadi orang asing.

“Mama?” Ethan menarik ujung dress Maya. “Kenapa kamu diam aja?”

Maya melihat ke bawah, kemudian ke mata cokelat David yang menatap dengan polos dari wajah Ethan. Dunia berputar.

Rahan mengikuti arah pandangan Maya. Matanya berhenti di cincin kawin, lalu ke Ethan, lalu ke perut yang membuncit. Maya melihat sesuatu mati di matanya.

“Ini…” Rahan menelan ludah. “Anakmu?”

Maya hanya bisa mengangguk.

“Mama, dia siapa?” Ethan bertanya dengan kepolosan anak-anak.

“Dia…” Maya tergagap. “Teman lama Mama.”

Rahan berjongkok perlahan, menyejajarkan dirinya dengan tinggi Ethan. Gerakan itu terlihat sakit, kaku. “Halo,” katanya lembut, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ada sedikit kehangatan di suaranya. “Namamu Ethan?”

Ethan mengangguk. “Ethan Morgan. Mama, dia kenapa matanya sedih?”

Pertanyaan polos itu membuat Maya ingin menangis. “Dia… dia sedang rindu sama seseorang,” jawabnya dengan susah payah.

Rahan tersenyum—senyum yang retak dan pahit. “Itu benar. Aku sangat rindu seseorang.” Matanya bertemu Maya lagi. “Tapi ternyata dia sudah tidak menungguku lagi.”

Dialog Inti

Maya merasa kakinya lemas. Dia bersandar ke troli untuk menopang diri. “Rahan… aku… mereka bilang kau mati. Aku menunggu tiga tahun. Tiga tahun aku…” Suaranya putus. “Aku tidak bisa terus menunggu mayat.”

“Aku tahu.” Rahan berdiri lagi dengan susah payah. “Aku tidak menyalahkanmu, May. Aku… aku melihat cincin itu. Dan dia.” Dia menunjuk Ethan dengan dagu. “Dan…” Matanya turun ke perut Maya lagi. “Kau sedang hamil lagi.”

Kata-kata itu bukan tuduhan, tapi pernyataan fakta yang menyakitkan. Maya mengangguk, air mata akhirnya mengalir di pipinya.

“Berapa lama?” tanya Rahan. “Berapa lama setelah aku ‘mati’ sebelum kau menikah lagi?”

Maya bisa mendengar rasa sakit di balik pertanyaan itu. “Empat tahun. Aku bertemu David dalam terapi. Dia… dia juga kehilangan seseorang dalam perang yang sama. Kami… kami membantu satu sama lain untuk sembuh.”

“David.” Rahan mengulang nama itu seperti sedang mencoba memahami kata asing. “Dia ayah dari…” Dia melirik Ethan.

“Ya.”

“Dan suamimu.”

“Ya.”

Rahan mengangguk perlahan, seolah menyerap informasi yang menghancurkan sistemnya. “Jadi kau… bahagia?”

Pertanyaan itu terasa seperti pisau. Maya menatap mata cokelat yang dulu dia kenal begitu baik, yang sekarang terlihat seperti milik orang asing yang hancur.

“Aku…” Maya tergagap. “Aku mencintai keluargaku. David adalah pria yang baik. Ethan adalah berkah. Bayi ini…” Dia menyentuh perutnya lagi. “Tapi Rahan… aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Tidak pernah. Aku hanya… aku harus belajar hidup dengan kehilanganmu.”

“Tapi aku tidak hilang.” Suara Rahan bergetar. “Aku di sini. Aku pulang, May. Seperti yang aku janjikan.”

“Kau pulang … sangat terlambat,” bisik Maya, suaranya hancur.

Ethan, yang semakin tidak nyaman dengan atmosfer berat di sekitarnya, menarik tangan Maya lagi. “Mama, aku mau pulang. Kapan Papa datang jemput kita?”

Kata “Papa” membuat Rahan mundur selangkah, seolah ditampar.

“Bentar lagi, sayang,” kata Maya, mengusap kepala Ethan dengan tangan yang gemetar. “Mama harus selesai ngomong sama teman lama dulu.”

“Teman lama yang sedih itu?”

“Ya.”

Rahan berjongkok lagi, menatap Ethan dengan intensitas yang membuat Maya tidak nyaman. “Ethan,” katanya lembut. “Kau sayang sama mama kamu?”

“Iya dong! Mama paling baik sedunia!”

“Dan papa kamu?”

“Papa juga! Papa bisa masak pancake bentuk Mickey Mouse!”

Rahan tersenyum—senyum yang penuh dengan kesedihan yang tidak terungkap. “Kau beruntung punya keluarga yang sayang sama kamu.”

“Iya! Oh, Mama,” Ethan tiba-tiba teringat sesuatu. “Papa bilang nanti malam kita mau nonton film bareng! Yang ada robot-robotnya!”

Maya melihat bagaimana setiap kata Ethan tentang David menusuk Rahan seperti jarum halus. Dia ingin menghentikan putranya, tapi juga tidak tahu bagaimana tanpa membuat scene yang lebih besar.

“Keluarga yang sempurna,” gumam Rahan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada mereka.

“Rahan…” Maya mencoba mendekat, tapi Rahan mundur.

“Tidak, Maya. Aku… aku mengerti.” Dia menarik napas dalam yang terdengar sakit. “Aku melihatmu dengan mereka. Cara kau menyentuh perut itu. Cara anak itu memanggilmu ‘Mama’ dengan mata berbinar. Cara dia bicara tentang ‘Papa’ dengan cinta yang murni.” Suaranya bergetar. “Kau bukan Maya yang dulu aku kenal di perpustakaan. Kau… kau sudah jadi ibu. Istri. Kau punya hidup yang utuh.”

“Tapi aku masih—”

“Dan aku?” Rahan memotong. “Aku masih terjebak di 2031. Masih pria berusia dua puluh dua tahun yang berjanji akan pulang ke kekasihnya. Tapi kekasih itu sudah tidak ada. Yang ada adalah wanita dewasa dengan keluarga dan kehidupan yang tidak memiliki ruang untukku.”

Maya menangis terisak sekarang. “Jangan bilang begitu. Jangan…”

“Mama, kenapa nangis?” Ethan panik, memeluk kaki Maya. “Teman Mama kenapa bikin Mama sedih?”

Rahan melihat bagaimana Ethan spontan melindungi ibunya, dan sesuatu dalam wajahnya hancur total. “Aku tidak bermaksud buat mama kamu sedih,” katanya kepada Ethan. “Aku cuma… kangen banget sama mama kamu. Dulu, sebelum kamu lahir, mama kamu adalah sahabat terbaik aku.”

“Ohh…” Ethan mengangguk dengan pemahaman anak-anak. “Kayak Mama kangen Nenek yang sudah di surga?”

“Ya,” jawab Rahan, suaranya nyaris putus. “Persis seperti itu.”

Detik-Detik Terakhir

Maya merasakan dunianya runtuh dan terbentuk ulang dalam hitungan menit. Lima tahun terakhir—pernikahan dengan David, kelahiran Ethan, kebahagiaan yang susah payah dibangun—tiba-tiba terasa rapuh.

Tapi kemudian dia melihat Ethan yang bersandar di kakinya, merasakan gerakan bayi di perutnya, mengingat David yang sedang menunggu di rumah dengan dinner yang sudah dia siapkan. Kehidupan nyata. Kehidupan yang dia pilih dan bangun dengan susah payah.

“Rahan,” katanya akhirnya, suaranya lebih mantap. “Aku mencintaimu. Akan selalu mencintai. Tapi aku tidak bisa… aku tidak bisa kembali menjadi gadis berusia dua puluh satu tahun yang menunggumu di apartemen kosong. Aku sudah jadi orang lain. Ibu. Istri. Dan mereka membutuhkanku.”

Rahan mengangguk perlahan. “Aku tahu.” Dia menatap Ethan sekali lagi. “Dia anak yang beruntung. Punya mama yang kuat.”

“Dan kau?” tanya Maya. “Apa rencana kamu sekarang?”

Rahan mengangkat bahu—gesture yang familiar tapi sekarang terlihat sangat lelah. “Aku tidak tahu. Mencari apartemen. Mungkin… terapi. Mungkin mencoba hidup di dunia yang sudah berubah lima tahun tanpa aku.”

“Rahan…”

“Tidak apa-apa, May.” Dia mundur selangkah lagi. “Kau sudah memberiku jawaban yang aku butuhkan. Kau hidup. Kau bahagia. Kau… dicintai.” Kata terakhir itu keluar dengan susah payah. “Itu yang paling penting.”

Dia berbalik untuk pergi, tapi Maya memanggilnya sekali lagi. “Rahan!”

Dia menoleh.

“Aku… aku senang kau hidup. Aku senang kau pulang. Meskipun…”

“Meskipun terlambat beberapa tahun?”

Maya mengangguk, air mata masih mengalir.

Rahan tersenyum—senyum yang hancur tapi tulus. “Aku juga senang kau hidup, May. Dan aku senang kau tidak menungguku selamanya.”

Dia berjalan menjauh dengan langkah pincang, meninggalkan Maya berdiri di lorong sereal dengan Ethan yang masih bingung dan kotak cereal berwarna-warni yang berserakan di sekitar kaki mereka.

“Mama,” kata Ethan pelan. “Teman Mama itu tidak akan ketemu kita lagi, ya?”

Maya menatap punggung Rahan yang menghilang di balik rak-rak tinggi. “Mungkin tidak, sayang. Mungkin tidak.”

BABAK VI: DILEMA MORAL

Perjalanan Pulang yang Sunyi

Maya duduk di bangku belakang taksi dengan Ethan yang tertidur di pangkuannya, kepala kecil anak itu bersandar di perut yang membuncit. Belanjaan mereka—yang akhirnya harus diselesaikan dengan tergesa-gesa setelah kejadian di lorong sereal—teronggok di bagasi. Supir taksi sesekali melirik melalui kaca spion, melihat wanita hamil yang menangis dalam diam dengan anak yang tertidur.

Mata Maya menatap kosong ke jalanan Los Angeles yang ramai, tapi pikirannya terjebak di Sunny Mart. Wajah Rahan—kurus, tua sebelum waktunya, mata yang kosong namun masih familiar—terputar ulang dalam benaknya seperti film yang rusak.

Sembilan tahun di penjara Iran. Kata-kata itu bergema. Sementara dia menikah dengan David, melahirkan Ethan, membangun kehidupan baru, Rahan berada dalam sel sempit di negeri asing, mungkin disiksa, mungkin sakit, mungkin setiap hari bertanya-tanya apakah dia akan hidup untuk melihat esok hari.

Rasa bersalah menghantamnya seperti tsunami. Bukan rasa bersalah karena menikah dengan David—itu keputusan yang tepat berdasarkan informasi yang dia miliki. Tapi rasa bersalah karena… karena dia bahagia. Karena ada malam-malam dia tidak memikirkan Rahan sama sekali. Karena ada hari-hari ketika foto Rahan di meja kerjanya terlupakan di balik tumpukan pekerjaan rumah siswa.

Ponselnya bergetar. Pesan dari David: “Hey love, dinner almost ready. Ethan’s favorite mac and cheese! How was grocery shopping? ❤️

Maya menatap pesan itu dengan campuran cinta dan panik. Bagaimana dia akan memberitahu David? Bagaimana dia akan menjelaskan bahwa hantu yang telah membentuk awal hubungan mereka ternyata bukan hantu sama sekali?

Rumah yang Tidak Lagi Terasa Aman

Rumah kecil Craftsman di Silver Lake terlihat sama seperti biasa—cat biru muda yang hangat, taman kecil dengan bunga lavender yang mulai layu karena musim panas, dan cahaya kuning yang ramah dari jendela dapur. David terlihat melalui jendela, sedang mengaduk sesuatu di atas kompor, sesekali menari kecil mengikuti musik yang terdengar samar.

Maya berdiri di depan pintu dengan Ethan yang masih tertidur di gendongannya dan kantong belanjaan di tangan lainnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, rumah ini tidak terasa seperti tempat berlindung. Terasa seperti… kebohongan yang indah.

“Maya?” David membuka pintu, senyumnya langsung memudar ketika melihat wajah istrinya. “Hey, apa yang terjadi? Kau terlihat seperti baru melihat hantu.”

Ironi dari kata-kata itu membuat Maya hampir tertawa histeris. “Bisa kau ambil belanjaan? Aku mau menidurkan Ethan dulu.”

David mengambil kantong belanjaan, matanya tidak lepas dari wajah Maya. “May, kau menangis. Ada apa?”

“Nanti. Setelah Ethan tidur.”

Menidurkan Ethan

Kamar Ethan masih berantakan dengan mainan Lego dan buku-buku cerita. Maya memandikan dan mengganti pakaiannya dengan gerakan otomatis, pikirannya melayang jauh. Ethan, yang masih mengantuk, tidak banyak bicara.

“Mama,” katanya saat Maya menyelimuti tubuh kecilnya. “Teman Mama tadi itu kenal aku dari waktu aku masih bayi?”

Maya terdiam. “Kenapa kamu tanya?”

“Dia lihat aku kayak… kayak dia udah lama kenal aku. Tapi aku baru ketemu dia hari ini.”

“Mungkin kamu mengingatkannya pada seseorang.”

“Siapa?”

Maya mengusap rambut ikal Ethan. “Seseorang yang sangat dia sayangi.”

“Kayak aku sayang Mama dan Papa?”

“Iya, sayang. Persis seperti itu.”

Ethan menguap. “Mama, kalau Papa tiba-tiba hilang lama banget terus ketemu kita lagi, Mama akan tetap sayang Papa kan?”

Pertanyaan polos itu menusuk jantung Maya. “Tentu saja.”

“Terus gimana sama aku dan adik bayi?”

“Mama akan tetap sayang kalian juga.”

“Jadi semua orang bisa disayang bareng-bareng?”

Maya mencium dahi Ethan. “Iya, sayang. Tapi kadang… kadang hidup tidak sesederhana itu.”

Konfrontasi dengan David

David sedang duduk di sofa ruang tamu ketika Maya turun, dua cangkir teh chamomile di meja kopi. Wajahnya khawatir tapi sabar—ekspresi yang sudah familiar untuk Maya. Ekspresi terapis yang baik dan suami yang pengertian.

“Ethan tidur?” tanya David.

Maya mengangguk, duduk di ujung sofa, tidak dalam pelukan David seperti biasanya. “David, ada yang harus aku ceritakan.”

David meletakkan cangkirnya. “Aku mendengarkan.”

Maya menarik napas dalam. Tidak ada cara mudah untuk mengatakan ini. “Hari ini… di Sunny Mart… aku bertemu Rahan.”

Keheningan. David menatapnya seolah tidak mengerti bahasa yang dia gunakan.

“Bertemu…” ulang David perlahan. “Maksudmu dalam arti…?”

“Dalam arti dia hidup, David. Dia tidak mati di Kermanshah. Dia ditawan selama sembilan tahun dan baru dibebaskan beberapa bulan lalu.”

David sedang memunggungi Maya di jendela ketika dia menceritakan semuanya. Bahunya tegang.

“Berapa lama?” tanya David tanpa berbalik.

“Apa?”

“Berapa lama setelah kau ‘kehilangannya’ sebelum kau bisa tidur tanpa menangis? Sebelum kau bisa melihat pasangan lain tanpa iri? Sebelum kau bisa…” David berbalik, matanya basah. “Sebelum kau bisa mencintaiku?”

Maya merasakan dadanya sesak. “David…”

“Butuh waktu lama untuk kau siap mencintai lagi.” David duduk berat di kursi. “Dan hari ini, dalam lima menit di lorong supermarket, semua itu…”

“Tidak hilang,” bisik Maya. “Tapi terguncang.”

David tertawa pahit. “Setidaknya kau jujur.”

“Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Aku hanya tahu aku tidak ingin kehilangan keluarga ini.”

“Tapi kau juga tidak ingin kehilangan kesempatan untuk…” David tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Untuk apa?”

“Untuk kembali pada cinta pertamamu yang ‘sesungguhnya’.” Kata-kata itu keluar dengan pahit.

Maya diam. Karena sebagian dari hatinya bertanya hal yang sama.

“Dia masih mencintaimu,” lanjut David. “Dan kau masih mencintainya.”

“David—”

“Jangan bohong, Maya. Bukan padaku, bukan pada dirimu sendiri.” David duduk di kursi berhadapan dengannya, tidak di sofa yang sama. “Selama tiga tahun kita bersama, aku selalu tahu bahwa aku berbagi tempat di hatimu dengan hantu. Aku bisa menerima itu karena hantu tidak bisa kembali. Tapi sekarang…”

“Sekarang apa?”

“Sekarang hantu itu punya wajah, punya suara, punya… kemungkinan.”

Maya merasa dunianya berputar. “David, aku mencintaimu. Aku mencintai keluarga kita.”

“Aku tahu.” David menyeka wajahnya dengan tangan. “Dan itu yang membuatnya lebih rumit. Kalau kau tidak mencintaiku, keputusannya akan mudah. Tapi kau mencintai kami berdua, kan?”

Maya tidak bisa menjawab karena jawabannya akan menghancurkan hati David.

“Maya, jawab aku dengan jujur,” kata David, suaranya bergetar. “Kalau Rahan tidak pernah pergi ke perang, kalau dia ada di sini ketika kita bertemu, apakah kau akan memilihnya daripada aku?”

“Itu bukan pertanyaan yang adil.”

“Tapi itu pertanyaan yang harus dijawab.”

Maya menatap tangannya yang berpelukan di pangkuan. “Mungkin. Aku tidak tahu. Tapi David, itu hipotesis. Kenyataannya adalah aku memilihmu. Aku menikahi kamu. Aku hamil anak kamu.”

“Karena kau pikir dia sudah mati.”

“Tapi dia tidak mati! Dan sekarang aku harus hidup dengan kenyataan itu!”

Maya bangkit, berjalan ke jendela. Taman kecil mereka terlihat damai di bawah cahaya bulan. “David, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku. Aku hanya tahu bahwa aku tidak ingin kehilangan keluarga ini.”

David mendekat, berdiri di belakangnya. “Tapi kau juga tidak ingin kehilangan dia lagi.”

Maya menangis. “Aku merasa seperti monster. Aku punya suami yang baik, anak yang sempurna, hidup yang stabil. Dan kemudian masa lalu datang dan membuatku mempertanyakan semuanya.”

“Kau bukan monster, May. Kau manusia. Dengan perasaan yang rumit dan sejarah yang rumit.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

David terdiam lama. “Aku tidak tahu. Tapi aku tahu bahwa aku tidak bisa pura-pura ini tidak terjadi. Dan aku tidak bisa memintamu untuk pura-pura kau tidak mencintainya.”

Malam yang Panjang

Mereka tidak tidur di kamar yang sama malam itu. Bukan karena marah, tapi karena keduanya butuh ruang untuk berpikir. Maya berbaring di kamar tamu, menatap langit-langit, sementara David di kamar utama melakukan hal yang sama.

Sekitar jam dua pagi, Maya mendengar langkah kaki. David muncul di ambang pintu.

“Aku tidak bisa tidur,” katanya.

“Aku juga.”

David masuk, duduk di tepi tempat tidur. “Maya, aku akan mengatakan sesuatu, dan aku ingin kau mendengarkan sampai selesai.”

Maya duduk, mempersiapkan diri.

“Aku mencintaimu,” kata David. “Aku mencintai Ethan seperti dia anak kandungku sendiri. Aku mencintai bayi yang ada di perutmu. Aku mencintai hidup yang kita bangun bersama.” Dia berhenti, mengambil napas dalam. “Tapi aku juga tidak mau hidup dengan istri yang selalu bertanya-tanya ‘bagaimana kalau’. Aku tidak mau anak-anakku tumbuh dalam rumah yang dipenuhi penyesalan yang tidak terucap.”

Maya merasakan jantungnya tenggelam. “Apa yang kau katakan?”

“Aku katakan bahwa mungkin… mungkin kau perlu berbicara dengannya. Dengan Rahan. Benar-benar berbicara. Tidak hanya pertemuan singkat di lorong supermarket.”

“David—”

“Tidak, dengarkan. Kalian berdua terjebak dalam mimpi tentang masa lalu. Kau terjebak dalam kenangan tentang pria berusia dua puluh dua tahun yang penuh impian. Dia terjebak dalam kenangan tentang gadis dua puluh satu tahun yang menunggunya. Kalian perlu melihat siapa kalian sekarang. Siapa kalian saat ini.”

“Dan kalau setelah itu aku memutuskan…”

“Kalau kau memutuskan bahwa kau lebih mencintainya daripada aku?” David tersenyum pahit. “Maka setidaknya aku tahu. Setidaknya aku tidak hidup dalam ketidakpastian.”

Maya meraih tangan David. “Aku tidak ingin kehilanganmu.”

“Dan aku tidak ingin kehilanganmu juga. Tapi May, kalau kau tinggal bersamaku hanya karena kewajiban, karena anak-anak, karena kau merasa bersalah… itu bukan cinta. Itu perangkap.”

Keputusan

Keesokan paginya, saat Ethan sedang nonton kartun sambil sarapan, David dan Maya duduk di teras belakang dengan kopi pagi mereka. Udara Los Angeles masih sejuk, burung-burung berkicau di pohon jacaranda tetangga.

“Aku akan mencarinya,” kata Maya akhirnya. “Aku akan berbicara dengannya. Benar-benar berbicara.”

David mengangguk. “Aku akan menjaga Ethan. Dan kalau kau… kalau kau memutuskan untuk…”

“David, stop. Jangan buat keputusan untuk aku. Aku hanya akan berbicara dengannya. Mencari tahu siapa dia sekarang. Mencari tahu siapa aku ketika bersamanya.”

“Dan kemudian?”

“Kemudian aku akan membuat keputusan yang terbaik untuk semua orang. Termasuk bayi ini.” Maya menyentuh perutnya. “Dia berhak punya ibu yang tidak hidup dalam penyesalan.”

David mencium dahinya. “Kau wanita terkuat yang aku kenal, Maya Foster-Morgan. Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersyukur telah mencintaimu.”

“Jangan bicara seperti ini sudah berakhir.”

“Aku tidak bilang berakhir. Aku bilang… kita akan lihat.”

BABAK VII: RESOLUSI

Mencari Rahan

Maya menghabiskan tiga hari mencari Rahan. Dia pergi ke kantor veteran affairs, menelepon rumah sakit, bahkan menghubungi Helen dari kelompok pendukung lama untuk bertanya apakah ada veteran yang baru pulang dari tahanan luar negeri yang bergabung dengan grup mereka.

Akhirnya, dia menemukannya di tempat yang tak terduga: perpustakaan umum kecil di downtown LA. Dia duduk di sudut yang sepi, membaca koran dengan intensitas yang berlebihan, seolah berita-berita itu adalah hal paling penting di dunia.

“Rahan?”

Dia mendongak. Masih mata yang sama—kosong, lelah, tapi kali ini ada sedikit kejutan. “Maya. Bagaimana kau menemukanku?”

“Aku mencari. Boleh aku duduk?”

Rahan mengangguk, menutup korannya. Maya duduk di kursi berhadapan, memperhatikan bagaimana tangannya gemetar sedikit ketika meraih gelas kopi yang sudah dingin.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Maya.

“Baik,” jawab Rahan otomatis, lalu tersenyum pahit. “Bohong. Aku tidak baik. Aku tidur di motel murahan, makan ramen instan, dan mencoba memahami dunia yang berubah dalam tahun tahun tanpaku.”

“Rahan…”

“Kau tahu yang paling menyakitkan?” kata Rahan setelah mereka duduk diam selama sepuluh menit. “Bukan fakta bahwa kau menikah. Bukan fakta bahwa kau hamil lagi.”

Maya menunggu.

“Yang paling menyakitkan adalah melihat betapa… sempurnanya kalian. Cara anakmu menatapmu. Cara kau menyentuh perutmu. Kau tidak terlihat seperti wanita yang hidup dengan penyesalan.”

“Karena aku tidak hidup dengan penyesalan,” kata Maya pelan. “Sampai hari ini.”

“Dan sekarang?”

Maya menatap tangannya. “Sekarang aku tidak tahu.”

Rahan tertawa miris. “Aku datang ke sini berharap menemukan gadis yang dulu menungguku. Yang kutemukan adalah wanita yang sudah tidak membutuhkanku.”

“Aku selalu membutuhkanmu. Tapi kebutuhan dan kenyataan adalah dua hal yang berbeda.”

“Jadi apa sekarang, May? Aku pulang. Seperti yang dulu kujanjikan.”

Maya merasakan air mata di pipinya. “Kau pulang ke masa lalumu, Rahan. Dan aku sudah membangun rumah baru.”

Percakapan yang Sesungguhnya

Mereka menghabiskan empat jam di perpustakaan itu, berbicara dengan bisikan di antara rak-rak buku. Rahan menceritakan sembilan tahun di penjara—isolasi, interogasi, keputusasaan. Bagaimana dia selamat dengan mengingat wajah Maya, dengan membayangkan kehidupan yang akan mereka bangun bersama.

Maya menceritakan tiga tahun kesedihannya, bagaimana dia bertemu David, bagaimana perlahan-lahan dia belajar mencintai lagi tanpa melupakan cinta pertamanya.

“Kau tahu yang paling ironis?” kata Rahan. “Selama bertahun-tahun itu, aku bermimpi tentang pulang. Tentang menemukanmu menunggu. Dan ketika aku akhirnya bebas, hal pertama yang kulakukan adalah pergi ke apartemen lamamu. Kosong. Pemilik baru bilang kau sudah pindah tiga tahun lalu.”

“Aku tidak tahan tinggal di sana. Terlalu banyak kenangan.”

“Jadi aku pergi ke USC. Mencari di perpustakaan tempat kita pertama bertemu. Bertanya pada pustakawan. Mereka tidak tahu kemana kau pergi.” Rahan tersenyum sedih. “Aku habiskan berminggu-minggu mencarimu. Dan ketika aku menyerah, ketika aku mulai berpikir mungkin ini takdir, aku melihatmu di lorong sereal dengan kehidupan yang sempurna.”

“Kehidupanku tidak sempurna, Rahan.”

“Lebih sempurna daripada apapun yang bisa kutawarkan sekarang.”

Maya menatap pria di hadapannya—pria yang dulu dia kenal, tapi juga orang asing. “Siapa kau sekarang?” tanya Maya. “Bukan pria berusia dua puluh dua yang pergi berperang. Siapa kau hari ini?”

Rahan terdiam lama. “Aku pria yang bangun berteriak hampir setiap malam. Yang tidak bisa berada di keramaian tanpa merasa panik. Yang makan ramen karena tidak bisa memegang pekerjaan tetap.” Dia menatap Maya. “Aku pria yang tidak bisa memberikan kehidupan yang kau butuhkan.”

“Dan aku bukan gadis yang bisa menunggu sambil kau menyembuhkan diri.”

“Tidak. Kau seorang ibu. Dengan tanggung jawab yang lebih besar dariku.”

Maya mengangguk. “Mungkin… mungkin timing kita memang tidak pernah tepat.”

“Atau mungkin timing kita dulu tepat. Dan sekarang kita harus membiarkan itu cukup.”

“Kau memilih David.”

“Aku memilih keluargaku. Aku memilih stabilitas untuk anak-anakku. Aku memilih cinta yang tumbuh dari kematangan, bukan dari nostalgia.”

Rahan mengangguk perlahan. “Dan aku… aku harus belajar hidup dengan itu.”

Perpisahan yang Sebenarnya

Mereka berjalan keluar perpustakaan bersama-sama, langkah yang pelan dan berat. Di parkiran, mereka berhenti di samping mobil Maya.

“Rahan,” kata Maya. “Aku ingin kau tahu… mencintaimu adalah hal terindah yang pernah terjadi padaku. Kau mengajariku bagaimana rasanya dicintai sepenuh hati. Dan itu yang membuatku bisa mencintai David, mencintai anak-anakku.”

“Kau tidak perlu berterima kasih padaku untuk itu.”

“Bukan terima kasih. Aku ingin kau tahu bahwa cinta kita tidak sia-sia. Bahwa itu mengubahku menjadi orang yang lebih baik.”

Rahan tersenyum—senyum pertama yang tulus sejak mereka bertemu lagi. “Kau juga mengubahku. Bahkan di penjara, ketika semuanya gelap, mengingat cinta itu yang membuatku tetap hidup.”

“Jadi apa sekarang?”

“Sekarang aku mencari bantuan. Terapi untuk PTSD. Mungkin program rehabilitasi veteran. Aku akan belajar hidup di dunia ini lagi.”

“Dan aku?”

“Dan kau kembali pada suami yang mencintaimu dan anak-anak yang membutuhkanmu. Kau hidup dengan penuh, seperti yang selalu kulakukan dalam penjara—dengan mengingat cinta, bukan kehilangan.”

Maya memeluk Rahan untuk terakhir kalinya. Pelukannya berbeda dari pelukan terakhir mereka bertahun lalu—tidak putus asa, tidak penuh janji. Ini pelukan perpisahan yang sesungguhnya.

“Aku akan selalu mencintaimu,” bisik Maya.

“Dan aku akan selalu mencintaimu,” balas Rahan. “Tapi sekarang aku akan mencintaimu dengan melepaskanmu.”

Kembali ke Rumah

Maya pulang ke rumah di Silver Lake saat matahari mulai terbenam. David dan Ethan sedang bermain Lego di ruang tamu, musik lembut mengalir dari speaker. Ketika Maya masuk, Ethan berlari memeluk kakinya.

“Mama! Papa buatin istana Lego! Mau lihat?”

“Tentu, sayang.”

David berdiri, menatap wajah Maya. “Bagaimana?”

“Nanti,” kata Maya pelan. “Setelah Ethan tidur.”

Malam itu, setelah membacakan dongeng untuk Ethan dan memastikan dia tertidur nyenyak, Maya dan David duduk di teras belakang. Bintang-bintang mulai muncul di langit Los Angeles yang jarang jernih.

“Aku memilihmu,” kata Maya tanpa basa-basi. “Aku memilih kita. Memilih keluarga ini.”

David menghela napas yang sepertinya dia tahan selama berhari-hari. “Karena kewajiban?”

“Karena cinta. Karena aku menyadari bahwa mencintai kenangan dan mencintai orang yang nyata adalah dua hal yang berbeda. Aku mencintai kenangan tentang Rahan dan aku di masa lalu. Tapi aku mencintai kamu di masa sekarang. Dan masa depan.”

David meraih tangan Maya. “Dan Rahan?”

“Rahan akan mencari bantuan. Dia akan sembuh. Dan suatu hari, dia akan menemukan kebahagiaan dengan cara yang berbeda.”

“Apa kau yakin?”

Maya meletakkan tangan David di perutnya yang membuncit, merasakan tendangan kecil dari dalam. “Aku yakin bahwa hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan dengan menyesal. Aku yakin bahwa cinta sejati kadang berarti melepaskan. Dan aku yakin bahwa keluarga ini—kamu, aku, Ethan, bayi ini—adalah pilihan terbaik yang pernah kubuat.”

David menciumnya—ciuman yang lembut, penuh rasa lega, penuh cinta yang telah diuji.

Epilog – Dua Tahun Kemudian

Maya menemukan kartu pos di antara tagihan. Tidak ada alamat pengirim, tapi dia langsung mengenali tulisan tangannya.

Maya,

Aku lihat fotomu di koran—Teacher of the Year. Aku tersenyum. Kau selalu destined untuk hal-hal besar.

Aku sekarang di Oregon. Punya bengkel kecil. Ikut group therapy veteran dua kali seminggu. Masih ada mimpi buruk, tapi tidak setiap malam.

Terima kasih telah mengajariku bahwa mencintai kadang berarti melepaskan. Kau memilih dengan benar.

Hidup dengan penuh, May. Untuk kita berdua.

R

P.S. Semoga putrimu punya kekuatan ibunya.

Maya tersenyum sambil menunjukkan kartu itu pada David yang sedang menggendong Aria.

“Dia akan baik-baik saja,” kata David.

“Kita semua akan baik-baik saja,” jawab Maya.

Dan untuk pertama kalinya, dia benar-benar percaya itu.

THE END

Cinta sejati bukan tentang memiliki, tapi tentang melepaskan ketika saatnya tiba. Tentang memilih kebahagiaan yang nyata daripada nostalgia yang indah. Tentang memahami bahwa kadang, ending terbaik bukanlah yang kita impikan, tapi yang kita butuhkan.